
Dari rumah sebelah, pagi ini kembali terdengar suara teriakan. Kali ini tak hanya mas Hendri, tapi ada suara mbak Hana juga. Kami yang sedang bersiap sarapan langsung saling lirik. Menanti dengan jantung berdebar-debar.
Sungguh tak nyaman rasanya, apalagi setelah kemarin tahu alasan pertengkaran mereka. Tapi tak bisa melakukan apapun selain meremas jemari sendiri sebab perasaan sudah tidak karuan. Ingin menghampiri kok rasanya tidak pantas. Sekaligus penasaran, juga khawatir mbak Hana kenapa-kenapa.
"Ayo makan." kata ibu, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal aku yakin ibupun sama resahnya dengan kami. Meskipun ibu suka ceplas-ceplos, tapi aku tahu hati ibu sangat baik. Ibu juga menyayangi mbak Hana. Orang sebaik mbak Hana memang layak untuk disayangi. "Di, kenapa masih termenung. Ayo ambil nasimu. Makan yang banyak supaya Rizky enggak rewel dan kamu punya banyak waktu untuk menulis." tambah ibu, sambil mendorong piring ke hadapanku. "Kalau kamu melamun terus, keburu Rizky bangun. Nanti kamu gak bisa makan dengan nyaman, lalu ASI-nya berkurang."
Nyaman? Bagaimana bisa makan dengan nyaman saat kamu tahu ada seseorang di sana sedang bertengkar karena peduli padamu. Hanya orang yang tak punya hati yang bisa cuek seperti itu.
"Aaaaaa!" teriakan lagi. Antara teriakan mbak Hana dan mas Hendri.
Secara bersamaan; ibu, Ben dan sikembar Caca Cici langsung meletakkan sendok mereka. Semua melihat ke arahku, seolah aku tahu segalanya. Padahal aku sama bingungnya dengan mereka.
"Aku akan melihat mbak Hana." kataku, sambil bangkit dari tempat duduk.
"Tapi masih ada mas Hendri dan ayahnya mbak Hana." cetus Ben.
"Iya. Belum ada suara mobil pergi. Ayahnya juga sudah pulang sejak semalam." tambah ibu.
"Lalu bagaimana ini?" tanyaku lagi.
Kami saling diam. Hanya dalam hitungan detik, Hpku berbunyi. Ada pesan masuk. Ragu, aku melangkah mengambilnya.
"Dari mbak Hana." kataku, sambil melirik ke arah ibu dan Ben.
"Buka!" perintah ibu dan Ben bersamaan.
"Iya!" Kataku.
__ADS_1
[Di, bisa segera ke sini.] pesan dari mbak Hana.
"Bagaimana ini? Jangan-jangan ...." kataku. Sambil menutup mulut, membayangkan kondisi mbak Hana kemarin saat aku datang. Badannya luka lebam.
"Jangan-jangan apa? Jangan nakut-nakutin Di. Sana, cepat ke tempat Hana, siapa tahu ia butuh bantuan kamu." perintah ibu lagi. "Ayo Di, jangan diam saja!" Ibu terus mendesak.
"Tapi ada mas Hendri." ungkap ku. "Ibu kalau penasaran pergi ke sana saja." Aku malah menodong ibu.
"Ada ayahnya juga. Kalau ada apa-apa mas Rusdi nggak akan ngebiarin kamu kenapa-kenapa. Sekarang mending ke sana. Lihat buruan sebelum terjadi apa-apa." tambah ibu lagi.
"Tapi Bu ...." aku masih ragu-ragu.
"Sudah, nggak ada tapi-tapian. Segera ke sebelah, Di!" ibu mendorong pelan pundakku agar segera berlalu.
Berat sekali langkah ini. Bukan karena aku tak ingin menolong mbak Hana, tapi bingung. Meskipun tidak terlalu dekat dengan mas Hendri, tapi seperti yang dikatakan Ben, ia juga sangat baik. Beberapa kali atas inisiatifnya sendiri menolong kami.
Pelan, kuketuk pintu rumah mbak Hana. Sejak aku melangkah, masih hening. Rasanya waktu berjalan begitu pelan. Kalau mas Hendri yang membuka pintu, apa yang harus kukatakan padanya.
