
[Caca dan Cici kemana? Kenapa tidak ada di kontrakan semalam ini? Kamu bawa kemana mereka, Di?] pesan dari ibu.
Sebenarnya aku tak ingin membalas karena sejujurnya aku kesal membacanya. Kenapa ibu tak juga berubah, setidaknya lebih menghargai aku sebagai ibu dari anak-anakku. Kemanapun mereka kubawa, terserah aku. Tapi ibu malah sebaliknya, memperlakukan aku dengan tidak baik.
Sebagai ibu yang melahirkan aku, seharusnya ibu bisa bertanya baik-baik agar tidak membuat sakit hati dan berakhir pada jawaban sinis juga.
[Diandra, kenapa tidak dijawab? Apa yang kamu lakukan pada cucu-cucu ku? Kamu mau ibu adukan pada Ben, dia juga bisa mengambil anak-anak dari sisi kamu jika kamu tak bisa menjaganya!] pesan kedua ibu. [Ibu akan hubungi Ben, biar dia saja yang mencari Caca dan Cici. Sekalian lapor polisi, supaya kamu kapok berbuat sesuatu sesuai kehendak kamu!]
Astagfirullah. Aku mengusap pelan wajahku, mencoba menenangkan diri. [Caca dan Cici itu anakku!] begitu balasan pesan yang aku kirimkan pada ibu.
[Ibu tahu, tapi kalian dimana?]
[Kami pindah di dekat tempat kerjaku.]
[Kenapa tidak mengabari? Dimana alamatnya?]
Aku langsung mengirimkan alamat kepada ibu. Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit ibu sudah sampai di sini, diantar tukang ojek langganan ibu. Tentu saja masih mengomel, karena ibu merasa kesal sebab aku tak memberitahu akan pindah.
"Tempat seperti apa ini? Katanya kamu mau memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Kalau di sini, jauh lebih baik rumahnya Ben yang selalu kamu hina-hina itu, Di.
Itulah, makanya jangan suka menghina milik orang lain. Akhirnya Allah balaskan kepada kamu. Dapatnya yang seperti ini. Itu namanya buah dari kesombongan. Kalau hanya kamu yang dapat karmanya sih ibu nggak masalah. Ini malah ngajak cucu-cucuku segala. Lagian kamu kerja apa, sih? Jadi pembantu? Tinggal di mess sudah seperti calon TKW saja. Kamu itu terlalu sombong, Di. Lihatlah apa yang kamu dapatkan. Ngaca harusnya Di!" ibu masih mengomel, sementara Caca dan Cici mendengarkan neneknya dengan seksama.
Tentu saja apa yang dilakukan ibu membuatku naik pitam. Menjelek-jelekkan aku di hadapan anak-anak adalah hal yang tak bisa kutoleransi meskipun aku pernah melakukannya pada Ben. Tapi aku mengaku salah.
Untuk sesaat aku hanya diam, mencoba menelaah apa yang ibu katakan. Menghina rumah Ben? Sombong? Karma? Apakah aku seburuk itu?
__ADS_1
Tidak. Aku langsung menggelengkan kepala, tak mau terbawa suasana. Meski apa yang dikatakan ibu benar, tapi bukan begitu cara menegur apalagi menasihati orang lain. Jika disampaikan dengan kasar, yang ada malah akan mental pada orang yang dinasihati. Apalagi ibu tahu karakterku yang cukup keras.
"Caca ... Cici, ayo tidur!" kataku.
Kedua anak kembar itu melihatku, begitu juga dengan ibu yang menatap tajam. Aku tak peduli, kalau ibu hanya mau mengeluarkan sampahnya di sini, kedua anakku tak boleh mendengarnya.
Aku sudah membuat mereka tidak nyaman dengan perceraian ayah dan ibunya, sekarang jiwa mereka tidak boleh kacau hanya karena omongan pedas neneknya.
"Ibu masih mau bicara dengan cucu-cucu ibu!" ucap ibu dengan tegas.
