ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
11. Pilihan


__ADS_3

Aku menatap mesin ATM yang menampilkan sisa saldo di rekeningku. Satu juta lima ratus ribu rupiah. Padahal baru pertengahan bulan. Tiap bulan Ben selalu memberiku seluruh gajinya, sebesar tiga juta rupiah. Kami tidak punya cicilan apapun karena Ben tergolong orang yang tidak suka berhutang.


Untuk seorang programmer dengan masa kerja hampir tujuh tahun, gaji segitu memang terhitung kecil, tetapi Ben tetap bertahan di perusahaan tersebut sebab rasa pertemanan. Pemilik perusahaan tersebut adalah temannya, orang yang pernah membantu Ben saat masih kuliah, meminjamkan bahkan kadang memberikan Ben uang secara cuma-cuma.


Sebagai balasannya, saat sahabatnya tersebut membangun perusahaan IT kecil-kecilan, Ben ikut berkontribusi. Tetapi aku merasa tak ada penghargaan sama sekali, saat teman-temannya yang setara dengan Ben sudah bergaji di atas sepuluh juta tiap bulannya, Ben masih saja digaji dengan nominal yang sama meskipun jabatannya sudah naik sebagai manager.


Semua uang tersebut langsung kutarik. Lalu melangkah menuju pengadilan agama. Apalagi tujuannya kalau bukan membebaskan diri sendiri dari bayang-bayang Ben. Aku mau bebas!


"Diandra?" seseorang menepuk pundakku.


"Erna?" kataku. Setelah mengingat sosok yang tujuh tahun lalu pernah kutemui di kampus.


"Iya, kamu masih ingat aku Di? Padahal dulu waktu di kampus kita nggak pernah saling sapa ya."


"Masihlah. Kita kan dulu satu jurusan. Iya. kita kan beda geng." aku terkekeh. Padahal yang punya geng itu Erna, sedangkan aku biasa sendiri.


"Kamu ngapain ke sini? Oh, jangan-jangan sama seperti aku ya?" ia menunjukkan kartu pendaftaran yang sama denganku. "Aku nggak nyangka kamu dan Ben akhirnya seperti ini. Padahal Ben kelihatannya sempurna, lho. Kalau aku sendiri nggak sanggup lagi, Di. Suamiku suka main kasar. Nih lihat." Erna memperlihatkan beberapa luka lebam di tangan dan kakinya.


"Astagfirullah."


"Ini belum seberapa. Masih ada di punggung yang lebih menyakitkan lagi. Sudah berlangsung selama lima tahun pernikahan kami. Sekarang aku sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya. Aku menyerah. Kamu sendiri, kenapa berpisah?"


"Tidak cocok saja."


"Oh. Aku juga yakin Ben nggak akan main tangan, kelihatan dia penyayang. Tapi kalau nggak cocok ya mau bagaimana lagi. Padahal dulu yang suka sama Ben banyak lho. Termasuk aku salah satunya, hahaha."


"Hm,"


"Eh, maaf Di."


"Ibu Diandra." panggilan dari salah satu petugas. Aku segera pamit pada Ratna, lalu berlalu masuk ke ruangan.


***

__ADS_1


Satu langkah sudah ku ambil untuk lepas dari bayang-bayang Ben, sekarang waktunya untuk melanjutkan langkah berikutnya. Mencari kontrakan sederhana untuk tempat tinggal kami sebab rasanya sudah tidak nyaman tinggal di rumah ibu yang terus saja menyiyiri Ben.


Dua jam berselancar di dunia Maya, akhirnya aku bisa menemukan kosan keluarga yang meskipun sederhana, tapi rasanya cukup untuk tempat berteduh kami selama proses perceraian. Aku berharap semuanya berjalan lancar, sambil menunggu, aku akan mencoba mewujudkan mimpiku sebagai seorang penulis.


