
"Assalamualaikum, baru ya?" sebuah suara mengagetkan aku yang baru kembali berbelanja kebutuhan warung setelah mengantarkan Caca dan Cici ke sekolah barunya yang persis berada di depan rumah kontrakan baru kami.
Seorang perempuan dengan kerudung panjang berwarna ungu tersenyum ramah padaku. Kerudung panjangnya mengingatkan aku pada Anis. Sapaan itu kujawab apa adanya karena jujur aku takut mengenal orang yang sejenis Anis, takut kalau pertemanan hanya dimanfaatkan saja.
"Baru pindah, mbak?" tanyanya. "Saya Hanya, tinggal di rumah sebelah. Yang tadi pagi itu anak-anaknya ya? Kembar pasti? Lucu sekali. Pengen nyapa tapi kayaknya buru-buru."
"Iya." jawabku, singkat. "Maaf ya mbak, saya sibuk, mau beberes. Buka warung."
"MasyaAllah, mau buka warung tho. Alhamdulillah, berarti kalau mau jajan nggak perlu lagi jauh-jauh ke belakang kompleks. Saya bantuin ya."
Aku yang berusaha menghindarinya tak bisa berkutik ketika perempuan bernama Hana yang kuperkirakan seusia denganku itu mulai membuka kardus berisi belanjaan ku untuk di tata di ruangan kecil, paling depan sisi rumah yang kujadikan warung.
"Maaf, tadi nama mbak siapa?" tanyanya, sambil menyusun jajanan anak-anak.
"Diandra." jawabku.
"Kalau anak-anaknya?"
"Caca dan Cici."
"MasyaAllah. Oh iya, tinggalnya bertiga saja?"
"InsyaAllah berempat."
"Oh, suaminya pindahnya nyusul ya?"
"Enggak. Saya sudah cerai. Keempat dengan calon bayi saya."
"Subhanallah. Ternyata mbak lagi hamil?"
"Iya."
"Sudah berapa bulan?"
__ADS_1
Mbak Hana yang ceriwis ini mengingatkan aku pada tetangga sebelah rumah Ben. Semula sikapnya baik, ingin tahu segala hal tentangku, tapi lama-lama berubah jadi menyebalkan. Makanya, pada mbak Hana, aku agak sedikit cuek.
Di sini, hanya ada aku dan anak-anak. Aku ingin memulai hidup baru dengan tenang. Tanpa adanya hambatan. Makanya tak ingin terlalu dekat atau menerima kebaikan dari siapapun sebab aku tak ingin pada akhirnya dimanfaatkan.
"Sudah mbak bantuinnya. Saya bisa sendiri. Nggak mau merepotkan orang lain." kataku, berusaha menghentikan mbak Hana yang melanjutkan pekerjaannya.
"Enggak apa-apa. Nggak ngerepotin kok. Justru senang karena ada teman ngobrol." Katanya sambil menyunggingkan senyum.
"Siapa tahu suami atau anaknya nyari mbak Hana?"
"Suami saya sudah berangkat kerja semenjak jam tujuh tadi. Kalau anak saya belum punya."
"Oh, maaf."
"Hehehe, nggak apa-apa kok mbak."
"Memang sudah menikah berapa tahun?"
"Sudah sepuluh tahun. Kami nikah muda."
Aku dan mbak Hana larut dalam hening untuk sesaat. Kami sibuk menyusun makanan kecil dalam toples-toples sederhana yang baru kubeli. Aku tahu, bagi pasangan yang sudah lama menikah, tapi belum punya keturunan, masalah seperti ini kadang sensitif untuk mereka.
"Oh ya mbak Di, nanti kalau mau belanja, ajak saya saja. Ada mobil nganggur di rumah. Jadi mbak Di nggak perlu nenteng-nenteng." katanya. "Kasihan kan lagi hamil juga."
"Enggak apa-apa kok mbak. Tadi saya diantar sama angkot. Cuma turunnya agak ke sana karena tadi ada mobil yang parkir di depan TK, jadi ngalangin."
"Oh begitu."
Begitulah pertemuan pertamaku dengan tetangga kami tersebut. Mbak Hana, dari rumahnya aku tahu ia orang berada, apalagi ketika ia bercerita kalau suaminya kerja di perusahaan minyak daerah Jakarta Selatan. Tetapi pernikahan mereka terasa hambar sebab belum juga mendapatkan momongan.
