
Aku dan Ben baru saja hendak meninggalkan mall, tapi langkah kami terhenti sebab melihat seseorang yang meski tak akrab tapi begitu familiar di mataku. Riki, teman Ben, sekaligus bosnya di kantor lama. Orang yang ditolong Ben mati-matian tapi pada akhirnya ia melepaskan Ben begitu saja.
"Di, kamu mau kemana?" tanya Ben, saat melihatku bergerak maju, mendekat ke arah Riki dan keluarga kecilnya.
"Halo pak!" Sapaku. "Eh, maksud saya mas Riki. Apa kabar? Masih ingat saya, nggak? Saya Diandra, istrinya Ben."
"Eh, Diandra. Kamu ke sini sama siapa?" Ia melengok ke kiri dan kanan, lalu melihat Ben. "Hei Ben. Rupanya ada kamu juga di sini. Apa kabar?"
"Tidak terlalu baik sejak anda memberhentikan suami saya begitu saja." Kataku.
"Oh itu, maaf Di. Saya terpaksa melakukannya demi perusahaan." ia memberikan alasan.
"Ya, saya mengerti. Seorang pemimpin pasti akan melakukan apapun demi perusahaannya. meski itu menzalimi karyawan terbaik sekaligus sahabatnya.
Dengar pak Riki, menyesal dulu saya tidak paksa Ben untuk resign dari perusahaan anda padahal ia mendapat tawaran gaji yang tinggi. Empat kali lipat dari yang anda berikan. Ben memilih untuk terus mengabdikan dirinya meski ujungnya kami harus bercerai. ya, kami bercerai karena pendapatannya sebagai pegawai anda tak bisa mencukupi segala kebutuhan kami yang cukup sederhana.
Pak Riki, Anda tahu kenapa Ben begitu royal pada perusahaan anda, alasannya sederhana karena ia ingin membantu perusahaan sahabatnya maju. ia tak bisa meninggalkan begitu saja sebab perusahaan anda belumlah kuat. Akibatnya hubungan kami yang kandas. Tapi apa yang kamu dapatkan, anda malah menendang suami saya tanpa pesangon sedikitpun hanya demi mendapatkan kucuran dana. Memalukan sekali. Tapi terimakasih sebab sudah membuka mata suami saya, sahabat seperti apa anda ini!"
"Ben?" Riki menatap Ben.
"Sudah ya pak. maaf kalau kata-kata saya menyakiti perasaan bapak. Permisi!" aku menarik tangan Ben, tidak membiarkannya berbicara kembali dengan Riki.
***
Akhirnya kami sampai di rumah dengan suasana hati yang sudah mulai reda meski tak ada satupun novel yang laku. Seperti yang dikatakan oleh Ben, namanya usaha, tidak selamanya berhasil, jadi harus terus bersabar.
"Di, aku berangkat kembali ya." kata Ben, setelah yakin kondisi sudah kondusif. Rizky sudah terlelap, puas tidur tanpa harus terhambat karena gendongan.
"Yakin pergi sendiri?" tanyaku.
"Ya."
__ADS_1
"Aku ikut saja ya Ben. Ingin bantuin kamu juga."
"Janganlah. Kamu sudah lelah. Lagian kasihan Rizky kalau kamu harus ikut pergi. Kalau kita bawa dia lagi, pasti bayi itu akan kembali marah-marah, ujungnya kita harus kembali pulang. Sedang kalau ditinggalkan, kasihan ibu juga harus jagain Caca dan Cici ditambah bayi aktif kita. Pasti bakalan kerepotan."
"Iya juga sih."
"Kamu di rumah saja. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Bantu doa ya Di. InsyaAllah doa istri salihah diijabah sama Allah."
"Tapi Ben, apa benar aku masuk kategori istri salihah setelah apa yang aku lakukan padamu?"
"Di, tiap orang pasti punya salah. Orang-orang yang menyadari kesalahannya dan mau bertaubat itulah yang terbaik."
"Aku beruntung sekali ya Ben punya suami kayak kamu. Betapa bodohnya aku dahulu, rela melepaskan lelaki sebaik kamu demi kesenangan sementara."
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlaku. Kita tatap masa depan. Kita harus berubah jadi lebih baik untuk anak-anak!" Ben memberikan semangat padaku.
