
Jangan pernah mengganggu seorang ibu lewat anaknya sebab bisa saja ia mengamuk dan kamu tak akan bisa menghentikannya!
Aku langsung berlari keluar rumah setelah menitipkan Rizky dan Cici pada ibu. Mbak Hana sempat menghadang sebab ia khawatir terjadi sesuatu padaku, tapi aku adalah seorang ibu yang tak bisa tinggal diam jika ada yang berani mengganggu anakku.
"Di, tunggu Ben dan mas Hendri dulu. Nanti kamu ke sana bersama mereka." Pinta mbak Hana yang berusaha menyusul langkahku.
"Enggak bisa mbak, aku harus jemput Caca sekarang juga!" Kataku.
Dengan ojek yang kebetulan lewat, aku langsung tancap gas ke rumah pak Bimo. Tak perduli cukup jauhnya perjalanan. Di perjalanan pun Ben beberapa kali mencoba menghubungi. Mungkin ia khawatir terjadi apa-apa padaku.
[Aku akan menyusul kamu ke sana. Jangan masuk dulu sebelum aku datang ya!] pesan dari Ben. [Di, aku tahu kamu panik. Tapi sekarang kita sudah tahu dimana posisi Caca. Tenangkan dirimu, jangan bertindak gegabah. Aku nggak mau terjadi sesuatu padamu. Sabar ya Di. Aku sudah meluncur ke sana. Kamu jangan masuk dulu ya. Tolong dengarkan aku.]
[Jangan lupa bawa polisi!] aku berpesan balik, tanpa mengiyakan permintaan Ben. Ibu mana yang sanggup menunggu, diam saja saat anaknya diculik. Apa Ben berpikir bahwa aku ini bisa tenang hanya dengan tahu siapa yang membawa Caca? Enggak, justru setelah tahu bahwa Tomo yang menculiknya, aku semakin khawatir. Lelaki itu penjahat, ia bisa saja melukai putriku entah untuk tujuan apa.
Sampai di depan pagar rumah pak Tomo, aku langsung meloncat turun. Membayar dengan dua lembar ratusan ribu yang terselip di kantong baju. Lalu berlalu begitu saja tanpa perduli kembaliannya sebab tujuanku hanya satu, segera menemukan putriku kembali.
Pagar setinggi dua meter itu langsung ku gedor, aku mengayun keras sambil berteriak-teriak. sehingga menimbulkan suara yang berisik. Satpam yang berjaga langsung siaga mendekat, memintaku untuk tidak melakukan hal-hal yang mengundang keributan.
"Mbak ini siapa? Mau cari apa?" tanya pak satpam dengan agak kesal sebab aku tak mau berhenti.
"Panggil pak Tomo ke sini. Suruh dia keluar. Saya mau ketemu putri saya yang diculiknya. Kalau kamu nggak segera memanggil, maka akan saya tuntut kalian ke kantor polisi!" kataku.
Satpam itu masih kebingungan. Ia membuka sedikit gerbang untuk keluar agar bisa menghentikan aku. Tapi ia kalah gesit denganku yang langsung sigap mendorongnya, lalu menyelinap masuk ke halaman rumah sambil berlari kencang.
Jangan coba-coba dengan seorang ibu yang anaknya sedang kalian Tawan. Ia tak akan sama dengan ia yang biasanya. Sebab tenaga ibu akan bertambah berkali lipat kalau hal buruk sedang menimpa anaknya.
"Pak Tomo ... Pak Tomo! Buka pintu! Keluar sekarang atau saya hancurkan pintu rumah kalian!" aku benar-benar marah. Tak perduli apakah benar-benar bisa menghancurkan pintu tersebut, tapi aku tak mau diam hingga seorang perempuan paruh baya keluar.
"Lho, ini Diandra kan?"katanya padaku.
__ADS_1
Entah siapa perempuan itu, aku tak perduli. Yang aku ingin sekarang adalah bertemu dengan putriku.
"Mana putri saya?" tanyaku.
