
"Sebelas tahun belum punya keturunan, apakah harapan itu masih ada? Itukan bukan waktu yang sebentar, lama sekali. Apa tiga ribu lebih hari. Ughhh, pasti bikin dilema sekali." pertanyaan itu terlontar begitu saja. Ibu langsung melirik kepadaku. Di kamar ini hanya tinggal aku yang baru selesai makan, ibu yang mengantarkan pakaian bersih kami dan Rizky yang sudah terlelap usai minum asi.
Sementara Mbak Hana sudah pulang sejak tadi, ia membawa serta Caca dan Cici, katanya mau diajak jalan-jalan ke mall. Memang belakangan ini mbak Hana sering keluar bersama dua anak kembar ku dan aku tak lagi membatasi seperti awal kami berkenalan karena aku berharap Caca dan Cici bisa menghapus kerinduan mbak Hana akan kehadiran buah hati.
"Hiiis, ngomong apa kamu itu? Ya masih adalah. Kamu nggak percaya sama Allah, Di?" ibu langsung sewot. Tapi tangannya masih aktif menyusun pakaian di keranjang bayi.
"Ya bukan begitu, Bu. Tapi sebelas tahun tidak juga kunjung punya keturunan, padahal mbak Hana sudah berobat kemana-mana, mulai dari yang paling sederhana hingga paling bagus. Dokter terkenal pun juga sudah didatangi untuk menjalankan ikhtiar tapi tetap saja tak ada hasilnya.
Ibu tahu kan, kadang ada perempuan yang memang tak diberikan Allah keturunan alias mandul. Bukan masalah percaya atau tidak dengan Allah. Ini beda kasus, Bu."
"Sama saja. Kalau Allah sudah katakan ya makanya ya jadi. Jangankan Hana bisa punya anak atau enggak, ibu saja, jika Allah berkehendak diberikan jodoh maka ibu juga pasti akan menikah meski usia ibu sudah tidak muda lagi." ibu terus mengomel sambil berlalu, meninggalkan aku sendiri, stelah ia selesai menyusun pakaian yang dibawanya tadi.
Apa salahnya coba, bertanya seperti itu. Ahhh, bukan aku tak percaya pada Allah. Benar kata ibu, jika Allah berkehendak, sekarang juga mbak Hana bisa punya anak dan ibu bisa menikah. Tapi kadang kita juga harus berpikir tentang orang-orang yang memang tidak Allah berikan keturunan. Maksudku itu ya begitu. Hanya saja ibu keburu sewot sehingga jadi salah paham. Aku bersimpati dengan kondisi mbak Hana, apalagi ia orang baik.
Dari pada pusing sendiri, kuputuskan melanjutkan tulisan ketiga, mumpung Rizky sudah tertidur pulas. Biasanya bayi punya waktu-waktu ajaib yang terpaksa membuat orang tuanya bergadang. Meski tak ada Ben saat ini, setidaknya aku terbantu oleh ibu yang dengan telaten selalu siap membantuku mengurus Rizky dan juga kakak-kakaknya.
Sebenarnya aku dan Ben sudah mengajukan agar didatangkan orang yang membantu mengurus pekerjaan rumah saja, tapi ibu menolak dengan alasan masih sanggup. Juga merasa bingung kalau semua pekerjaan dikerjakan orang lain. Ibu memang tipikal pekerja keras, kalau tak ada yang harus dilakukan malah pusing.
Laptop putih pemberian Ben kembali menyala, tanganku mulai lincah menari di atasnya. Merangkai kata menjadi novel ketiga yang kuharap bisa meledak nantinya.
__ADS_1
***
Suara celotehan Caca dan Cici. Aku mengintip dari jendela, benar saja, mereka sudah pulang. Ada mbak Hana juga, mengantar Caca dan Cici, ia menenteng satu kresek putih yang entah berisi oleh-oleh apa lagi. Melihat sikap mbak Hana yang begitu dermawan, membutaatku semakin salut akan kebaikan hatinya. Ia tulis menolong tanoa berharap balasan apapun.
"Sudah pulang?" aku menyambut di depan pintu.
"Mama!" Caca menhejarku. "Lihat ini, Tante Hana beliin kita boneka berbi dan tas bergambar Bernie juga!" Seru Caca dengan antusias. "Caca warna pink, Cici warna ungu. Bagus, kan?" ia kegirangan menunjukkan belanjaannya.
