ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
78. Harus Lebih Kuat, Di.


__ADS_3

Tangisan Rizky membuatku tersadar. Cepat-cepat aku mengayunnya agar tangisannya tak berubah menjadi lebih kencang lagi. Tapi Rizky tetap menangis, mungkin ia bisa merasakan kesedihan ibunya yang sedang galau.


"Kita ke mobil saja. Mungkin Rizky mau minum asi." kata mbak Hana. "Sudah berapa jam Rizky nggak minum, kan? Haus banget pasti. Apalagi sedang tidak enak badan." mbak Hana menuntunku terus berjalan melewati lorong-lorong.


Berdua kami menuju parkiran. Masuk ke mobil mbak Hana. Hanya beberapa detik, Rizky sudah kembali diam, mengisi amunisi.


Bayi ini, biasanya kalau memandang wajahnya maka hatiku akan tenang. Tapi hari ini rasanya malah sedih sekali.


"Maafkan mama, nak." kataku, sambil menyolek pipinya yang sudah mulai gembul. Rasanya bersalah sekali pada bayi mungil ini, sebab sudah membuatnya menunggu lama di tempat yang seharusnya ia tak ada di sana.


"Mau makan dulu? Kayaknya kamu lapar, Di. Ibu menyusui nggak boleh kelaparan." kata mbak Hana. "


"Pulang saja ya mbak." ajakku. "Kasihan Caca dan Cici, pasti resah nungguin mamanya pulang. Takutnya mereka malah ngerepotin ibu." tambahku. Sebenarnya tadi sudah berencana untuk mentraktir mbak Hana sebagai ucapan terima kasih, tapi malah berita ini yang aku dapatkan, makanya lebih baik pulang saja. Tidak banyak uang yang aku bawa hari ini.


"Kalau begitu minum dulu, Di. Supaya Rizky nggak kekurangan asi." Mbak Hana menyodorkan botol air mineral.


"Terimakasih ya mbak. Maaf aku selalu merepotkan mbak." lagi-lagi aku jadi melow dan berakhir dengan air mata yang menetes tanpa permisi. Ahhh, Diandra, kenapa cengeng seklai sih! Tapi mau bagaimana lagi, tidak bisa kutepis kalau aku sedih sekali. Harapan yang benar-benar besar tapi harus hancur begitu saja. Bukan hanya naskah kedua, tapi untuk seterusnya aku tak bisa lagi menerbitkan karya di sana.


Ingin sekali marah pada yang namanya Tomo. Lelaki itu, sudah tak bertanggung jawab atas hidupku, menghancurkan masa depan ibu, kini ia juga ingin menghancurkan hidupku. Jahat sekali!


"Aku akan membalasnya!" pekikku dalam hati. "Ahhh tidak tidak. Kan ibu sudah mewanti-wanti untuk mengabaikannya, tapi kalau sudah begini bagaimana caranya bisa cuek?" aku terus berdebat dengan hatiku sendiri.


"Di, kamu nggak apa-apa, kan?" Tanya mbak Hana, sambil menoleh sebentar kepadaku, lalu fokus ke jalanan yang macet. Memang, siang seperti ini, jalanan dari Depok kota menuju Sawangan agak sedikit macet.


"Nggak apa-apa, mbak." Lagi-lagi kupaksakan senyum. Lalu beralih pada Rizky yang kembali terlelap.


Sepanjang perjalanan, aku dan mbak Hana tak banyak bicara. Apa yang ia katakan hanya kujawab satu-satu, selebihnya aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


Sampai di rumah, Ben rupanya juga sudah pulang. Ia sedang duduk di ruang tamu bersama ibu. Sepertinya baru saja membicarakan hal serius sebab raut wajahnya berubah kusut.


"Ben, kamu sudah pulang? Tumben cepat? Atau lagi dinas luar?" aku mendekat, mencium punggung tangannya dengan takzim, kemudian beralih ke ibu.


"Bagaimana urusan kamu, Di?" Ben memaksakan senyum. Ia menarik pelan tanganku agar mendekat ke arahnya.


"Sudah selesai. Kamu sendiri kok murung?" aku duduk di sebelahnya.


"Sebaiknya kalian bicara, biar Rizky ibu baringkan di kamar. Bayi ini pasti badannya lelah karena seharian di gendongan. Belum pernah diletakkan, kan Di?" ibu mengambil Rizky dariku, lalu masuk ke kamar.


