ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
49. Ibu, Maafkan Aku


__ADS_3

"Makan yang banyak, Di. Jangan ditahan-tahan seleranya. Jangan hanya gara-gara takut gendut lalu makannya dikurangi. Ingat, sekarang makanan yang kamu makan itu bukan untuk diri kamu sendiri saja, tapi juga untuk anak ketiga kamu. Jangan sampai ia kekurangan. Ngerti kan Di?" ucap ibu, panjang lebar, sembari menambahkan satu potong besar daging yang dimasak jadi sup oleh ibu. "Lihatlah, betapa kurusnya kamu sekarang. persis orang yang kurang makan. Malu sekali ibu melihatmu, Di."


"Siapa yang nahan selera? Juga siapa yang takut gendut? Ibu kayak nggak tahu aku saja, aku kan nggak pernah memperhatikan penampilan." kataku, sambil melahap makanan di piring yang sudah disendokkan oleh ibu. "Ibu malu atau kasihan?" Tanyaku, sambil tertawa kecil.


"Kamu ini, masih sempat-sempatnya meledek ibu. Bukan kasihan Di, tapi sedih saja. Makanya jadi orang jangan keras kepala. Kamu sudah membuat ibu ingin menangis. Dasar anak banyak ulah!" Ibu mengalihkan dengan pura-pura marah.


"Hahaha, ibu ... Ibu. kenapa sih susah sekali ngaku kalau ibu sangat peduli denganku?"


Sejak hamil, berat badanku memang kurang. Terakhir periksa, bu bidan sudah mengingatkan agar aku berusaha menaikkan berat badan demi calon bayiku, sebab kalau dihitung-hitung, berat badannya sekarang tidak sesuai dengan standar.


"Iya ya, bagaimana ibu bisa lupa kalau seorang Diandra itu slebor dan selalu abai dengan segala-galanya." ibu masih tak mau kalah.


"Hanya itu saja yang ibu ingat dariku?" aku menatap ibu dengan penuh tanda tanya.


"Kamu itu pemalas, cepat bosan, tidak bisa diandalkan karena sikap manjaku yang kadang terlalu berlebihan. Pokoknya selalu membuat ibu khawatir saja. Kemanapun kamu pergi, dengan siapapun, kecuali Ben, ibu tak akan pernah tenang karena ibu tahu kamu pasti akan membuat masalah.".


"Hanya itu, Bu? Kenapa yang ibu ingat semua keburukan aku saja. Benar-benar nggak ada yang baik. Malang sekali aku ini, atau jangan-jangan aku memang buruk, tak ada sedikitpun yang bisa dibanggakan?"


"Kata siapa? Meskipun kamu punya banyak kekurangan, tapi kamu adalah sumber kebahagiaan ibu."

__ADS_1


Aku mengerutkan kening, masih mencerna kata-kata terakhir yang diucapkan ibu. Bagaimana mungkin seseorang yang punya banyak kekurangan, tapi hampir tak punya kelebihan tapi menjadi sumber kebahagiaan. Lucu sekali bukan?


"Di, kamu tahu, sejak kamu lahir, kamu adalah sumber kebahagiaan ibu, setelah lelah yang ibu rasakan selama ini. Kamu juga alasan kenapa ibu mau bertahan hidup hingga saat ini sebab kamu, Di.


Ibu tahu, segala kekurangan kamu adalah karena ketidak mampuan ibu dalam mendidik kamu. Ibu terlalu sibuk menabung pundi-pundi uang untuk bekal hidup kamu nantinya. Ibu tak ingin kamu kekurangan, makanya ibu berusaha keras.


Ibu bahkan tak pernah memberikan sedikitpun kepercayaan saat melepas kamu. Makanya kamu urakan seperti ini.


Di, maafin ibu ya. Tolong bahagialah nak bersama Ben dan anak-anakmu, sebab kebahagiaan kamu adalah sumber kebahagiaan ibu juga." kata ibu dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Ibu, kenapa malah jadi mellow lagi? Aku tak apa." Aku mencoba tersenyum meski haru begitu nyata. "Bu, aku juga minta maaf sebab selama ini selalu membuat masalah yang pasti membuat ibu jadi pusing dan sedih. Mulai sekarang aku akan memperbaikinya. Aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk ibu. Mau kan Bu, memaafkan aku?"