"Hm, ya. Bagus sekali. Tapi kan mama sudah bilang, jangan minta terus sama tante Hana." kataku.
"Kita nggak minta kok ma, tante Hana yang beliin." timpal Cici.
"Benar. Kalau nggak percaya tanya aja sama Tante Hana!" seru Caca.
"Iya, anak-anak nggak minta dibeliin kok, tapi ini hadiah dari tante Hana karena Caca dan Cici sudah jadi kakak yang baik untuk Rizky. Nah, kalau yang ini untuk mama Di dan Rizky!" Mbak Hana memberikan bungkusan tersebut padaku. Saat ku intip, ternyata isinya pakaian bayi dan baju tidur untukku. Sebanyak satu kantong penuh. "Lagipula kalau Caca dan Cici mau minta dibelikan juga nggak apa-apa. Tante nggak kebetan kok. Malah senang!"
"Duh mbak Hana ini, kami jadi selalu merepotkan mbak." ungkap ku. "Nah, sekarang Caca dan Cici masuk ya. Tidur siang, tapi jangan berisik supaya dedek bayi nggak kebangun." Pintaku.
Dua anak kembar itu langsung masuk. Tanpa harus diingatkan lagi mereka langsung masuk ke dalam. Tidak meribut dan sepertinya langsung tidur setelah cuci tangan dan kaki.
__ADS_1
"Mbak," kataku.
"Ya, kenapa?" mbak Hana menoleh padaku, kami duduk di tempat yang pernah kujadikan kedai. Setelah merencanakan pernikahan dengan Ben, kedai itu kututup atas permintaan Ben. Ia tak ingin aku terlalu lelah, sedang hamil harus mondar-mandir nyari jualan.
"Masih sedih?"
"Hm, dikit. Tadi sudah kehibur sama ulah Caca dan Cici yang menggemaskan. Kalau ketemu sama Rizky pasti sedihnya langsung hilang." ia tersenyum padaku, seolah tak ada beban. "Udah, nggak usah dipikirkan, tadi aku sedang baper saja Di."
"Hm, aku mengerti."
"Hanya syok, ketika mas Hendri yang biasanya nggak pernah bahas anak, tiba-tiba mempertanyakan. Ya wajar sih, mungkin karena baru ada Rizky, jadi dia juga keingat. Tapi akunya langsung terbawa perasaan, takut juga terjadi sesuatu dengan pernikahanku." mbak Hana menunduk, aku yakin ia sedang berusaha agar tidak menangis.
"Cerita saja mbak. Kalau mau nangis juga nggak apa-apa. Selama ini mbak sudah banyak membantuku, sekarang giliran aku yang jadi tempat curhat mbak."
"Di ... aku hanya takut dia merasa lelah, atau malah berpaling ke wanita lain. Sebenarnya terpikir untuk menawarkan perempuan lain sebagai madu tapi ternyata di sini, di hati ini kok perih ya. Tapi aku juga nggak boleh egois kan, Di. Bagaimanapun mas Hendri berhak punya keturunan. Ia juga anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.
Aku hanya takut saja bapakku sedih. Soalnya aku anak satu-satunya. Sejak ibu meninggal dunia, bapak selalu cemas tentang kebahagiaan aku, Di. Mungkin karena aku tak kunjung punya anak. Sebelas tahun, Di. Selama itu aku menunggu. Orang-orang yang biasanya nyinyirin saja sudah mulai bosan, bahkan lupa mempertanyakan kapan aku punya keturunan.
Aku merasa benar-benar buruk sejak kemarin, Di. Rasanya tak pernah seperti ini, seolah menjadi perempuan paling buruk sebab tak bisa memberikan keturunan pada suaminya."
__ADS_1
"Mbak, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Hmm, mbak pasti tahu kisah bunda Aisyah kan? Beliau juga tidak punya keturunan, tapi Allah menjadikan beliau sebaik-baiknya perempuan. Kalau kita ikhlas, kelak akan Allah berikan anak-anak di surga.
Lagipula sekarang belum finish, kan? Tidak ada yang tidak mungkin!" aku menggenggam erat tangan mbak Hana, berharap bisa menularkan semangat untuknya agar tak terlalu pesimis.