"Ini sudah pukul sembilan malam, besok mereka harus sekolah Bu. Biarkan mereka istirahat. Lagian ibu juga harus pulang." aku memanggil tukang ojek langganan ibu yang sedang duduk di depan, memintanya untuk segera mengantarkan ibu Pulang.
"Kamu ini nggak berubah juga, Di!" kata ibu, sebelum ia meninggalkan rumah kami.
Ya Tuhan ... aku lelah. Tidak nyaman dengan ini semua!
"Kenapa ibu tak juga mau mengerti? Setidaknya elajar dari apa yang sudah terjadi antara aku dan Ben. Kami berpisah juga karena campur tangan sikap ibu yang tak pernah mau mendengarkan aku. Ibu terlalu merendahkan aku." bulir itupun keluar satu-persatu, sebenarnya tak ingin menangis di depan anak-anak, tapi aku butuh mengeluarkan air mata ibu agar lega.
"Ma," Caca mendekap pelan punggungku. "Mama sedih ya karena nenek marah-marah? Memang mama melakukan kesalahan apa?" Caca mengguncang tubuhku. "Ma, kalau nenek marah, mama jangan ikutan marah, mama minta maaf saja."
"Kenapa harus minta maaf?" tanyaku, sambil berbalik menatap anak berusia lima tahun tersebut.
"Kan nenek ibunya mama. Kita kan harus hormat sama orang tua "
"Tapi yang namanya orang tua juga bisa salah."
__ADS_1
"Caca tahu, ma. Caca sama Cici juga sering minta maaf sama mama meski kami nggak salah. Kata papa, minta maaf itu nggak membuat kita rugi, nggak membuta kita hina. Malah untung. Buktinya, kalau mama marah dan kita minta maaf, mama nggak marah lagi, kan? Dari pada kita melawan, yang ada malah mama makin marah, terus kita dapat dosa deh. Emang Mama mau dosanya numpuk sama nenek, nanti jadi anak yang durhaka lho, anak durhaka tempatnya di neraka."
Sepasang mata bulat Caca menatapku lekat. Aku tahu, sebenarnya ia agak ragu bicara, mungkin takut aku marah.
Tetapi apa yang dikatakan anak ini benar. Ahhhh, rasanya benar-benar malu. Jadi selama ini sikap mereka yang selalu tertata itu adalah hasil didikan diam-diam Ben.
Ahhhh Ben, kenapa kamu selalu saja memangkul apa yang harusnya jadi tugasku. Dan bodohnya aku, tak menyadari itu semua. Aku malah sibuk mencari kekurangan kamu!
Air mataku makin deras, membuat Caca dan Cici kebingungan.
"Mama, jangan nangis. Maafin Caca kalau Caca salah ngomong." pinta Caca, ia ikut menangis sambil memelukku dengan erat.
Ahhhh Ben, entah kenapa aku benar-benar rindu kamu. Sepertinya apa yang dikatakan ibu benar. Aku butuh kamu, Ben untuk mengendalikan sikapku yang masih egois dan sesuka hati sendiri.
Andai kita tidak bercerai. Andai aku menyadari ini semua lebih awal, mungkin aku akan jadi manusia paling bahagia di dunia ini sebab memiliki suami sebaik kamu.
"Ben!" aku tak sanggup lagi, akhirnya nama itu keluar juga dari lisanku.
"Mama!" Caca dan Cici ikut menjerit. Kami bertiga menangis sambil berpelukan.
***
Sudah pukul dua belas malam. Aku masih terbangun dengan mata yang bengkak karena menangis cukup lama. Sementara Caca dan Cici telah ketiduran sambil memeluk kaki kiri dan kananku.
Ben, maafkan aku ...
__ADS_1
Kini, bayangan wajah Ben terlihat nyata di hadapanku. Ahhhh, aku benar-benar menyesal sudah menggugat laki-laki sebaik kamu, Ben. Aku benar-benar menyesal. Tetapi apakah semua bisa kembali seperti dulu, sedangkan saat inipun kamu tak ingin bicara padaku. Maafkan sikapku yang egois, Ben.