Ahhh, menyesal tadi tidak membawa sesuatu sebagai alasan bertandang sepagi ini. Setidaknya jika ia memperlihatkan raut wajah tidak senang, aku bisa memberikan alasan.
Kalau sekarang, apa yang harus kukatakan.
Baru mau mencari ide, tiba-tiba terdengar pintu dibuka. Jantungku semakin berdebar kencang.
Mbak Hana! Untunglah ia yang membuka pintu.
"Di ... Di ... Diandra!" pekik Mbak Hana. Berbeda dari sebelumnya, ia kini tampak ceria. Saking cerianya, ia sampai melompat-lompat kecil, persis kelakuan Caca dan Cici.
__ADS_1
"Han, jangan lompat-lompat. Itu berbahaya!" pekik mas Hendri dari dalam. "Oh, ada Diandra. Masuklah. Mana anak-anak? Hari ini kami pinjam mereka ya?" celetuk mas Hendri, lalu ia segera berlalu kembali ke dalam.
"Mbak, kenapa?" aku menatap penuh tanya. Serius, aku bingung dengan mereka berdua. Kemarin teriak-teriak, saat aku datang, hampir semua bagian rumah hancur. Enggak sampai dua puluh empat jam, mereka kembali berteriak-teriak, tapi kondisinya sudah berbeda. Mbak Hana begitu ceria, begitu juga dengan mas Hendri yanh terlihat lebih santai.
Ada apa ini?
"Kamu pasti bingung, kan? Maaf kalau aku menghubungi kamu pagi-pagi, Di. Tapi sebagai adik angkatku, yang selalu ada di sampingku selama hampir beberapa bulan ini, aku ingin kamu jadi salah satu orang yang tahu bahwa aku hamil Di!" teriak mbak Hana lagi. Ia tertawa kecil, sambil memegang kedua tanganku.
"Apa?" aku masih mencoba mengeja penjelasan mbak Hana.
"Ya Di, aku hamil. Aku akan segera punya anak, jadi ibu seperti kamu!"
"MasyaAllah ... Alhamdulillah. Beneran mbak? Ya Allah mbak, aku senang sekali.
Benar-benar senang, mbak!" kini justru aku yang tak bisa mengontrol diri sendiri, berteriak histeris sambik melompat-lompat kecil.
"Di!" panggil Ben dari sebelah. Mungkin ia khawatir. Sejak aku melangkah keluar rumah; ibu, Ben,Caca dan Cici mengawasi dari jendela rumah. Mereka janji akan segera datang jika melihat tanda-tanda bahwa aku butuh bantuan.
"Ya Ben, aku baik-baik saja!" pekikku lagi. "Ya Allah mbak, aku benar-benar senang sekali. Akhirnya doa-doa kita dikabulkan Allah. Mbak, please jaga bayi ini baik-baik. Aku sudah nggak sabar menanti kelahirannya!" ucapku, antusias.
"Ya Di, akupun begutu. Rasanya nggak sabar. Akhirnya penantian sepuluh tahun terjawab juga. Aku benar-benar bersyukur Di. Sangat bersyukur. Segala beban berat selama ini akhirnya hilang juga!"
"Syukurlah mbak!" Kami berdua berpelukan.
Sadar di rumah ada empat orang yang tengah menunggu cerita dariku, makanya aku buru-buru pamit setelah tahu bahwa ternyata semua baik-baik saja. Mbak Hana memintaku ke rumahnya sebab ia ingin memberitahu berita bahagia tersebut.
Sejak semalam mbak Hana sudah merasa tidak enak badan. Tapi ia mengira itu akibat jatuh saat berdebat dengan suaminya. Pagi ini, mbak Hana mencoba melakukan tes setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa tanda-tanda yang sudah dicurigainya sejak dua pekan lalu itu sepertinya benar-benar karena hamil dan hasilnya memang positif setelah beberapa kali tes. Untuk meyakinkan berapa usia kandungannya, mbak Hana dan mas Hendri akan pergi ke bidan sebentar lagi setelah mereka sarapan.
__ADS_1
Melihat senyum di wajah mbak Hana, rasanya tak rela jika perempuan sebaik dirinya harus kembali menangis seperti kemarin. Aku hanya bisa berjanji untuk segera menyempurnakan kebahagiaan itu. InsyaAllah aku akan kembalikan semuanya agar mas Hendri tak perlu marah lagi atas kebaikan istrinya.