
Hari ini bersejarah dalam hidupku, ketika akhirnya mimpi yang telah lama aku harapkan akhirnya tercapai juga. Novel yang kutulis telah jadi buku, dengan sampul berwarna biru muda. Selain sudah punya buku, tentu saja bonus fee yang kudapatkan membuat senyum sumringah.
Setelah menyelesaikan semua urusan, aku langsung ke mall yang ada di pusat kota Depok. Sebelum menuju tempat makan, tidak lupa aku mampir ke ATM untuk menarik sejumlah uang.
"Alhamdulillah!" berulang kali aku mengucapkan syukur melihat nominal yang ditransfer, hasil menulis satu novel yang memang sengaja aku beli putus sebab rencananya dana tersebut akan kugunakan untuk menyicil hutang pada mbak Hana dan juga biaya melahirkan nantinya meski sebenarnya Ben sudah menyiapkan semuanya.
Keluar dari ATM, aku langsung ke salah satu restoran cepat saji. Di sana sudha ada ibu, Caca dan Cici, Ben, mbak Hana dan suaminya. Aku memang sengaja mengundang mereka semua datang ke sini untuk merayakan keberhasilan ku dalam meraih satu mimpi.
"Mama!" teriak Caca dan Cici.
"Duh, maaf ya, aku terlambat!" kataku, lalu segera memesan menu makanan setelah bertanya pada masing-masing orang.
Kami makan sambil berbincang-bincang, sesekali terdengar suara gelak tawa sebab celoteh Caca. Kadang juga bersahut-sahutan dengan mbak Hana dan ibu. Sementara Cici dan para bapak hanya mendengar sambil tersenyum.
Untuk sesaat, aku merasa waktu berhenti. Satu-persatu wajah itu kutatap. Wajah orang-orang yang benar-benar berjasa dalam hidupku. Sikembar Caca dan Cici yang ditakdirkan Tuhan menjadi anakku. Mereka, meskipun usianya masih sangat muda, tetapi terpaksa dewasa karena punya ibu yang egois dan kekanak-kanakan seperti aku.
Ibu, perempuan yang sudah melahirkan aku, yang berjuang keras untuk hidupku, iapun harus merasakan susah karena ulahku. Ibu benar, aku hanya anak yang menyusahkan ya saja. Jangankan membalas kebaikannya, sekedar membuat ibu senang saja aku belum bisa.
Mbak Hana dan suaminya, mereka berdua, meskipun orang baru yang kukenal baru bebetaoa bukan belakang ini tapi sudah memberikan banyak warna dalam hidupku. Andai Tuhan tak menghadirkan mereka, mungkin hidupku masih berantakan. Tapi itulah baiknya Tuhan padaku, Dia mendatangkan mbak Hana yang sudah aku anggap seperti kakak kandung sendiri. Entah bagaimana caranya nanti membalas kebaikan mbak Hana.
Lalu Ben, lelaki baik hati yang sudah menikahiku. Berkorban banyak untuk membahagiakan aku, tapi ternyata aku malah menyia-nyiakan kebaikannya. Aku malah hendak pergi dari hidupnya. Keputusan yang akhirnya aku sesali sebab tak akan mungkin lagi bisa menemukan lelaki sebaik dirinya.
__ADS_1
Kini, satu-persatu wajah-wajah itu berada di dekatku. Rasanya tak ada lagi yang harus aku risaukan dalam hidup ini. Mereka akan memberikan warna ceria dalam hidupku.
Rasa haru ini tak bisa ku pungkiri hingga aku tak sanggip lagi menahan air mata. Ia luruh dengan sendirinya.
"Di, kamu kenapa?" tanya mbak Hana, diikuti oleh tatapan yang lainnya. "Apa ada yang salah? Atau perutnya sakit?"
"Nggak apa-apa, mbak." kataku, sambil memaksakan senyum meski air mata turun makin derasnya. Entahlah, kadang saat bahagia orang-orang juga bisa mengeluarkan air mata.
"Di, jangan begitu. Aku benar-benar khawatir ni." ungkap mbak Hana sambil memegang tanganku. "Apa yang sakit, Di?"
"Di ...." Ben ikut bicara.