Baru saja hendak berangkat, mbak Hana dan mas Hendri mencegah langkah Ben. Mereka mengajak kami berbincang. Mas Hendri menawarkan kerja sama untuk kami.
"Benarkah mas?" aku menatap tak percaya.
"Ya Di. Sebenarnya sudah lama aku ingin menawarkan pada Ben, tapi karena kesibukan jadi lupa. Untung saja Diabdra mengingatkan. Ku harap kerja sama ini juga bisa mendekatkan persaudaraan kita. Bagaimana?" Tanya mas Hendri lagi.
"Bagaimana Ben?" aku balik bertanya pada Ben.
"Aku siap!" jawab Ben. Mas Hendri dan Ben berjabat tangan tanda persetujuan kerja sama kami yang mulai dilaksanakan esok hari.
Rasanya senang sekali. Aku juga bersyukur punya tetangga sebaii mbak Hana. Ia benar-benar bidadari tanpa sayap. Selalu ada untuk menolong kami. Padahal kemarin inilah yang jadi salah satu masalah di keluarga mbak Hana, tapi ia tetap mau membantu kami. Kebaikannya tak padam meski sempat ditentang oleh suaminya.
***
Ben mulai sibuk mengoperasikan media sosial dan meningkatkan penjualan novelku. Pekan pertama rencananya kami akan memperkuat branding. Supaya semakin banyak orang-orang yang tahu bahwa aku adalah seorang penulis.
__ADS_1
Rasanya benar-benar menyenangkan ketika akun media sosialku mulai banyak pengikutnya. Mulai dari anak-anak remaja hingga ibu-ibu rumah tangga yang usianya jauh di atasku.
"Kamu keren Di, penggemarnya segala usia." cetus mbak Hana, sambil memperhatikan laptop. Mbak Hana juga ikut serta sebagai marketer, ia menghandle bagian penjualan. Sementara mas Hendri ikut nimbrung sesekali sebab ia masih punya pekerjaan lain sebagai seorang kontraktor.
"Lihat, kita belum launching saja sudah ada yang kepoin buku tulisan Diandra. Kalau begitu akan kukeluarkan buku pertama kamu sebagai pemanasan." ungkap mbak Di.
"Kenapa ngga langsung buku kedua saja mbak, yang jelas-jelas kita cetak sendiri." kataku.
"Jangan. Kita tetap launching dipekan kedua saat target pengikut sudah sampai..sekaligus kita adakan giveaway untuk memancing semakin banyak pembaca."
"Wah bagus juga idenya. Tapi apa nggak ada masalah nantinya, mbak?"
"InsyaAllah nggak. Lagian Rusdi itukan saudaraku, Di."
Kami kembaki sibuk dengan branding buku. Sesekali aku pamit untuk memberikan Rizky asi, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaan kami. Rasanya benar-benar luar biasa sebab akhirnya bisa kerja sama dengan Ben. Apalagi pekerjaannya digaji oleh mas Hendri.
***
Mataku sudah teramat mengantuk, membaca satu-persatu pesan-pesan yang masuk di wa dari orang-orang yang mengorder novel keduaku.
"Nasya?" aku membuka mata lebar-lebar saat membaca nama Nasya, sayangnya karena masih mengantuk akhirnya pesan tersebut terhapus. "Aghhhh, bagaimana ini?" aku nyaris melonjak dari tempat tidur.
"Kenapa Di?" tanya Ben, ia baru hendak tidur.
"Sepertinya ada pesan dari Nasya."
"Nasya? Apa katanya?"
"Entahlah, belum sempat terbuka tapi malah kehapus."
"Ya sudahlah. Kalau oenting nanti paling ngirim pesan lagi atau telepon kamu. Lagian sudah malam, Di. Sudah pukul sebelas. Buruan tidue supaya besok tidak ngantukan. Jangan bekerja dalam kondisi ngantuk."
__ADS_1
"Iya." kataku. Tetapi rasa kantuk tadi sudah hilang berganti dengan banyak pertanyaan, untuk apa Nasya menghubungiku? Semoga saja ia baik-baik saja seperti yang dikatakan Ben. Toh beberapa hari lalu ia juga pernah menghubungi dan nada suaranya baik-baik saja.