
Air mata itu akhirnya jatuh perlahan, saat aku mulai menuturkan semua beban yang mengganggu emosiku hingga akhirnya aku bercerai dengan Ben.
"Sejak dulu, saya tak pernah percaya ada orang yang benar-benar peduli dengan saya, mbak. Sebab ibu, satu-satunya keluarga kandung saya saja selalu memandang saya sebelah mata. Ibu selalu meremehkan saya, tak ada satupun kebaikan yang dilihatnya dari diri saya hingga perlaha tapi pasti rasa percaya diri saya hilang.
Saya bahkan yakin bahwa diri saya sendiri memang tak berharga. Hanya beban untuk orang-orang sekitar saya.
Hingga akhirnya saya bertemu Ben. Sebenarnya ia lelaki baik. Sangat baik. Makanya ibu kekeh menjodohkan saya dengannya karena ibu yakin saya akan dijaga dengan baik oleh Ben. Tetapi sikap ibu yang berlebihan, selalu membela dan mengagung-agungkan Ben membuat rasa percaya diri saya semakin hilang. Saya malah cemburu pada Ben yang bukan siapa-siapa tapi istimewa di mata ibu.
Saya selalu berharap suatu saat bisa dilihat oleh ibu. Saya juga ingin dianggap berharga seperti Ben. Tapi tak pernah berhasil. Hingga akhirnya saya memilih untuk memusuhi Ben, menjadikannya sebagai saingan saya.
Lucu sekali, bukan? Tapi begitulah, meski terdengar kekanak-kanakan, sebenarnya saya memang bersaing dengan Ben. Saya selalu mencari kekurangannya. Satu-satunya cacat yang Ben punya adalah ia kurang dalam penghasilan. Saya pun berharap bisa menyalipnya untuk membuktikan pada ibu bahwa saya ini juga seberharga Ben.
Untuk bekerja di luar rasanya tidak mungkin sebab saya sudah punya anak dan kami punya perjanjian bahwa setelah menikah saya tidak perlu bekerja di luar rumah. Karena saya punya hobi nulis dan punya sedikit kemampuan menulis, akhirnya saya memantabkan diri menjadi penulis. Tetapi lagi-lagi tidaklah mudah emmbagi waktu untuk seorang ibu rumah tangga seperti saya.
Mungkin karena bawaan hormon kehamilan yang saya tidak sadari juga, emosi saya semakin meletup-letup. Saya mulai merasa bahwa Ben adalah sumber masalah dalam hidup saya. Ia menghambat saya mewujudkan mimpi-mimpi saya.
Makanya saya nekat menggugatnya. Mengabaikan segala nasihat yang meskipun semuanya benar. Saya menghancurkan bahtera yang kami bangun karena ambisi saya meraih simpati ibu." kataku, dengan wajah tertunduk.
"Mbak Di," mbak Hana memelukku erat. "Saya baru tahu seberat itu beban hidupnya mbak Di. Memang tidaklah nyaman jika orang-orang yang kita sayangi tak menghargai kita."
"Saya sebenarnya sudah tidak punya rasa kepercayaan diri karena ibu sudah menghancurkan semuanya. Ibu selalu mengatakan kalau saya adalah pembuat masalah. Saya hanyalah beban. Manusia yang tak berguna. Dan saya benci mendengar itu semua.
Awal-awalnya saya abai, bahkan tak peduli. Saya mencoba untuk menebalkan muka, tapi ketika sudah punya anak-anak, rasanya jadi kecil hati ketika mereka harus mendengar bahwa ibunya adalah manusia yang tidak berguna.
__ADS_1
Saya hanya ingin dihargai sedikit saja meskipun saya memang tak berharga di mata mereka. Setidaknya agar saya punya muka di hadapan anak-anak. Apa itu berlebihan?" tanyaku, dengan suara kembali bergetar, setalah tadi sempat berhenti menangis.
"Nggak ada yang salah jika mbak Di minta untuk dihargai. Toh sesama manusia kita memang harus saling menghargai. Iya, kan?"
"Tapi ibu tak memperlakukan saya seperti itu. Ibu tidak pernah peduli saya, mbak."
