ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
46. Janji Pada Caca


__ADS_3

"Ci, kemari. Dekat ke mama. Yuk, sini peluk mama." panggilku, sambil melambaikan tangan kanan, sementara tangan kiri masih merangkul Caca yang menangis sesenggukan sambil sesekali berceloteh agar aku tak suka pada Haris. "Ayo nak, sini!" panggilku lagi.


Cici masih duduk di kursinya sambil menangis. Ia mengabaikan panggilanku, sambil menggelengkan kepalanya. Untuk Cici, kadang membujuknya memang perlu ekstra kesabaran karena menurutku ia tipikal anak yang suka memendam semua yang dirasakannya.


"Assalamualaikum!" suara seseorang dari pintu. Tampak Ben berdiri memandang kami dengan tatapan bingung. Entah sejak kapan ia di sana. "Hei, kenapa ini pada nangis?" tanpa permisi Ben masuk ke rumah, ia langsung memeluk Cici, sementara Caca menyusul ke pelukan Ben setelah melepaskan pelukanku.


"Papa!" panggil Caca sambil menangis.


"Iya nak, papa di sini. Kalian kenapa?" tanya Ben, sembari mengecup pelan kening kedua putrinya. Secara bergantian. "Caca dan Cici kenapa?"


"Om jahat itu datang." kata Caca. "Om bilang cinta sama mama. Tapi Caca nggak suka. Papa saja kan yang cinta sama mama? Caca nggak mau papa dan mama kayak papa dan mamanya Dea yang bercerai terus punya papa dan mama baru yang lain. Caca nggak mau. Caca cuma maunya mama Di dan papa Ben. Itu saja. Ya kan pa? Jawab Caca, pa. Nggak boleh ada papa dan mama baru, ya. Janji sama Caca, kita akan pulang ke rumah Jakarta, terus tinggal bareng kayak dulu lagi. Caca janji nggak akan Najla, Caca akan nurut sama mama dan papa. Tapi jangan cerai kayak papa dan mama Dea, ya!" pinta Caca sambil terus menyeracau di antara Isak tangisnya.


"Ya nak." Ben yang semula bingung dengan apa yang terjadi pada anak-anak sepertinya mulai mengerti meski belum terlalu jelas. Ia mencoba menenangkan anak-anak sambil memeluknya.


Entah berapa lama Ben berbincang denhaj Caca dan Cici hingga kini tak ada lagi suara tangisan Caca dan Cici, meski aku tak tahu apa yang sudah mereka bicarakan sebab aku memilih menepi ke warung membawa semua rasa sakit di hati ini meluhay ekspresi Caca dan Cici yang begitu tertekan.


Ibu mana yang tak sedih ketika meluhay anaknya terpukul apalagi atas kesalahan yang ia buat. Dulu aku memang pernah melakukan kesalahan, tapi sekarang aku ingin berubah dan tak mau ada kesalahan yang kedua. Aku ingin berubah.


***


"Bisa kita bicara sebentar?" tiba-tiba Ben sudah berada di depan pintu warung.


"Caca dan Cici?" tanyaku.


"Mereka sudah tenang. Sekarang lagi baca majalah yang tadi aku bawakan."


"Oh, terimakasih Ben. Kamu memang selalu bisa menenangkan anak-anak."


"Aku tak ingin basa-basi. Apa yang tadi terjadi? Kenapa anak-anak sehisteris itu? Siapa om jahat yang mereka maksud?"


"Hufff," aku menghela nafas, sembari duduk di kursi yang sengaja disediakan di sana. "Tadi Haris ke sini."


"Haris? Haris siapa?"

__ADS_1


"Ia teman satu angkatanku. Kamu pernah bertemu dengannya beberapa kali sebelum kita menikah."


"Haris Budiman?"


"Ya, itu. Kamu kenal?"


"Buat apa dia ke sini?"


"Dia temanku. Apa salah kalau mengunjungi temannya? Sama seperti kamu dan Nasya."


"Beda masalah. Apa dia ke sini menyatakan cinta lagi?"


"Lagi? Maksudnya?"


"Ya, laki-laki itu pernah datang di malam menjelang pernikahan kita. Ia menemuiku, minta agar aku melepaskan kamu sebab ia mencintai kamu."


