ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
14. Kerepotan


__ADS_3

"Jadi kapan kamu bawa anak-anak pulang?" pertanyaan terakhir ibu yang kujawab dengan gelengan kepala. "Jangan membesarkan ego, Di. Ibu mohon."


"Bu, sudahlah, tidak perlu bersikap seperti itu. Aku sudah dewasa, tahu apa yang sudah jadi keputusanku. Semua konsekwensinya juga sudah aku pertimbangkan dan aku siap menghadapinya."


"Tapi ibu tahu, kamu hanya terbawa emosi."


"Terserah ibu sajalah."


"Di, apa kamu nggak kasihan sama anak-anak kamu?"


"Ibu sendiri nggak kasihan sama anak ibu?"


"Diandra!"


"Ibu pulang saja. Aku mau beberes dulu."


Akhirnya ibu pergi meninggalkan kami bertiga, tentu saja dengan banyak petuah yang menyudutkan aku. Meski kata-kata ibu terdengar menyakitkan, aku tak peduli. Kuputuskan untuk mengabaikan semuanya. Sesegera mungkin semua ini akan berlaku. Aku benar-benar akan bebas dari bayang-bayang Ben.


"Mama ... Mama ... Mama!" panggil Caca, sehingga membuta lamunanku buyar. Buru-buru aku ke belakang, menuju kamar mandi dimana mereka berada.


"Ada apa lagi, Ca?" tanyaku, dengan tergopoh-gopoh.


"Ini, airnya mati." Caca menunjuk keran air yang tidak kunjung mengucurkan air meskipun Cici sudah memutarnya. Aku terpaksa harus turun tangan untuk mengecek apa yang dilaporkan oleh Caca dan ternyata benar, airnya mati.


"Ya Tuhan, apalagi ini?" aku menepuk pelan keningku, lalu bergegas keluar, melihat ke kiri dan kanan. Barangkali ada yang bisa kutanyai, mengingat pemilik kontrakan ini rumahnya dua gang dari sini.


Aku beruntung, sebab tetangga kanan kebetulan keluar. Langsung saja kuhampiri untuk menanyakan tentang air yang mati.


"Di sini memang gitu, mbak. Airnya suka mati. Makanya harus nampung. Biasanya baru hidup besok pagi." jawab ibu muda yang kuperkirakan usianya di bawahku.


"Baru hidup besok?" aku hampir terbelalak mendengar penjelasan tersebut.

__ADS_1


"Iya mbak. Hidupnya cuma satu kali dalam sehari, yaitu pagi hari sampai jam delapanan, setelah itu mati. Makanya kita semua nabung air pakai ember dan dirigen."


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Berarti nggak bisa mandi atau ke toilet dong?"


"Mbak belum punya cadangan air? Kami yang tinggal di sini selalu nampung air mbak."


"Belum."


"Kalau begitu ambil punya saya saja satu ember, mbak. Tapi besok pagi tampung sendiri ya mbak."


Waduh, terimakasih banyak ya. Maaf, tadi dengan siapa ya?"


"Saya Rina, mbak."


"Oh, saya Diandra."


Satu ember berukuran kecil berpindah ke kontrakan kami. Hanya cukup untuk kebutuhan kamar mandi anak-anak. Padahal sejak pagi aku belum mandi. Rasanya benar-benar kesal, tapi entah pada siapa harus kulampiaskan.


"Nggak nggak nggak. Aku nggak boleh mikirin Ben!"


Buru-buru kutepiskan segala pemikiran tentang Ben, meskipun ia selalu jadi pendengar terbaik saat aku ngomel-ngomel untuk mengeluarkan setiap perasaan tidak enak, tapi aku tak boleh terjebak, ada banyak ketidak cocokan antara kami, kalau aku terus berpikiran untuk bersama dengannya, yang ada hidupku nggak akan pernah bahagia sama sekali.


Saat ini, aku berada di sini bersama anak-anak dalam rangka memperjuangkan kebebasanku dari Ben. Sekarang aku tak ingin terjebak lagi olehnya. Aku berhak mendapatkan yang lebih baik!