"Baiklah, kalau mbak Di mau merubah semuanya jadi lebih baik. Kita ubah. Saya akan bantu mbak Di. Saya akan emani dan selalu support mbak Di. Kita buktikan pada ibu bahwa mbak Di itu juga berharga. Ya?"
"Mbak Hana, terimakasih." rasanya aku sudah tak tahan untuk tidak memeluk wanita baik di hadaoanku ini. "Kenapa mbak Hana begitu baik? Kenapa mbak mau bantuin saya di saat semua orang meninggalkan saya? Kenapa mbak?"
"Karena begitu Allah perintahkan kita, mbak. Harus saling tolong menolong."
"Mbak Hana, bolehkah, saya menganggap mbak Hana seperti kakak saya sendiri? Seumur hidup saya tidak punya saudara. Kebaikan mbak Hana membuat saya benar-benar ingin berubah. Saya baru merasakan ada orang yang benar-benar peduli dengan saya setelah lebih dari tiga puluh tahun usia saya diabaikan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain."
Ya Allah ... lagi-lagi aku meneteskan air mata haru sebab kebaikan mbak Hana. Air mata kebahagiaan sebab bisa merasakan punya saudara. Tak hanya sebatas saudara, tapi menghargai kita. Menerima apa adanya.
"Makasih mbak Hana," kataku lagi.
"Sama-sama Di." mbak Hana menepuk pelan pundakku. "Sekarang ayo kita perbaiki semuanya. Kalau kamu mau bahagia, Di, kamu harus belajar memaafkan semua orang yang memberikan rasa sakit di hidup kamu supaya hatimu tenang. Maafkan mereka dan terus melaju menjadi lebih baik. Inilah cara balas dendam yang baik. Yaitu dengan memaafkan mereka, tetap berbuat baik, menghilangkan prasangka buruk, menerima mereka apa adanya. Bisa?"
"InsyaAllah mbak, saya akan coba."
"Pelan-pelan saja. Semoga Allah memudahkan kita ya."
__ADS_1
Aku dan mbak Hana merancang banyak hal, salah satunya bagaimana caranya agar aku bisa jadi penulis. Tiga hari lagi mbak Hana akan mempertemukan aku dengan saudaranya, ia yang akan memproses naskahku agarblayak terbit.
Dengan rencana-rencana yang kami buat ini, rasanya kini aku jadi lebih bersemangat dalam hidup untuk masa depan anak-anakku.
"Oh ya, satu lagi, mbak yang kemarin marah-marah itu. Siapa namanya?" tanya mbak Hana.
"Anis mbak." jawabku.
"Ya, mbak Anis. Kapan kita bicara dengannya? Sepertinya masalah dengan mbak Anis juga harus segera diselesaikan. Supaya kamu bisa tenang tanpa dilabrak lagi, Di."
"Tapi mbak," aku agak ragu-ragu.
"Kenapa Di?"
"Saya belum punya dana untuk mengembalikan uang Anis. Tiga puluh juta untuk sewa dua tahun bukanlah uang yang sedikit untuk saya saat ini, mbak. Apalagi saya juga harus mempersiapkan diri untuk biaya lahiran." kataku.
"Begini saja Di, uang tiga puluh jutanya saya talangi dulu. Nanti kalau kamu sudah punya dana, baru dikembalikan. Supaya dia nggak neror kamu dan anak-anak lagi. Kasihan anak-anak harus melihat hal-hal yang tidak baik darinya. Bagaimana?"
"Masya Allah ... mbak Hana, terimakasih banyak. Baiklah, saya terima tawaran mbak Hana."
"Kalau begitu segera hubungi dia. Kita temui sama-sama."
"Baik mbak Hana."
__ADS_1
Sesuai instruksi mbak Hana, aku langsung menghubungi Anis. Kami sepakat akan bertemu besok. Ku harap masalah antara kami bisa selesai. Aku tak ingin bermusuhan dengannya, meskipun Anis kemarin melabrak sampia membuatku harus masuk rumah sakit, tapi aku tak ingin membencinya sebab bagaimanapun ia pernah berbuat baik padaku. Seperti yang dikatakan mbak Hana, mulai sekarang lupakan keburukan orang lain, ingat baiknya saja.