"Di ... maafkan aku. Tapi kamu percaya kan kalau aku pasti berjuang untuk kamu dan anak-anak."


"Ya, aku percaya. Tapi kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Ada apa Ben?"


"Hm, aku minta kamu jangan kaget, apalagi marah-marah."


"Aku berhenti kerja."


"Apa? Kamu becanda kan Ben? Kamu nggak serius, kan? Memang benar aku pernah mengatakan agar kamu cari pekerjaan di tempat lain yang gajinya lebih besar, tapi nggak berhenti dadakan seperti ini. Kamu kan belum punya pekerjaan penggantinya, Ben. Kita enggak tahu berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan gantinya. Apalagi kita benar-benar nggak punya tabungan sedikitpun. Semuanya sudah habis untuk bayar hutang dan persiapan lahiran serta akikah Risky. Lalu bagaimana dengan biaya hidup kita ke depannya? Mana Caca dan Cici mau masuk SD. Butuh biaya yang tidak sedikit.


Pokoknya aku nggak mau tahu, Ben. Kamu kembali ke kantor sekarang juga. Minta maaf sama pimpinan kamu. Dia kan teman kamu. Kalian sudah dekat sekali. Kamu juga sangat loyal padanya. Katakan kamu sudah salah membuat keputusan. Tadi itu kamu khilaf. Atau kalau perlu kamu jual namaku dan sekarang kamu nyesal. Ayo Ben, bangkit dan segera kembali ke kantor!" Seperti orang yang kehilangan kendali, aku memaksa Ben agar segera kembali ke kantor. Kutarik-tarik kemejanya agar segera bangkit. Sementara Ben bertahan dengan susah payah.


Ben mencoba menarikku dalam pelukan. mungkin ia ingin menenangkan, tapi kutolak sebab hanya satu yang bisa membuatku tenang saat ini yaitu jika ia kembali ke pekerjaannya.


Kalau ia tak kembali, bisa-bisa kami mati kelaparan. Caca dan Cici tak akan bisa mendaftar sekolah SD.


Jujur, aku benar-benar pusing hari ini. Hatiku tidak karuan. Ditolak tadi saja sudah sakit. Sekarang malah ditambah dengan kenyataan seperti ini. Ya Tuhan!

__ADS_1


"Di, maafin aku." pinta Ben. Ia menggenggam erat tanganku.


"Nggak sampai kamu kembali dan minta agar pihak kantor kembali menerima kamu." kataku. Sambil menghempaskan pegangannya.


"Di, aku diberhentikan."


"Astagfirullah, kenapa begitu? Memang kamu melakukan kesalahan apa? Bukankah selama ini kamu sudah total bekerja? Apa karena kamu pernah cuti saat aku lahiran Rizky? Tapi sebelum-sebelumnya kan kamu nggak pernah cuti. Masa gara-gara itu sih Ben?"


"Enggak ada, Di. Kesalahannya bukan dari aku. Semua karena pak Tomo."


"Dia lagi?"


"Pak Tomo sekarang pemegang saham terbesar di perusahaan, ia baru membelinya, temanku nggak bisa melakukan apapun selain menuruti keinginannya agar aku dikeluarkan. Sekarang aku nggak bisa melakukan apapun, Di."


"Ya Allah ...." badanku langsung terjatuh ke lantai. Air mata ikut luruh.


"Di," Ben segera memelukku.


"Karir menulisku juga sudah tamat. Ia jadi pemegang saham di penerbitan dan meminta menghentikan serta menolak semua naskahku!" Aku mengadu pada Ben.


"Astagfirullah."


"Dia benar-benar mengincar aku, Ben! Dia pasti sengaja menutup semua pintu rezeki kita agar aku bertekuk lutut padanya."


"Jahat sekali."


"Ben, apakah aku harus menyerah?"

__ADS_1


"Nggak Di. Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu. Kamu nggak usah pusing apalagi sampai putus asa, aku akan berusaha untuk kalian. Untuk kamu, anak-anak dan Ibu. Aku akan berusaha. Kamu harus yakin, ya. Kamu juga harus kuat. Tolong jangan stress." Ben memelukku erat. Ia tak memberikan celah pada pikiranku untuk menyerah. Ya, aku harus lebih kuat. Genderang perang sudah ditabuh. Aku atau pak Tomo yang akan menang?


__ADS_2