ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
74. Ibu, Tenanglah


__ADS_3

mbak Hana dan suaminya sudah kembali ke rumahnya. Anak-anak juga menunjukkan kondisi ngantuk. Aku langsung memberi asi pada Rizky, sementara Ben dengan sigap membacakan cerita para sahabiyah untuk Caca dan Cici. Pemandangan yang telah lama kurindukan. Kebersamaan antara ayah dan putri-putrinya.


Sebenarnya, setelah Rizky tertidur pulas karena kenyang, aku ingin ikut bergabung. Siapa yang tak tergoda mendengar suara tawa Caca dan Cici yang begitu renyah, juga pertanyaan-pertanyaan mereka yang luar biasa.


Tetapi tak jadi sebab Ben memintaku menemui ibu. Sejak tadi,usai berdebat di luar, ibu langsung masuk kamar, tak keluar-keluar lagi.


"Temuilah ibu, bicaralah pada ibu supaya ibu tenang." pinta Ben.


"Hm, baiklah menantu kesayangannya ibu!" aku langsung berlalu."


Dua kali aku mengetuk pintu kamar ibu, lalu beranjak masuk meski tak ada izin dari pemilik kamar tersebut.


"Bu," aku masuk ke kamar ibu, melempar senyum, tapi malah dicuekin, ibu berbalik arah, memunggungi ku. "Ibu!" Panggilku lagi. Dengan sikap manja, aku merengek pada ibu, sambil menarik tangannya pelan.


"Apalagi Diabdra?" tanya ibu dengan nada tinggi.


"Ibu ini, hari ini adalah hari bahagiaku. Aku dan Ben sudah sah sebagai suami istri, masa ibu tidak ingin mengucapkan doa atau selamat. Miris sekali ibuku ini. Padahal ibu juga menginginkan pernikahan ini. Harusnya ia Bu menunjukkan sikap bahagia, bukan sebaliknya. Ngambek sampai mengurung diri di kamar seperti anak kecil. Ibu tidak salat?"


"Enak saja, ibu sudah salat. Sejak awal ibu menjaga wudhu."


"O, begitu. Lalu kenapa tidak makan? Menantu ibu panik tuh."


"Tapi kamu tidak,kan?"


"Hehehe, ibu ini!"


"Diandra, tolong jangan bicara dengannya. Putus saja komunikasi, bahkan katakan dengan tegas bahwa tak ada yang bisa diharapkan darimu sebab kamu hanyalah perempuan biasa yang tak bisa diandalkan, anak yang ceroboh dan suka berbuat seenaknya. Ibu takut sekali tidak bisa mengawasi kamu lagi. Di, ibu ini sudah tua."


"Astagfirullah, ibu. Apa tidak bisa bicara yang baik untuk menolak orang lain, kenapa juga harus membicarakan aibku!" aku langsung protes.

__ADS_1


"Kenyataannya begitu. Tak ada satu kebaikan pun yang bisa aku banggakan dari dirimu kecuali kau adalah istrinya Ben dan ibu dari Caca, Cici dan Rizky. Cucu kesayanganku. Sleebihnya tidak!"


"Hahahaha, ibu ini sadis sekali. Ya tapi tidak perlu diperjelas juga. Semakib banyak yang tahu tidak baik untuk anak-anakku nantinya, mereka bisa malu punya ibu sepertiku."


"Di!"


"Baiklah, Bu, dengarkan aku. Ibu tahu kan bagaimana karakter lelaki itu. Ia pasti tak akan melepaskan ku begitu saja. Tapi tenang, ada Ben yang akan selalu menjagaku. Kini, kami akan tinggal serumah, jadi tak perlu khawatir lagi. Kalau ada apa-apa, ada Ben yang akan melindungi kita."


"Tapi tidak dua puluh empat jam ia bersama kita. Lagipula lelaki itu licik, Ben mana paham yang begitu."


"Tetap saja, ada ibu juga, kan. Juga mbak Hana dan suaminya."


"Ahh entahlah. Ibu bingung bicara denganmu, Di."


"Bu, pahamilah kondisiku. Apa ibu yakin, jika aku tadi menolaknya ia tak akan datang lagi atau tadi langsung pergi? Pasti tidak kan Bu? Ia akan terus menhejarku sebab pasti ia punya suatu maksud yang entah apa."


