
Wajah ibu masih resah, setelah perbincangan empat mata antara aku dan pak Tomo. Ibu sepertinya takut jika aku menerima tawaran yang memang menggiurkan tersebut. Sampai-sampai pertanyaan yang sama dilontarkan ibu berkali-kali.
Dijanjikan hidup enak di rumah besarnya, tak perlu bekerja apapun, bahkan keperluan pribadi pun akan dibantu oleh asisten pribadi. Tentu akan jadi tawaran menggiurkan yang sulit untuk ditolak.
"Ibu tak yakin ia benar-benar tulus. Bukan karena ibu tak percaya adanya orang yang taubat nasuha, tapi rasa-rasanya untuk seorang Tomo Handoko, sepertinya belum deh. Ingat kan bagaimana kelakuannya pada istrinya. Jadi jangan mudah terpengaruh Di, kamu harus pikirkan baik-baik. Meski ibu bukan orang kaya raya, tapi ibu benar-benar tulus menyayangi kamu dan keluarga kecilmu. Ibu takut ia hanya bersandiwara saja, atau ada maksud lainnya. Bisa saja, kan?" ungkap ibu, saat kami sedang makan.
"Ibu ini bicara apa sih? Aku tak butuh ibu yang kaya raya, ibu yang seperti ini saja sudah luar biasa. Sudah membuatku benar-benar bersyukur meski ibu sering nyinyirin aku, tapi karena ibu perduli. Aku sayang sama ibu apa adanya." ungkap ibu.
"Ya tapi kan kamu itu kadang-kadang matre Di, ibu takut saja diam-diam kamu memikirkan semua itu lalu pergi dengannya. Kalau terjadi apa-apa, kita semua jadinya bingung."
"Hah ibu ini?" aku dan Ben tertawa mendengar celotehan ibu yang ceplas-ceplos kalau memberi penilaian atasku. "Kalau aku melakukan semua itu, apa yang akan ibu lakukan?" tanyaku.
Ibu diam. Sepasang matanya menatap ke arahku, tiba-tiba aku melihat netranya berkaca-kaca. Kemudian, tanpa aksara ia segera berlalu, ke arah depan.
Melihat itu aku jadi tidak tega. Apa ibu benar-benar sepanik ini? Atau tak bisakah ibu merasakan bahwa aku sayang ibu.
__ADS_1
"Padahal aku hanya ingin bercanda." cetusku.
"Ada hal yang kadang tidak bisa kita candai, apalagi pada orang tua." ungkap Ben. "Dari cara ibu yang terus menerus membahasnya, sepertinya ibu benar-benar takut kamu akan terbujuk rayuan ayah kandungnu."
"Ya aku akui, tawaran pak Tomo menggiurkan, tapi aku nggak sematre itu juga kali. Masa aku mau meninggalkan ibu yang sudah memperjuangkan keberadaan ku, melahirkan dan membesarkan ku seorang diri demi kekayaan instan. Memang hubungan aku dan ibu nggak selalu mesra, bahkan seumur hidupku lebih banyak berantemnya. Tapi aku sayang sekali pada ibu, kasih sayang ibu juga luar biasa. InsyaAllah apapun yang terjadi aku nggak akan meninggalkan ibu, Ben. Aku akan bertahan untuknya di sini."
"Kalau begitu katakan semuanya agar hati ibu nggak resah, Di. Ada kalanya orang tua itu mikirnya kejauhan, bukan karena ia tak percaya atau tak bisa menilai anaknya, tapi karena terlalu sayang, takut sesuatu yang tidak baik menimpanya.".
"Aaaaaa!" suara teriakan ibu yang berasal dari luar rumah.
Aku dan Ben saling pandang, lalu tanpa komando kami berlari ke luar dengan paniknya, takut terjadi sesuatu. Bahkan saking terburu-burunya, aku sampai melupakan kerudung sehingga Ben kembali menarik tanganku ke dalam.
"Nama saya pak Rusdi. Saya bapaknya Hana yang tinggal di sebelah." katanya, sambil menunjuk rumah mbak Hana.
"O, bapak ini bapaknya mbak Hana? Kalau saya Diamdra, pak. Tetangga mbak Hana yang sudah seperti saudara." aku memperkenalkan diri pada pak Rusdi. Senang sekali bertemu dengan ayahnya mbak Hana yang diceritakan beberapa waktu lalu padaku. Tidak menyangka pertemuan kami secepat ini sebab kata mbak Hana ia akan menjemput ayahnya menjelang bulan Ramadhan nanti agar ayahnya tak sendiri menjalankan ibadah puasa. "Bapak ke sini sendiri?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Iya. Bapak sudah kangen sekali sama Hana, makanya datang ke sini. Lagipula dari Bandung ke Depok nggak terlalu jauh, makanya bapak nekat sendiri, meski biasanya selalu dijemput Hana dan Hendri. Lagipula ada hal lain yang membuat bapak datang lebih awal." jawab pak Rusdi.
"MasyaAllah. Saya sebenarnya juga penasaran pengen kenal bapak karena mbak Hana sering cerita tentang bapak. Memang sebaiknya bapak tinggal di sini saja biar nggak sepi." kataku lagi.
"Di, pak Rusdi ini ...." ibu tak melanjutkan.
"Ibu kenal?" aku beralih pada ibu.
"Iya, mas Rusdi dan almarhumah istri beliau yang membantu ibu kabur saat dokter Tomo mengejar-ngejar ibu." jawab ibu.
"Subhanallah. Sempit sekali dunia ini." Aku takjub, akhirnya kami dipertemukan kembali dengan orang yang menolong ibu. Lebih mengejutkan lagi ternyata ia adalah orang tua dari mbak Hana, orang yang juga menolongku untuk bangku dari keterpurukan.
"Ibu lebih senang lagi Di, Allah jawab doa ibu begitu cepat. Baru tadi ibu minta agar dipertemukan kembali Dengan mas Rusdi dan mbak Mira, ternyata langsung dijawab, meski ternyata ibu tak akan bisa lagi bertemu mbak Mira sebab beliau sudah meninggal dunia." jelas ibu. "Setidaknya, mas Rusdi bisa bersaksi untuk ibu bahwa benar pak Tomo itu jahat pada ibu dan berusaha menyingkirkan kamu dari kehidupan ibu." tutur ibu lagi. Masih dengan uneg-unegnya tentang ayah kandungku.
"Iya Bu, aku percaya kok sama ibu." aku menggenggam tangan ibu. Seperti yang dikatakan oleh Ben, kadang orang tua itu harus diperjelas agar hatinya tenang.
__ADS_1
"Hana beberapa kali cerita tentang nak Diandra, ketika baru-baru pindah. Terakhir cerita tentang kondisi kalian yang berurusan dengan pak Tomo sehibgga bapak ingat kejadian dua puluh delapan tahunan lalu, tentang Yuni dan kondisinya saat itu. Rasa-rasanya bapak tak asing dengan semua itu, makanya bapak ke sini untuk memastikan dan ternyata benar. Kamu dan Yuni adalah orang yang pernah kami temui dahuku." ungkap pak Rusdi.
Apa yang terjadi hari ini pasti atas kehendak Allah. Sebenarnya tanpa ada kesaksian pak Rusdi pun aku percaya pada ibu sepenuhnya. Tapi, ketika ibu begitu senang dan tampak lebih tenang sebab ada yang menjadi saksi atas apa yang terjadi padanya membuat hatiku juga ikut tenang. Sebagai anak yang belum bisa memberikan kebahagiaan untuk ibu, melihat ibu tenang saja rasanya sudah senang.