"Kenapa kamu nggak bilang, Ben?"


"Kenapa kamu jadi menuduhku?"


"Aku hanya penasaran saja sebab tadi kamu begitu menggebu-gebu."


"Ya, aku bingung saja, kenapa kamu nggak bilang padaku? Sama seperti aku tak mengerti kenapa Haris nggak bicara dari awal. Tiba-tiba muncul dan membuat masalah dengan pernyataannya."


"Jadi ... perasaan kamu juga sama dengannya?" Ben menatapku dengan tatapan menyelidik, sehingga membuatku tak nyaman. "Sejak kapan kamu bertemu dengannya lagi?"


"Itu bukan urusan kamu, Ben. Kita sudah berpisah. Segala hal yang berhubungan dengan urusan pribadiku bukan lagi urusan kamu."


"Baiklah, sekarang aku mengerti Di." Ben beranjak masuk ke dalam rumah, tak lama ia keluar, lalu eprgi meninggalkanku sendiri yang masih belum bisa mengontrol emosiku sendiri.


Kenapa semua jadi begini? Menimbulkan salah paham. Aku tak seperti yang Ben bayangkan. Dalam hatiku benar-benar tak ada nama Haris, hanya tentang Ben saja. Aku mempertanyakan sikap Ben yang menyembunyikan semuanya dahulu sebab aku menyesali akhir dari semuanya, Haris akhirnya bicara sekarang saat aku sudah bercerai dengan Ben dan di dengar oleh kedua putriku.


"Ahhh, benar-benar kacau sekali!" aku menghempas pekan tanganku. Kenapa juga tak kujelaskan semuanya pada Bne, malah menimbulkan salah sangka. Lalu sekarang bagaimana cara menjelaskan pada Ben bahwa aku tak pernah berharap pada Haris sama sekali.

__ADS_1


"Mama ...." kini Caca mendatangiku.


"Eh Ca, kenapa?" tanyaku, berusaha beeiskao biasa agar ia tak menangkap kekalutanku. Rasanya tak ingin membebani anak-anak dengan permasalahan kami orang-orang dewasa. Aku ingin mereka bahagia. "Cici mana?" tanyaku lagi, sambil melihat ke belakang, tapi tak ada Cici di sana.


"Mama marahan lagi sama papa? Tadi papa nangis." cerita Caca.


"Hah, papa nangis? Nggak kok, hanya ...."


"Mama, benar mama nggak sayang sama papa? Benar mama akan seperti mama dan papa Dea?"


"Kamu bicara apa?"


"Apa Caca akan punya papa baru?"


"Nggak Ca,"


"Sebenarnya Caca cuma sayang sama papa Ben, tapi kata papa, kita harus buat mama bahagia. Apa benar mama bahagia sama om jahat tadi? Kalau memang begitu, Caca nggak apa-apa, yang penting mama nggak sedih dan marah-marah lagi sama papa." kata Caca sambil berurai air mata.


"Caca, kamu bicara apa sih?"


"Nanti kalau ada papa baru, mama masih sayang sama Caca dan Cici, kan?"


"Ca!"


"Caca akan selalu sayang mama. Tapi kalau ada papa baru, Caca mau tinggal sama papa Ben saja ya ma. Kasihan papa Ben, sudah lama tinggal sendiri. Nggak apa-apa kan ma?"


"Caca!" aku menarik Caca dalam pelukan, rasanya sudah tidak sanggup mendengar kalimat lanjutan dari bibirnya. "Maafin mama, Ca. Maafin mama. InsyaAllah nggak akan ada papa baru. Hanya papa Ben, mama akan berusaha supaya kita bisa kembali seperti dulu lagi." kataku, sambil menangis berpelukan


Kamu pernah melakukan kesalahan, menyakiti orang-orang yang kamu sayangi. Kalau kamu menyadarinya, jangan lakukan untuk kedua kalinya.


Entah kenapa sekarang harapan terbesarku hanya satu, kembali pada Ben dalam bahtera pernikahan. Untuk kebahagiaan anak-anak dan diriku sendiri.


Halo pembaca yang baik, jangan lupa like dan komen ya :)

__ADS_1


__ADS_2