ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
67. Hadiah Dari Ben


__ADS_3

"Katakan padaku, seperti apa orangnya?" kini aku sudah berdiri tepat di hadapan ibu, menanti jawaban darinya.


"Apa?" ibu mengerutkan keningnya.


"Itu, laki-laki itu."


"Siapa Di? Ada banyak laki-laki di muka bumi ini, jangan buat ibu bingung."


"Ibu ini, masa tidak tahu apa yang aku maksud. Ayah kandungku. Seperti apa dia? Apakah ia benar-benar berbahaya?"


"Oh, dia. Ya, dia sangat berbahaya. Dia punya banyak uang dan juga kekuasaan. Apapun bisa didapatkannya."


"Lalu kenapa ia tidak mencari saat ibu pindah? Bukankah dalam perut ibu saatnitu ada aku, anak kandungnya. Ia takut kan kalau ada perempuan lain yang melahirkan anaknya."


Ibu tak menjawab. Hanya tersenyum sambil menerawang jauh ke depan, seolah sedang mengingat sesuatu. Entah apa, tapi senyuman ibu benar-benar berbeda dari biasanya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Ahhh, tidak. Bagaimana aku bisa berkesimpulan ibu jatuh cinta. Ia kan tidak pernah berhubungan atau menjalin cinta dengan lelaki manapun sebab ayah kandungku sudah menghancurkan kehidupan ibu. Masa depannya benar-benar berantakan karena ulah si Tomo itu.


Gigi-gigiku bergeretak membayangkan apa yang sudah dilakukan ayah kandungku sendiri pada ibu. Tega sekali ia padahal ada darah dagingnya di perut ibu.


"Bu." aku menepuk pelan pundak ibu hingga ia terperanjat. "Ayo jawab. Kenapa pak Tomo tidak mencari ibu? Bukannya ia tahu kalau ibu sedang mengandung anaknya dan semula ia benar-benar mengejar-ngejar ibu agar mau menggugurkan kandungan."


"Seseorang sudah membantuku." jawab ibu.


"Siapa?"


"Ia bagian administrasi di rumah sakit tempat ibu bekerja dulu. Satu-satunya orang yang tak memandangku sebelah mata. Bahkan ia begitu menghormati aku, seolah aku ini adik perempuan yang harus dijaga dengan sebaik mungkin."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Haaaa, apakah ia pacar ibu?"


"Enak saja. Kau kira aku ini perempuan seperti apa yang berpacaran dengan suami orang. Ia lelaki yang sudah beristri dan aku sangat menghormati istrinya sebab ia pun ikut membantuku pindah.

__ADS_1


Orang itu yang membantu mengurus administrasiku. Ia yang mengakali seolah aku pindah ke rumah sakit di luar pulau, padahal aku hanya pindah kerja di rumah sakit lain yang masih berada di Jakarta."


"Oh, berarti ada orang baik yang membantu ibu juga."


"Ya, tapi pertemuan kami hanya sebentar saja. Setelah pindah, aku maupun dia tak berani lagi saling bertemu, kami menutup kemungkinan jika ada yang menemukan keberadaan ku karena sejujurnya tak ada yang bisa aku percaya saat itu. Terlalu banyak orang-orang yang berkomplot dengan dokter Tomo untuk menghabisi aku."


Refleks aku memeluk ibu. Bisa kubayangkan bagaimana takutnya ibu sendirian, tanpa ada yang melindungi, dalam kondisi hamil di usia yang masih sangat muda.


"Ibu, maafkan aku." kataku.


"Makanya, jangan keras kepala lagi, Di. Ibu tidak mau berurusan dengan dokter Tomo lagi. Sejujurnya ibu masih takut." kata ibu.


Tok tok tok. Suara pintu rumah diketuk. Aku dan ibu sama-sama kaget, lalu aku bergegas membuka pintu, setelah menyambar kerudung. Ternyata Ben.


"Ada apa? Caca dan Cici belum pulang sekolah." kataku.


"Aku ingin bicara dengan kamu, Di." kata Ben, sambil memamerkan sebuah amplop coklat berukuran besar.


"Apa itu?"