"Caca? Ada di dalam. Lagi main sama kakeknya. Kamu ke sini mau ...."
Belum selesai ia berbicara, aku langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Hanya beberapa kali berteriak, pak Tomo sudah keluar.
"Mana putri saya?" aku kembali mengamuk, persis seperti macan betina yang kehilangan anaknya.
"Di, datang-datang kok marah-marah. Caca ada di dalam. Lagi makan snak." jawab pak Tomo.
"Anda benar-benar kurang ajar ya! Berani sekali membawa pergi putri saya tanpa izin!" aku mulai beradu mulut dengannya. Hati ibu mana yang tidak panas ketika kehilangan anaknya meski itu baru tiga jam.
"Di, papa cuma mau ngajak Caca main di sini. Papa ini kan kakeknya Caca, nggak butuh izin dari kamu."
"Penjahat. Mana putri saya!"
"Enggak usah basa-basi..mana anak saya?" aku tetap tak mau melunak. Tujuanku kemari bukan untuk bertamu, tapi mengambil kembali putriku yang diculik.
"Diandra, duduklah dulu." lagi-lagi ia mencoba membujuk.
"Dengar ya pak, kalau terjadi sesuatu pada putri saya maka saya tidak akan memaafkan anda. Sekarang bawa putri saya ke sini."
"Hahaha, kamu ini..emosian persis seperti ibu kamu. Apa-apa maunya cepat-cepat. Tenang dululah..mari kita bicara baik-baik."
"Tidak. Mana putri saya?" kesabaranmu benar-benar habis. Aku tak bisa diam lagi, segera kulemparkan beberapa benda yang terjangkau oleh tangan hingga hancur berkeping-keping di lantai. "Mana anak saya atau saya hancurkan rumah anda!" kataku lagi.
"Hahahaha, kamu pikir dengan berbuat seperti itu bisa membuat saya segera bertindak."
__ADS_1
"Kembalikan putri saya. Jangan main-main dengan saya. Kamu nggak bisa mengambilnya dari saya!"
"Diandra, kalaupun hari ini kamu bisa mendapatkan Caca, belum tentu nanti bisa seperti ini." lelaki itu kembali tertawa sehingga membuatku makin muak.
"Mana putri saya?" lagi-lagi kupecahkan guci besar yang ada di sebelah kananku.
"Sebenarnya kamu mau apa?"
"Hahaha, sederhana. Saya tidak punya banyak waktu. Kamu tinggal di sini selama sebulan."
"Tidak akan pernah."
"Kalau begitu kamu harus bersiap merasakan hal seperti ini lagi."
"Saya akan laporkan anda ke kantor polisi."
"Hahahaha, Diabdra, jangan lakukan hal bodoh yang sia-sia. Siapapun tak akan bisa menangkap saya sebab semua bisa saya bayar."
"Untuk apa saya harus tinggal di sini?"
"Nanti akan saya beritahu."
"Menurut saja Diabdra." perempuan bernama Melani itu maju mendekat. "Kamu punya ibu, suami dan tida anak yang masih kecil-kecil, kan? Juga tetangga yang selalu menolong kamu. Apa kamu tidak takut terjadi sesuatu hal yang mengerikan pada mereka?"
"Kamu ngancam saya? Mau melakukan hal buruk pada kami?"
"Diandra, tidak usah banyak omong. Kamu tidak punya pilihan lain selain nurut. Setelah sebulan kamu boleh pergi kemanapun dan kami tak akan pernah mengganggu kamu lagi. Bagaimana?" ujar Melani lagi.
"Saya tidak mengerti. Kenapa saya harus ikuti apa yang kalian mau. Kenapa juga saya harus tinggal di sini selama sebulan?"
__ADS_1
"Kami butuh kamu dan kamu tak bisa lari dari kami!" perempuan yang kuperkirakan usianya baru empat puluhan tahun itu menatapku tajam. Ia yang semula berbicara lembut kini seperti sebuah sengatan listri yang akan menghancurkan aku.