
Sepasang mata yang tadi menatapku dengan sangat tajam kini berubah sendu, bahkan kedua manik matanya dipenuhi kaca-kaca. Tak pernah sebelumnya aku melihat Ben dengan ekspresi sesedih ini. Apakah ia benar-benar terluka oleh perceraian ini? aAhhh Ben, jangan begitu, aku tak sanggup kalau kamu seperti ini. Aku akan merasa semakin bersalah.
"Di, kamu tahu kan arti anak-anak untukku?" ia membuyarkan lamunanku, sekaligus menghapus buncah bahagia di hati.
Jadi, yang dikhawatirkan Ben hanyalah anak-anak.
Ahh, betapa naifnya aku. Berani-beraninya berharap kalau Ben akan tetap mencintaiku setelah semua masalah yang aku ciptakan.
Perlahan aku menggigit bibirku keras-keras agar sadar bahwa di mata Ben, aku bukanlah siapa-siapa lagi. Mungkin malah Ben menyesal sudah menikah denganku karena selama ini aku tak pernah bisa membuatnya bahagia. Entah mengapa rasanya ingin memaki diri sendiri, berani-beraninya aku berharap banyak pada Ben kala itu padahal aku sendiri jauh dari kata sempurna, bahkan untuk patuh pada Ben saja aku tak bisa.
"Maafkan aku," kataku, sambil berusaha menguatkan diri sendiri sebab kini mengetahui bahwa benar-benar tak ada aku di hati Ben. "Aku sungguh minta maaf." kataku lagi, sebab tak mendapati jawaban dari Ben.
"Kamu tahu, kehilangan ibu dan adik adalah hal yang paling menyedihkan bagiku, tapi lebih sedih lagi karena kamu memisahkan aku dari anak-anak, apalagi bayi yang kamu kandung, Di. Apa salahnya? Kalau kamu marah, marah saja padaku. Kalau kamu mau menghukumku karena tidak bisa memenuhi segala harapan kamu, cara seperti ini sukses membuatku menderita, Di!" Ben sedikit berteriak, sehingga membuatku kaget.
"Ben," entah kenapa, rasanya hatiku pun hancur berkeping-keping. Aku tak bermaksud seperti itu, aku tak benar-benar marah padanya, mungkin hanya perasaan kecewa saja, tapi karena dibalut dengan ego, akhirnya terjadilah semua ini. "Aku bahkan tidak tahu kalau aku sedang hamil, baru tahu setelah kita resmi berpisah, Ben."
Air mata Ben benar-benar pecah, ia tak bisa berkata-kata, tapi terlihat begitu hancur. Ben, tolong jangan emnangis di hadapanku sepeda itu, tolong Ben. Andai kita masih halal, aku ingin memeluk kamu, Ben. Tapi sekarang, aku yakin kamu akan menepisku.
Katakan Ben, katakan sesuatu. Apa saja yang harus aku lakukan agar keadaan kita bisa membaik. Bisakah Ben, beri aku kesempatan? Tolong Ben, jangan biarkan aku menderita seperti ini.
"Biarkan anak-anak ikut aku," pintanya, setelah agak tenang, sambil menghapus sisa air matanya.
"Nggak!" kataku dengan tegas.
"Aku akan menjaga anak-anak dengan baik."
__ADS_1
"Tidak, Ben!"
"Kamu sedang hamil, Di!"
"Tapi aku baik-baik saja. Kamu ingat kan, bagaimana saat aku hamil Caca dan Cici, semua baik-baik saja. Begitu juga dengan hamil anak ketiga kita ini, ia sama sekali tidak menyusahkan aku."
"Kalau begitu tinggal dengan ibu saja."
"Nggak!"
"Di, tolong. Bagaimana aku bisa tenang jika kalian jauh. Aku tak akan membiarkan anak-anak kenapa-kenapa."
Ahhh, Ben, kenapa hanya anak-anak. Lalu bagaimana dengan aku? Tak bisakah kamu perhatian sedikit saja padaku, Ben, seperti dulu. Oke, aku tahu, kita bukan lagi suami istri, tapi Ben ...
