ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
22. Janji Seorang Ibu


__ADS_3

Aku dan kedua anak-anak sudah berada di kontrakan. Kini, kami bertiga duduk melingkar. Entah kenapa, saat ini aku merasa benar-benar syahdu, ketika akhirnya bisa bersama lagi dengan Caca dan Cici setelah perpisahan selama tiga hari.


"Mama mau minta maaf sama Caca dan Cici karena belum bisa memberikan yang terbaik." kataku, diikuti oleh tatapan dua pasang mata anak kembar tersebut. "Tapi mama janji, InsyaAllah akan berusaha agar bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. Mama akan bekerja dengan gigih dan selalu memperhatikan kalian. Mau kan memberi mama kesempatan?"


"Iya ma!" jawab Caca dan Cici serentak.


Aku langsung memeluk erat mereka, manik mata langsung berkaca-kaca, kemudian buliran bening itu menerobos dengan derasnya.


Aku kira, perceraian akan jadi solusi untuk masalah aku dan Ben, ternyata malah jadi masalah baru untuk anak-anak. Mereka yang jadi korbannya. Harus merasakan bagaimana tidak nyamannya situasi akibat perceraian ini.


"Maafkan mama ya, nak!" pintaku lagi, setelah melepas pelukan kami.


"Mama jangan nangis. Caca dan Cici nggak marah kok. Kami sudah memaafkan mama." kata Caca.


"Iya, ma." tambah Cici.


"Sekarang mama berhenti nangis ya." pinta Caca sambil menghapus sisa air mataku, sementara Cici menggenggam erat tanganku.


"Terimakasih ya nak. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal, bertiga saja!" kataku dengan antusias.


"Memangnya papa nggak akan pernah sama kita lagi, ya ma?" tanya Caca, ia menatapku penuh tanda tanya. Dari kedua netranya, aku bisa melihat ada luapkan kerinduan yang dipendamnya. Kedua anak ini memang belum paham betul apa yang terjadi, sehingga selalu merasa kelak kami akan berkumpul kembali.


Ya Tuhan, begitu berdosanya aku pada anak-anak ini. Dosa? Ahhhh, entah kenapa ada perasaan tidak enak mengingat betapa banyak hal-hal yang aku langgar hanya karena memperturutkan egoku saja. Apa yang dikatakan ibu memang benar, aku terlalu egois. Tidak mau mendengar apa yang dikatakannya. Rasanya benar-benar sedih sekaligus kecewa pada diri sendiri.


Meski belum bisa menerima seluruh perkataan ibu, tetapi tentang sikapku yang egois, aku menyadari bahwa itu benar. Aku egois, sangat egois.


Ben, ia lelaki baik. Sangat baik sebenarnya sebab ia selalu berusaha untuk memahami aku meski tak semua keinginanku bisa dipenuhi olehnya sebab keterbatasannya.


Aku hanya terlalu lelah dengan aktivitas rumah, juga bercampur dengan itu pada teman-teman yang sudah sukses. Tetapi benar kata Ben, setiap orang harus menjalani proses yang berbeda-beda. Ada yang cepat mencapai cita-citanya, ada juga yang masih butuh perjuangan.


Ditambah lagi seringnya muncul perasaan di hati bahwa aku bisa menjadi orang besar jika terlepas dari Ben, tetapi ternyata semua tidaklah mudah. Apa yang aku rasakan salah. Bahkan, hingga detik inipun aku telah kehilangan rasa percaya diri yang sebelumnya sempat menggebu-gebu.

__ADS_1


Tentang cinta, saat ingin berpisah dengan Ben, rasa itu sempat terabaikan, tetapi sekarang, saat kami benar-benar sudah berpisah, rasanya ada perasaan sakit di sini sebab tak bisa lagi bersama dengannya.


Apakah aku menyesal? Mungkin ya, tapi semua sudah terjadi. Mungkin Ben juga sudah membenciku, buktinya sampai detik ini ia selalu menganggap ku tak ada. Ben tak pernah mau lagi bicara denganku.


***


Malam telah larut, dua anak kembarku telah tidur dengan lelap. Sementara aku masih duduk di samping mereka, memandang wajah-wajah tak berdosa itu. Tiba-tiba aku kembali ingat Ben, sebab di wajah mereka ada banyak kemiripan dengan Ben. Hidungnya yang mancung, bibir tipis serta kedua kelopak matanya.