Harga kosan tersebut tiga ratus ribu setiap bulannya. Ada kamar mandi dalam dan juga kasurnya sehingga aku tidak perlu membeli perlengkapan. Untuk makan dan minum, sementara waktu akan kami beli di luar. Setelah membayar, selanjutnya mengambil barang-barang di rumah ibu agar nantinya tidak perlu lagi membawa Caca dan Cici ke rumah ibu lagi.


"Kamu mau pulang sekarang, Di? Kamu mau minta maaf sama Ben? Di, ayo jawab ibu." kata ibu, sambil mengiringi langkahku yang sibuk memasukkan kembali barang-barang kami dalam koper.


"Nggak, aku nggak akan kembali ke rumah itu." jawabku.


"Lalu kamu mau kemana Di?"


"Ke tempat tinggal baru kami."


"Lho, kok begitu?"


"Kan tadi pagi ibu yang mengatakan mau mengusir kami. Sekarang aku akan memenuhi keinginan ibu, supaya ibu puas membela Ben!"


"Di ... Diandra, maksudnya apa?"


Aku tak mau lagi menghiraukan panggilan ibu yang terus memohon agar aku mengurungkan niat pergi dari rumah ibu. Nasi sudah jadi bubur, aku sudah terlanjur sakit hati dengan semua perkataan ibu selama ini yang tidak pernah peduli dengan perasaanku.


Bagi ibu, Ben yang selalu benar, semua masalah ada karena aku. Jadi lebih baik aku pergi saja agar ibu dan Ben puas.


Sampai di dalam kamar kosan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah ibu, aku menangis sejadi-jadinya. Meluapkan perasaan sesak di hati. Andai saja ada yang mau mendengarkan keluh kesahmu, tetapi justru yang kudapatkan adakah penghakiman.


Lima belas menit lagi Caca dan Cici pulang. Aku segera menuju sekolahnya dengan jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh. Sampai di sana sudah ada Ben.


"Di," panggilnya.


"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku, dengan nada tinggi. Untung saja tidak ada siapa-siapa di sekitar kami.


"Di, kata ibu kamu pergi dari rumah ibu. Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Aku kau tinggal bertiga sama Caca dan Cici."


"Di mana Di? Pulang saja yuk, kita bicara baik-baik."


"Nggak mau!"


"Di, aku minta maaf, tapi demi kebaikan anak-anak, yuk kita pulang. Bicara baik-baik yuk."


"Nggak Ben, aku bilang nggak mau. Nggak ada lagi yang harus dibicarakan. Aku nggak mau berada di sisi kamu lagi. Paham!".


"Tapi Di,"


"Nggak ada tapi-tapi. Aku sudah daftarkan gugatan cerai ke pengadilan, kamu tinggu saja."


"Astagfirullah Di, pikirkan anak-anak juga."


"Oh, jadi yang harus aku pikirkan anak-anak saja. Lalu bagaimana dengan aku? Mau aku stres, pusing, kesal, marah, sedih, kalian nggak peduli. Kamu itu sama saja dengan ibu, egois. Kalian hanya memikirkan orang lain tanpa peduli bagaimana aku sebenarnya. Aku benci melihat kalian dan nggak mau lagi ketemu dengan kalian!"


"Di, oke, aku minta maaf. Aku ngaku salah. Tapi bolehkan kita bicarakan semuanya baik-baik. Yuk pulang sama anak-anak."


"Enggak!"


"Mama ... Papa." panggil Caca dan Cici, mereka berdua berlari ke arah kami. Lalu meloncat ke pangkuan Ben.


"Papa ikut jemput kita juga?" tanya Caca.


"Iya nak. Papa kangen sama kalian." jawab Ken.


"Ya ampun papa, kita kan baru ketemu tadi pagi." ungkap Caca.


"Caca, Cici, ayo kita pulang." kataku, mengakhiri keakraban bapak dan anak tersebut.


"Tapi ma," kata Caca.

__ADS_1


"Nggak tapi-tapi, ayo pulang!" dengan kasar aku menarik tangan mereka berdua, sementara Ben berusaha menghentikan, akhirnya ia memilih mengikuti kami dari belakang hingga sampai ke kosan.


__ADS_2