"Bu, kalau ibu benar-benar sayang sama aku, boleh nggak aku tidur di pangkuan ibu? Aku juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya tidur di pangkuan ibunya. Boleh ya, Bu."


"Ya ampun Di ... Di, seperti tidak punya permintaan lain saja. Jangan berlebih-lebihanlah." ibu pura-pura marah. Aku tahu, itu adalah cara ibu agar tidak terlihat malu sebab ibu adalah tipikal orang yang agak kaku, susah untuk menyampaikan perasaannya sendiri.


Itulah alasan utama kenapa aku dan ibu tidak pernah akur sebab sejujurnya sejak kecil aku begitu ingin dekat dengan ibu. Tapi ibu tak pernah punya waktu untukku, bahkan kadang sekedar menemaniku hingga tertidur saja ibu tak mau. Selalu saja ada alasan ibu untuk mengelak dari permintaan yang menurutku tidak berlebihan sebab hampir seluruh teman-teman di sekolah mendapatkannya dari ibu mereka. Alasannya karena kesibukan ibu yang luar biasa.


Padahal aku tak punya ayah, bahkan tak tahu bagaimana bentuk wajah ayah, tapi aku tak pernah mengeluhkan, hanya sekali bertanya saat usiaku sepuluh tahun dan ibu bilanh kalau ayah sudah tidak ada, entah tak ada yang seperti apa, tapi aku tak bertanya lagi karena saat itu kulihat ekspresi ibu tampak tidak suka. Meski sebenarnya aku menahan rindu yang begitu besar, juga tanda tanya besar yang entah kapan akan terjawab.

__ADS_1


"Apa begitu berat Bu, memangku aku sebentar saja? Padahal aku sering melihat ibu memangku Caca dan Cici, sekali dua lagi. Nggak adil sekali!" kataku, pura-pura ngambek.


"Ya ampun Di, kekanak-kanakan sekali kamu itu. Masa sama putrinya sendiri cemburu. Tapi tak apa, sini, tidur di pangkuan ibu sepuas kamu, agar tak perlu lagi cemburu pada Caca dan Cici. Malu dengan umur, Di!" Ibu segera pindah ke atas tikar agar aku bisa berbaring di pangkuan ibu.


"Biarin!" aku segera menghambur, meletakkan kepala di atas pangkuan ibu, lalu dengan lincah tangan ibu mengusap kepalaku. "Jadi begini ya rasanya tidur di pangkuan ibu." kataku, sembari memejamkan mata, menikmati tiap sapuan tangan ibu di kepala.


Tes. Setitik air mata jatuh ke wajahku. Lalu kembali menetes untuk kedua, tiga, empat. Saat kubuka mata, tampak ibu sedang menangis.


"Maafkan ibu ya Di, maaf sekali." pinta ibu dengan suara serak akibat menangis.


"Bu, aku nggak apa-apa kok." jawabku, memaksakan senyum meski sebenarnya hatiku juga gerimis.


"Harusnya ibu tidak egois, sibuk kerja hingga lupa kamu juga tanggung jawabnya ibu. Bahkan untuk sekedar memelukmu saja bisa dihitung jari. Maafkan ibu ya, Di. Semoga ibu masih punya kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa ibu padamu ya Di."


"Ibu jangan begitu. Semua keburukan ku ya atas perbuatan aku sendiri. Sementara kebaikan adalah karena baiknya Tuhan sama kita. Juga doa-doa ibu."


"Di," ibu memelukku, sehingga membuat kami hanyut dalam haru.


"Bu, ibu tinggal di sini saja ya. Setidaknya sampia aku lahiran dan menikah dengan Ben. Aku nggak enak kalau Ben datang ke sini. Kami kan bukan mahram."

__ADS_1


"Kamu itu, jadi baik-baikin ibu karena mau nyusahin ibu lagi? Di ... Diandra, selalu saja memanfaatkan kebaikan orang lain." celoteh ibu, sedang aku tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2