"Oh ya, sampai lupa." aku mempersilahkan Ben masuk. "Sekarang beritahu aku, amplop apa itu?"


Ben menyodorkan amplop tersebut padaku. Tentu saja langsung kubuka dan isinya ternyata sertifikat rumah.


"Apa ini?" tanyaku.


"Gambar rumah." jawab Ben.


"Ya ampun Ben, kalau itu aku juga tahu. Tapi maksudku, untuk apa?"


"Jadi, aku berencana memperluas rumah kita agar nanti saat kamu kembali merasa syaman di rumah seperti apa yang kamu inginkan. Sementara waktu aku sudah mendesain secara sederhana, belajar otodidak dari internet. Ku harap kamu suka, atau jika punya refrensi lain juga boleh. Bagaimana, senang?"


Entahlah, rasanya bingung. Apakah harus menggeleng atau pura-pura bahagia. Sebenarnya aku tak terlalu tertarik lagi kembali ke rumah itu jika kami rujuk nanti, aku lebih suka tinggal di sekitar sini, syukur-syukur bisa tetap bertetangga dengan mbak Hana.


Di rumah yang lama ada tetangga yang super nyebelin. Suka julid. Kalau aku kembali ke sana rasanya tidak mungkin jika ia tak menyiyiri kami yang sempat bercerai. Bisa dipastikan ini akan jadi topik paling menarik untuk Bu Fenti untuk menggosipkan atau justru menyindirku.

__ADS_1


Padahal jika kami rujuk nanti, kemungkinan anak bungsuku masih bayi. biasanya emosiku masih labil akibat baru punya bayi.


"Ben," kataku.


"Ya? Kamu mau modelnya seperti apa? Di google ada banyak desain yang bisa kita contoh, kamu pilih saja salah satu, Di. Nanti akan aku bantu jelaskan pada tukangnya, mana yang menurut kamu paling nyaman."tanya Ben dengan wajah antusias.


"Memangnya kamu punya uang?"


"Alhamdulillah aku baru dapat bonus. Kamu tahu kan, menjelang Bercerai aku pernah meminta kamu bersabar sebab aku sedang menerima proyek dan ada bonus sebesar lima puluh juta. Rencananya mau kuberikan setelah proyek selesai, tapi kamu sudah keburu menggugatku."


"Ya maaf. Tapi Ben, segitu apa cukup?"


"Kita berdoa semoga cukup. Aku akan terus bekerja keras mencari tambahannya."


"Ben, apa kamu mau mendengar pendapatku?" rasanya tidak mungkin untuk terus menyembunyikan semuanya dari Ben, aku ingin ia tahu bahwa aku tak nyaman di sana.


"Ya."


"Aku tak ingin kembali ke sana."


"Kenapa?"


Aku tak tega menjelaskan pada Ben yang sebenarnya bahwa aku enggak kembali ke rumah itu. Sekalipun sudah renovasi tetap saja masih kalah dengan rumah Bu Fenti. Apalagi dana yang dimiliki Ben hanya lima puluh juta. Mungkin hanya bisa menambah satu atau dua ruangan. Nggak kan berarti apa-apa.


"Aku nggak mau ke sana lagi. Aku ingin tinggal di sini saja." kataku.


"Kenapa, Di?"


"Ben, masa kamu nggak bisa mikirin kalau uang segitu hanya cukup untuk menambah satu atau dua ruangan. Nggak akan merubah rumah awal kita. Aku nggak mau Ben. Nanti aku akan punya bayi, kondisi emosiku masih sangat labil dan akan mudah terpancing. Kalau suasananya tidak sesuai dengan yang kuinginkan pasti akan gampang terpancing."


"Ya ... aku tahu Di, aku tak akan pernah bisa memberikan kehidupan yang baik untuk kamu dan anak-anak kita. Soal ekonomi aku memang lemah seperti yang kamu katakan." Ben menunjukkan raut wajah kecewa.


"Ben, bukan begitu maksudku."


"Hehehe, tak apa-apa Di. Aku akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kamu dan anak-anak. Aku tak ingin mengecewakan kamu lagi." Ben pamit pulang. meninggalkan aku dengan perasaan bersalah.

__ADS_1


__ADS_2