Aku dan Ben mengakhiri perdebatan ketika kukatakan bahwa kami akan baik-baik saja. Aku juga memberinya alamat rumah kontrakan kami dan janji akan mengabarinya jika terjadi sesuatu.
Maafkan aku ... pintaku, dengan suara pelan, nyaris tak terdengar siapapun.
Aku dan anak-anak ikut pulang bersama mbak Hana dan suaminya, sebelum mobil meninggalkan kantor polisi, tampak Ben masih memandang kami, di sampingnya ada Nasya. Kenapa dia harus selalu ada di samping Ben?
Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Pandanganku jauh kedepan, ada banyak hal yang aku pikirkan, salah satunya tentang kami ke depannya.
Apakah antara aku dan Ben memang benar-benar sudah tidak ada harapan lagi? Apakah benar kami nggak akan mungkin bisa bersatu.
Ya Tuhan, kenapa membayangkannya begitu berat.
__ADS_1
***
Anak-anak sudah terlelap, mungkin mereka kelelahan karena tadi kata mbak Hana, waktu di Dufan, banyak arena bermain yang mereka jajal.
"Mbak Di," panggil mbak Hana yang masih berada di rumah kami. "Saya benar-benar minta maaf ya sebab gara-gara saya mbak Di dan mantan suaminya jadi berkelahi."
"Oh, enggak apa-apa kok mbak Hana." aku memaksakan senyum. Toh, cepat atau lambat Ben akan menemukan kami. Aku yakin ia tak akan tinggal diam di pisahkan dari anak-anak.
"Mbak Di, saya tau ini masalah pribadi mbak Di. Tapi, kalau mbak butuh teman bicara, saya siap mendengarkan, meski ada yang bisa lebih menenangkan yaitu bicara pada Allah."
Aku terdiam. Andai aku terbiasa berbicara dengan Allah, aku yakin masalah yang menurutku sangat berat ini bisa kuhadapi dengan tenang tanpa merugikan siapapun, tapi aku terlalu jauh dari-Nya sehingga yang ku menangkan adalah nafsu dan emosi saja. Sehingga kini berujung pada penyesalan.
"Saya sebenarnya menyesal bercerai," akhirnya pengakuan itu lolos juga dari lisanku. "Ben, sebenarnya adalah suami terbaik. Tetapi karena sedikit kekurangannya, hilang semua kebaikannya di mata saya. Yang terlihat hanyalah kekurangannya saja, ditambah saya yang jauh dari Tuhan, sehingga membuat saya begitu lemah dan gampang tertipu daya oleh setan."
Aku menarik nafas pelan, menatap lurus ke depan, seolah menembus dindin rumah kontrakan, mencoba mengingat kembali betapa baiknya Ben selama ini padaku.
"Tapi semuanya sudah terlambat, saya dan ayahnya anak-anak sudah berpisah. Kami sudah tak bisa bersatu lagi." kataku dengan nada suara lemah.
"Kata siapa? Nggak ada yang enggak mungkin menurut Allah mbak Di." kata mbak Hana, seoalj menyemangatiku yang benar-benar kehilangan harapan.
"Dia akan menikah dengan orang lain, mbak Hana." kataku, sambil tersenyum miris. "Sudah benar-benar nggak ada harapan lagi."
"Ya Alah ...."
"Yang membuat saya semakin menyesal adalah karena saya sudah mengorbankan kebahagiaan anak-anak saya, terutama bayi yang ada di dalam kandungan ini, ia benar-benar tidak akan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah secara utuh, dan itu karena ulah saya sendiri!" Perlahan, bulir bening itu lirih juga tanpa izin.
__ADS_1
Aku menangis sembari tertawa, menertawakan diri sendiri yang begitu gegabah. Sombong sekali aku dahulu yang berani-beraninya membanggakan diri sendiri, merasa semua akan lebih baik jika tak berada di sisi Ben, tapi sekarang, aku malah merasakan sebaliknya. Sehingga membuta miris saja.