"Kalau ada apa-apa bicara, Di." kata ibu dengan wajah tak kalah panik, takut terjadi sesuatu padaku.
Tak ingin menimbulkan keresahan di hati mereka, apalagi ini momen yang sangat bahagia untukku, makanya kujelaskan Semuanya. Aku menangis bukan karena sedih apalagi mengalami sakit. Aku baik-baik saja, hanya terharu dengan suasana.
"Mama nggak apa-apa, Ca. Benar, deh. Mama nangis bukan karena sedih apalagi marah. Mama terharu saja." kataku.
"Terharu?" Caca mengerutkan keningnya.
"Ya. Mama terharu sekaligus bersyukur. Sekarang mama baru menyadari bahwa Allah itu baik sekali sama mama karena sudah menjadikan mama sebagai anak nenek." kataku, semnetara ibu langsung mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk, lalu menatapku dengan dua bola mata yang berkaca-kaca. "Mama harus belajar sama Caca dan Cici, bagaimana jadi anak yang baik supaya mama bisq membahagiakan nenek."
__ADS_1
"Memangnya Caca dan Cici sudah membahagiakan mama?" kini Cici yang bertanya.
"Ya, Cici itu selalu membuat mama bahagia. Kalian berdua adalah salah satu sumber kebahagiaan mama. Makanya mama sangat bersyukur sekali dan ingin belajar dari kalian bagaimana caranya menjadi anak yang baik." ungkaku.
"Beneran? Bukannya kami sering bikin Mama kesal?" Caca balik bertanya. "Dulu kan mama sering marahin Caca sama Cici. Mama bilang kami selalu membuat masalah dan membuat mama marah. Iya, kan?"
"Nggak Ca, waktu itu mama salah. Mama belum sadar kalau kalian itu benar. Tapi sekarang mama sudah sadar makanya mama mau belajar sama Caca dan Cici. Bolehkan?" tanyaku.
"Tentu saja ma!" jawab Caca dan Cici serentak.
"Lalu Tuhan juga menghadirkan papa dalam hidup mama. Meskipun dulu mama sering marah-marah sama papa, bahkan nggak jarang membuat papa kesal, tapi papa tetap sabar menghadapi mama. Papa juga mau memaafkan mama dan sekarang hadir di sini. Mama benar-benar berterima kasih pada papa." kataku, sambil berusaha menyeka air mata yang terus saja menerobos. "Terimakasih Ben, maafin semua kesalahanku." pintaku, tanpa berani menatap kedua matanya sebab aku menyadari betapa banyak salahku padanya.
"Nggak apa-apa, Di. Kita lupakan yang lalu, sekarang jalani yang di hadapan kita saja. Seelah bayi kita lahir, semoga kita semua bisa berkumpul kembali." kata Ben.
"Caca dan Cici. Kalian berdua juga alasan mama untuk selalu bersyukur sama Allah. Kalian adalah anugerah yang luar biasa. Kalian itu nggak hanya anak mama, tapi juga guru untuk mama. Terimakasih ya nak." aku menatap mereka berdua. "Tante Hana dan om Hendri, adalah dua orang baik yang Allah kirimkan untuk membantu kita. Mama harap bisa membalas kebaikan mereka. Setelah beberapa kejadian yang mama alami, mama sempat tidak percaya siapapun lagi, tapi Tante Hana yang baik membuat mama menyadari bahwa tidak semua orang jahat di muka bumi ini, semua tergantung kita."
"Di," mbak Hana memelukku, ia ikut menangis.
"Tante Hana memang baik, persis ibu peri." celetuk Caca yang diikuti gelak tawa kami.
Kalau hari ini kamu merasa orang-orang di sekelilingmu tidak baik, percayalah, entah di bagian bumi mana, masih ada orang-orang baik yang siap untuk bertemu denganmu. Jangan menyerah dan jadilah salah satu orang baik itu untuk menebar kebaikan pada semuanya.
__ADS_1
"Mama!" Caca dan Cici langsung melompat dari tempat duduknya ke arahku, mereka ikut memelukku setelah mbak Hana melepaskan pelukannya. "Kami sayang mama!" ungkap Caca.