Ibu diam sejenak, mungkin berusaha berpikir. Apa yang kukatakan memang benar. Orang seperti pak Tomo itu tak akan mau mundur sebelum mendapatkan apa yang ia ingin. Hingga ia berhasil pasti akan terus menghantui.


"Lalu sekarang apa rencanamu?" tanya ibu lagi.


"Entah." jawabku.


"Apa? Di, kamu harus berpikir cepat. Ahhh, kenapa ibu tidak terpikirkan kalau kamu sudah sekali berpikir. Lebih baik kamu diskusikan dengan Ben, Hana atau suaminya. Minta masukan solusi dari mereka. Tapi yang tidak membahayakanmu."


""Hm, tapi memang sebaiknya bicara saja agar kita tahu apa rencananya. Menerka-nerka seperti ini rasanya capek juga."


"Coba pikirkan cara lain yang langsung menbuatnya menjauhi keluarga kita."


"Tidak ada Bu."

__ADS_1


"Aduh, kenapa ujiannya berat sekali. Padahal ibu hanya ingin hidup tenang di usia tua hingga nanti menutup mata. Menghabiskan waktu bersama cucu-cucu ibu, tapi dia datang lagi. Padahal dulu masa muda ibu rasanya sudah ampun-ampunan karena ulahnya."


"Nah, itu tandanya ibu manusia hebat. Buktinya Allah menguji ibu dengan ujian yang tak mudah."


"Kamu ini, tapi tetap ingat Di, ia bukan orang baik, jadi jangan sampai terperangkap."


"Iya, ibu tenang saja."


Setelah yakin ibu tenang, akupun meninggalkan kamar ibu, menuju kamar, menemui Ben yang baru saja menemani Caca dan Cici tidur, sementara bayi kami sudah terlelap sejak tadi.


"Bagaimana ibu?" tanya Ben.


"Sudah lebih tenang. Tapi tetap saja dengan begitu banyak petuahnya agar aku berhati-hati juga mengingatkan segala kebutuhanku." ucapku, sambil cemberut, sementara Ben tertawa kecil. "Di, sekarang jangan bicarakan ayahmu dulu, bagaimana kalau kita mulai menyusun kembali rencana tentang masa dpena kita." ajak Ben.


"Hm, baiklah. Rencana apa?"


"Kamu tahu kan, bagaimana kondisiku saat ini. Kita juga gak lupa penyebab perpisahan di masa lalu. Aku hanya ingin meminta agar kamu bersabar menghadapi ku. Percayalah Di, aku berusaha berjuang untukmu dan anak-anak. Harapanku, smeoga nanti ke depannya perekonomian kita membaik. Setidaknya, aku bisa memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak. Pelan-pelan semoga semua keinginan kamu bisa kuwujudkan."


"Kamu bicara apa, Ben? Setelah apa yang terjadi antara kita setahunan lalu, aku sudah bertekad untuk merubah semuanya. Sekarang aku tak akan menuruti smeua nafsuku lagi, kalaupun nanti aku khilaf, kamu jangan ragu untuk mengingatkan aku, Ben. Sungguh, aku butuh nasihat darimu. Kita bangun kembali rumah tangga ini dari awal. Fokus untuk ibadah dan membahagiakan anak-anak.. itu saja."


"Kamu yakin, Di, mau bersabar meski nanti aku kekurangan?"


"InsyqAllah Ben, kalaupun aku khilaf, kamu jangan lelah mengingatkan."


Secara refleks Ben memelukku erat. Pelukan yang sudah lama ku rindukan. Apalagi saat benar-benar rapuh.


"Ben, seperti apapun keburukan ku nantinya, jangan pernah membiarkan aku meninggalkan kamu untuk kedua kalinya, ya. Setiap aku mengatakan keluhan, percayalah, bebetaoa kali lipat dari itu, aku justru ingin terus bersama kamu."


"Iya Di, aku juga tak mau lagi berpisah. Aku tak sanggup. Sebawel apapun kamu, tapi tetap kamu adalah teman hidup yang aku butuhkan."

__ADS_1


Malam ini terasa begitu indah. Meski begitu banyak hal-hal yang menggangu pikiranku,tapi semuanya langsung terabaikan sebab nyanyian cinta yang aku lantunkan bersama Ben.


__ADS_2