ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
29. Anis Bicara


__ADS_3

*Tuhan, selama ini aku sudah melakukan semuanya sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan. Tetapi ternyata hasilnya tidak sebaik yang aku inginkan. Sekarang, aku benar-benar pasrah pada-Mu.


Aku menyadari, tak ada rencana yang lebih baik dari apa yang sudah Engkau tetapkan untuk hamba-Mu.


Tuhanku ... selama inipun aku begitu jauh dari-Mu. Aku benar-benar melakukan semuanya sesuka hatiku. Dan kini aku mendapatkan hasil dari apa yang sudah aku lakukan*.


Beberapa kali aku mencoba menguraikan, semua sesak di dada ini. Tak ada lagi tempat mengadu. Ben, orang yang selalu ada untukku, kini telah jauh karena ulahku sendiri. Kini, entah bisa kembali atau tidak. Aku tak mampu berharap banyak.


Begitu banyak kesalahan yang aku lakukan padanya. Kata-kata kasar serta sikap yang sangat tidak baik. Lalu pantaskah aku mendapatkan kesempatan itu?


Perlahan kuseka air mata yang tumpah. Tak mampu membayangkan, bagaimana jika Ben benar-benar menikah dengan Nasya.


Tapi tunggu dulu, secepat itukah Ben berubah? Apakah benar ia sudah melupakanku, atau hanya menjadikan Nasya sebagai pelarian?


Aku tahu, Nasya memang gadis yang cantik. Secara fisik ia menarik. Tapi aku tak akan pernah lupa saat dulu gosip tentang mereka beredar dan aku mempertanyakan tentangnya pada Ben. Ia bahkan berani bersumpah, bahwa Nasya bukanlah tipikal gadis impiannya.


"Di, kamu lagi apa?" Anis berdiri di pintu masuk mushalla.


"Nggak apa, hanya lelah saja. Maaf ya Nis, sudah merepotkan kamu. Aku akan kembali kerja." kataku, sambil berusaha bangkit.


"Kamu sakit lagi?"


"Nggak Nis, hanya sedikit lelah."


"Duduk saja dulu Di, aku sudah minta mbak Rini untuk jagain meja kasir. Pembeli juga belum terlalu banyak."


"Oh ya."


"Di, aku boleh bicara sebentar?"


"Bicara saja Nis."


"Kamu setuju kalau Ben menikah dengan Anis?"

__ADS_1


"Aku nggak berhak lagi atas kehidupan Ben, Nis." jawabku, sambil menahan sesak di dada.


"Maksudku, kalau Nasya menikah dengan Ben, ia akan jadi ibu tiri untuk anak-anak kamu. Apa kamu merasa dia pantas menggantikan posisi kamu di hati, Ben juga anak-anak kamu?"


"Aku bukan siapa-siapa, Nis. Apalagi untuk menentukan pantas atau tidaknya. Kamu tahu kan kegagalanku. Mana berhak aku menilai."


"Menurut aku kamu juga berhak memberikan masukan untuk Ben, Di. Ia akan jadi ibu sambung untuk anak-anak kamu. Tidak tertutup kemungkinan, pasti akan sering berinteraksi dengan anak-anak karena Ben pasti ingin berkumpul dengan anaknya juga. Iya, kan?"


"Ya,"


"Lalu kamu yakin, Nasya bisa menjadi ibu yang baik? Aku tahu betul siapa Nasya, Di. Kami satu fakultas, meski beda jurusan. Begitu juga dengan Ben. Kami pernah satu KKN selama satu setengah bulan hidup di rumah yang sama. Jadi cukup mengerti karakternya. Dan aku sangat yakin mereka berdua nggak cocok meski aku tahu bahwa Nasya sangat mencintai Ben. Kamu memerlukan perempuan keibuan untuk menjadi ibu sambung anak-anak kamu."


Mendengar apa yang dituturkan oleh Anis, aku tak bisa menjawab apapun. Rasanya mengalami perang batin. Bagaimana mungkin aku bisa memilihkan perempuan keibuan yang cocok untuk Ben sementara hatiku masih tertuju padanya.


Inilah akibat terlalu egois. Mengambil keputusan sambil mengedepankan emosi. Akhirnya adalah penyesalan yang entah bagaimana ujungnya sebab sejujurnya untuk mengikhlaskan Ben rasanya benar-benar berat.


"Di," Anis mengguncang pelan lenganku, membuyarkan lamunanku.


"Aku nggak tahu, Nis. Aku nggak punya rekomendasi siapa yang pantas untuk jadi pendamping Ben. Aku ...." rasanya bibirku Kelu, memikirkan perempuan untuk Ben.