***


Ternyata ngontrak tidak sesimpel apa yang aku pikirkan, ada banyak yang harus aku persiapkan. Salah satunya dengan kondisi kontrakan yang airnya tidak lancar maka kami harus mempersiapkan ember untuk menampung air.


Jadilah siang ini kami lakukan untuk membeli perlengkapan yang benar-benar urgent sebab kondisi keuangan sudah semakin mepet. Hanya tersisa satu juta rupiah untuk tiga orang.


Setelah belanja-belanja hemat, akhirnya yang tersisa tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Aku sudah bertekad, tidak akan menghabiskannya sebab jika resmi bercerai dalam bulan ini maka Ben tak akan memarahiku lagi. Lalu dari mana bisa kudapatkan uang untuk biaya hidup kami bertiga? Sebagai bentuk penghematan di bagian makanan, aku terpaksa nyetok beberapa bungkus mie instan dan juga roti sobek.

__ADS_1


Aku benar-benar harus memutar otak agar bisa menemukan cara bisa dapat penghasilan cepat. Sebenarnya sebelum menikah aku pernah bekerja sebagai bagian administrasi di perusahaan swasta, tetapi pengalaman tiga bulan sepertinya tak akan bisa kubanggakan sementara begitu banyak saingan dengan lebih banyak kelebihannya.


"Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan apa yang kucita-citakan," Kataku sambil menepuk pelan keningku. Hari ini entah sudah berapa kali kening ini menjadi sasaran saat aku merasa kelupaan.


Menjadi penulis adalah salah satu mimpi besar ku. Bahkan karena ingin mengejar mimpi tersebut makanya aku berjuang agar bisa lepas dari Ben.


Ya, aku akan jadi penulis. Mengejar cita-citaku!


Kini, laptop pemberian Ben sudah standby, aku siap mengoperasikannya, menciptakan cerita yang akan laris dipasaran nantinya.


Baru saja hendak mengetik, tiba-tiba terdengar suara teriakan Caca dan Cici. Entah apalagi ulah kedua anak kembar itu.


Buru-buru aku menuju belakang untuk memastikan tidak ada hal terlarang yang mereka lakukan, tetapi ternyata harapanku tidak terwujud sebab kini kulihat Caca dan Cici basah kuyup. Mereka sudah menumpahkan sebagian besar isi air yang diberikan oleh tetangga.


"Caca, Cici!" Aku berteriak lantang, saking geramnya, tanpa sadar tangan ini melayangkan cubitan-cubitan kecil di tangan mereka .kemudian berlanjut ke telinganya.


"Awww, ampun ma, sakit!" Caca berteriak.


"Telinga Cici juga sakit ma," Cici ikut mengaduh dengan suara terbata-bata, menahan tangis.


Akhirnya tangis kedua anak kembar itu pecah juga saat aku menguatkan jeweran di telinga mereka. Kedua anak kembar itu langsung menghambur ke kasur tipis untuk tidur sebab takut mendengar aku marah.


"Sekarang juga tidur! Awas kalau kalian berulah lagi, maka kurung di luar!" kataku, sambil berkacak pinggang.


Lelah, benar-benar lelah. Baru saja hendak mewujudkan mimpi, ternyata sekarang harus kembali kandas sebab setelah Caca dan Cici tidur, semua ide yang tadinya bergelantungan di kepala mendadak raib. Aku benar-benar kesal dibuatnya.


Sebenarnya tadi ibu sudah meminta agar aku mengizinkannya membawa Caca dan Cici untuk tinggal sementara waktu di rumah ibu hingga aku tenang dan menyelesaikan kembali masalahku dengan Ben.


Tetapi tawaran ibu kutolak mentah-mentah sebab aku tak ingin berdamai dengan Ben. Hatiku sudah mantab untuk berpisah. Aku sudah mendaftarkan gugatan ke pengadilan agama setempat.


Hanya satu langkah lagi untuk mewujudkan kebebasan itu, aku tak ingin menyerah begitu saja meskipun ternyata merawat Caca dan Cici benar-benar melelahkan tanpa bantuan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2