Tuhan, kenapa denganku?


Aku tak boleh seperti ini. Meskipun menyesal, tapi aku harus menjalani konsekuensi dari apa yang sudah kulakukan.


Sekarang, aku harus bekerja keras untuk kedua anak ini agar bisa memberikan yang terbaik untuk mereka.


"Jangan menyerah Diandra, semangat. Demi Caca dan Cici, kamu harus melanjutkan semuanya meski tanpa Ben!" kataku, menyerukan semangat untuk diri sendiri. Tetapi rasanya malah semakin sesak, ada banyak kesedihan yang terasa saat aku dan dia kini tak bisa bersama lagi, dan itu karena ulahku sendiri.


***


"Mama bangun pagi?" tanya Caca, ia sampai mengucek-ngucek matanya untuk mengecek apakah ini benar-benar aku atau bukan.


"Iya dong. Kan mama sudah janji, mau jadi mama yang baik untuk kalian berdua." kataku. "Sekarang siap-siap, bantu mama beresin perlengkapan tidur, terus mandi, lalu sarapan sebelum berangkat sekolah!" Kataku, penuh semangat.


"Mama nggak salat Subuh?" kini giliran Cici yang bertanya.


"Hah, oh iya." aku memaksakan senyum setelah mendengar pertanyaan tersebut.


Salat? Rasanya sudah beberapa bulan ini salatku bolong-bolong, bahkan seharian kadang tidak salat.


Aku akui, urusan ini aku memang agak lalai. Biasanya Ben yang mengingatkan, kadang ia juga yang memaksa kalau aku ogah-ogahan, terutama untuk salat Subuh. Tapi kali ini, ketika dua anak itu mempertanyakan tentang salatku, rasanya seperti pukulan yang cukup menyakitkan.


Kenapa jadi anak kecil yang mengingatkan?

__ADS_1


"Salat bareng-bareng yuk, ma!" ajak Caca, sambil menarik tanganku menuju kamar mandi.


Aku menurut saja, setelah berwudhu, kami bertiga menyelesaikan salat berjamaah. Selama salat, aku benar-benar blank, tidak membaca satu bacaan salat pun karena ini seperti Dejavu.


Ben adalah orang yang tak pernah bosan mengingatkan aku agar mau salat. Ia selalu mengatakan, kalau mau mudah segala-galanya, perbaiki hubungan dengan Allah.


Ahh, entah bagaimana sekarang hubunganku dengan Sang pencipta. Mungkin bisa dikatakan buruk seperti kehidupanku yang hancur berantakan.


Pernikahanku gagal. Itu karena ulahku sendiri yang tak sabar mendampingi Ben.


"Ma, kok melamun?" Caca mengguncang lenganku sebab tak kunjung beranjak dari tempat salat meski kami sudah selesai sejak beberapa menit lalu.


"Hah, oh iya " Kataku.


"Mama ngelamunin apa? Pasti ingat papa?" tebak Caca.


Aku hanya tersenyum, sehingga membuat Caca semakin semangat untuk menggodaku.


Ahhh, Ben, betapa bodohnya aku sebab sudah gegabah menggugat hingga akhirnya sekarang harus merasakan penyesalan. Mungkin kini aku tak punya kesempatan lagi untuk bisa bersama dengannya.


"Ma, nanti kita boleh ketemu papa, nggak?" tanya Caca.


"Ketemu dimana?" aku balik bertanya sembari menuangkan nasi kedalam piring Caca dan Cici.


"Di sekolah." ungkap Caca, sembari menyendok nasi gorengnya.


"Ya, boleh. Tapi jangan kemana-mana ya, supaya mama mudah jemputnya." pintaku.


Setelah selesai sarapan, kami bertiga melangkah menuju sekolah Caca dan Cici. Sepanjang jalan kami tak berhenti bercerita tentang apa saja yang menarik bagi kami sambil berjalan bergandengan tangan.


"Nak, mama janji ... Akan berusaha jadi ibu yang baik untuk kalian. Mama akan terus menggenggam tangan kalian. Tak akan pernah mama lepaskan. Semoga nanti setelah kalian paham apa yang terjadi antara mama dan papa, kalian bisa memaafkan mama yang begitu gegabah serta egois ini." ungkapku dalam hati sembari menggenggam erat tangan Caca dan Cici di sisi kanan dan kiriku.

__ADS_1


__ADS_2