"Maksudnya?"


"Di, aku mengenal Ben dan aku tahu siapa yang pantas untuk Ben."


"Siapa?"


"Aku!"


"Apa?" aku langsung terhenyak, menatap Anis dengan tatapan tidak percaya. Apa maksudnya barusan?


"Di, aku nggak tahu, apakah nanti kamu akan memandang aneh atau menganggap aku berlebihan. Tapi aku harus jujur, demi kebaikan semuanya.


Sejujurnya aku mencintai Ben. Sejak pertama aku mengenalnya saat pemilihan ketua BEM di kampus. Kemudian berlanjut dengan kami satu KKN. Menghabiskan waktu lebih banyak bersama Ben membuatku semakin nyaman dan yakin bahwa ia laki-laki yang terbaik untuk jadi jodohku.

__ADS_1


Kenapa aku berani menawarkan diri? Karena bisa saja kan, Ben itu adalah jodohku. Di, jika aku menjadi istrinya Ben, aku janji akan memperlakukan anak-anak kalian layaknya anak kandungku sendiri. Apalagi aku juga sudah sayang dengan Caca dan Cici.


Aku akan berusaha memberi yang terbaik untuk anak-anak kalian, sesuatu hal yang belum tentu bisa dilakukan oleh Nasya. Jadi bagaimana Di? Kamu mau kan ngedukung aku menjadi istrinya Ben?"


Entah harus menjawab apa, sejujurnya aku begitu kaget dengan pengakuan yang dibuat oleh Anis. Jadi selama ini ia menampung dan memberikan segala fasilitas itu karena Ben. Ia ingin terlihat baik di hadapan Ben? Lucu sekali.


"Di, jangan salah faham dulu," pinta Anis.


"Aku nggak tahu harus jawab apa." kataku, sambil memijit pelan kening yang berdenyut cukup keras setelah mendengar pengakuan Anis barusan.


"Aku hanya ingin membantu kamu mencarikan solusi terbaik."


"Tapi kamu memanfaatkan aku, Nis. Aku bahkan nggak tahu apakah kamu tulus atau nggak."


"Kamu nggak bisa meragukan ketulusanku seperti itu, Di. Ya jelas aku tulus lah. Tapi apa salahnya? Toh Ben sudah jadi duda. Dia single, nggak salah kan kalau aku mencoba mendekatinya."


"Ya, nggak salah!" kataku. "Aku izin pulang dulu. Kepalaku semakin pusing."


"Di,"


"Apa, Nis?"


"Pikirkan baik-baik, ini demi anak-anak kamu juga. Salah memilih calon ibu pengganti bisa berakhir pada penyesalan!"


Perkataan terakhirnya tidak kujawab, aku segera berlalu keluar cafe, bahkan kuabaikan mbak Rini yang meminta penjelasan lewat lirikan matanya.


Ahhhh, aku terlalu pusing menghadapi semua ini. Memang tidak salah jika Anis mendekati Ben sebab ia sekarang adalah laki-laki single, tapi aku tak suka sikap Anis yang merasa lebih baik dari orang lain. Apalagi sebenarnya ia memanfaatkan aku dan anak-anak untuk mendapatkan simpati dari Ben.


Teringat celotehan Caca kemarin, saat ia pulang membawa sekolah coklat dan biskuit yang aku tahu harganya tidaklah murah. Semua itu pemberian Anis, ada pesannya yang disampaikan kembali oleh Caca padaku.


"Masa kata Tante Anis, nanti kalau ketemu papa, bilangin kalau Tante Anis itu sudah baik banget sama mama, juga Caca dan Cici." ungkap Caca saat itu.


Lalu, jika aku bukanlah masa lalu Ben, apakah ia akan tetap baik padaku, padahal dulu saat di kampus kami benar-benar tak pernah bertegur sapa.

__ADS_1


Kini aku baru menyadari, beberapa kali Anis pernah bersikap sinis padaku saat aku dan Ben belum menikah. Mungkin ia mengetahui bahwa aku adalah calon istri Ben. Sayangnya, sikapnya saat itu terabaikan begitu saja olehku sebab aku mengira mungkin Anis sedang banyak pikiran.


Andai saja aku dan Ben tak berpisah. Kami masih bisa bersama. Mungkin drama menyesakkan ini tak akan pernah terjadi padaku. Entah kenapa, tanpa sadar aku mengirimkan pesan pada Ben, sebuah pesan yang pada akhirnya harus kusesali sudah mengirimnya, mengingat ia saat ibu pasti bersama Nasya.


__ADS_2