Suami mbak Hana selalu pulang malam. Itulah sebabnya ia sering main ke rumah kami dengan membawakan berbagai macam hadiah untuk Caca dan Cici. Mulai dari makanan, mainan, buku-buku hingga dua buah sepeda yang aku tahu harganya tidaklah murah.
"Nggak perlu repot-repot mbak Hana. Apalagi sampai ngasih kado-kado dengan harga mahal seperti ini " Kataku, sambil menunjuk dua buah sepeda berwarna merah muda dan ungu yang sudah ditunggangi Caca dan Cici. Sejujurnya aku takut saja kelak akan dimintai balas Budi atas kebaikan yang sudah ia lakukan pada kami, seperti kejadian-kejadian yang menimpaku sebelumnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok mbak Di. Saya senang malahan, apalagi kalau anak-anak excited seperti itu. Mbak Hana tahu kan, di rumah sepi sekali nggak ada anak-anak, selama ini nggak tahu mau membelikan mainan untuk siapa." katanya.
"Mbak Hana, sebelumnya mohon maaf ya, kenapa mbak Hana nggak ngambil anak angkat saja, atau ngangkat anak saudara?" tanyaku, hati-hati. Sebab secara perekonomian ia sangat mampu.
Mbak Hana tersenyum. Ia memang sebelumnya sudah pernah cerita padaku tentang usahanya mendapatkan momongan dengan mendatangi beberapa rumah sakit besar untuk menjalani program punya anak, tapi hingga sekarang belum juga berhasil.
"Suami nggak mau mbak Di. Katanya punya anak angkat itu nggak semudah itu. Apalagi kalau anaknya sudah agak besar. Ia belum siap menghadapi sikap penolakan anak angkatnya nanti jika tahu jati dirinya sebenarnya. Mungkin karena kebanyakan nonton sinetron kali ya." mbak Hana tertawa kecil, sehingga membuat aku lega sebab menerka bahwa ia tidak tersinggung dengan usulanku.
"Mbak Di sendiri nggak mau menikah lagi? Mumpung masih muda?"
"Hah, nggak dulu mbak. Saya tidak memikirkan untuk menikah lagi. Sekarang mau membesarkan anak-anak saja. Lagian saya baru sebulanan bercerainya."
"Oh, berarti bercerai saat sudah hamil ya."
"Iya." Lagi-lagi kami terdiam, baru berbicara lagi untuk menanggapi ulah Caca dan Cici yang kesenangan mendapatkan mainan baru.
Ujian hidup itu ada-ada saja ya. Ada yang kaya raya, menikah muda, tapi tidak punya momongan. Ada yang diberi keturunan, suami yang baik tapi tidak bisa bersyukur sehingga berakhir seperti ini. Aku hanya bisa tersenyum miris dengan suara hatiku sendiri.
"Mbak Di, akhir pekan besok, saya boleh ajak Caca dan Cici nggak?" pertanyaan mbak Hana membuyarkan lamunanku. "Nggak lama kok, mau saya ajak ke Dufan. Boleh ya."
"Hm, gimana ya mbak." aku tak tahu harus menjawab apa karena sebenarnya berat melepaskan kedua anakku, tapi karena baru mendapatkan hadiah, berat juga untuk menolaknya.
"Please mbak Di, boleh ya?"
"Apa nggak ngerepotin? Caca dan Cici kadang suka rewel "
"Nggak apa-apa. Saya malah senang. Pengen ngerasain juga gimana rasanya tamasya satu keluarga."
Kata-katanya barusan membuatku makin tidak enak untuk menolak. Tapi juga tidak ingin mengiyakan. Pasti sangat sulit melewati hari-hari tanpa adanya anak-anak, pasti hidup mbak Hana sangat sepi sekali. Tapi aku nggak mau ia menganggap anak-anakku sebagai keluarganya.
"Bagaimana mbak Di, boleh ya?" tanyanya lagi.
"Ya, silakan." kataku, dengan berat hati.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terimakasih ya mbak Di!" Mbak Hana begitu senang, ia sampai memelukku erat-erat hingga aku kesusahan bernafas. Baru dilepasnya setelah melihat ekspresiku yang agak ngap.
Melihat ekspresinya yang begitu senang, ada perasaan bersalah sebab sudah bersikap cuek dan agak dingin. Tetapi semua kulakukan demi melindungi keluargaku sendiri. Aku nggak mau anak-anak kenapa-napa.