
Aku masih tak habis pikir, kenapa semua terjadi begitu cepat. Kemarin semua masih baik-baik saja, hanya selangkah lagi maka Tante Maya bisa bertemu dengan putrinya, tapi sekarang semuanya menjadi seperti ini. Kasihan sekali ia, padahal terlihat begitu baik.
"Apa yang terjadi pada semua makhluk sudah atas kehendak Allah, Di. Kita nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Sekalipun kita bisa membawa Nasya bertemu ibunya kemarin, jika sudah takdirnya meninggal sekarang ya tetap tidak bisa dielakkan." nasihat mbak Hana, yang menemaniku di kamar, setelah diantar pulang oleh Ben.
"Tapi setidaknya Tante Maya bisa bertemu putrinya sebelum meninggal, mbak." Iya, aku mengerti, semua adalah takdir Allah. Tapi, semua ini terasa janggal. Mungkinkah ada sesuatu di balik kematian Tante Maya?
"Iya sih, Di."
"Apa kita bisa mengotopsi mayat Tante Maya? Kira-kira sulit, tidak ya mbak? Caranya bagaimana, ya?" Tanyaku pada mbak Hana lagi. Sejujurnya aku masih belum bisa melupakan semua ini. Aku sangat yakin Tante Maya adalah orang baik, ia pasti jadi korban atas kejahatan seseorang, dan orang itu pasti Tomo.
"Hanya pihak keluarga dan kepolisian yang bisa mengajukan otopsi, Di." jawab Mbak Hana.
"Kalau begitu aku harus segera menemui Nasya, aku akan minta ia untuk memeriksa jenazah ibunya. Pasti ada yang ganjil." aku hendak bangkit dari tempat tidur, tapi tertahan oleh mbak Hana.
"Mau kemana, Di?"
"Kemana lagi kalau bukan menemui Nasya. Aku harus memberitahunya secepat mungkin."
"Tapi Di, sekarang Nasya pasti sedang berduka. Ia pasti tengah mempersiapkan pemakaman ibunya. Rasanya tidak mungkin untuk menemui sekarang."
"Nggak boleh diundur lagi, mbak. Mumpung jenazah Tante Maya belum dimakamkan. Aku nggak mau gagal untuk kedua kalinya. Efek kita mengundur waktu kemarin, akhirnya kita kehilangan kesempatan mengeluarkan Tante Maya dari rumah sakit jiwa, sekarang semua orang pasti mengira ia sakit jiwa. Ia kan mbak? Kasihan sekali Tante Maya, namanya harus dibersihkan. Penjahatnya harus segera ditangkap!"
"Iya juga sih, tapi kan ...."
"Tapi apa lagi, mbak?"
"Ben kan sudah melarang kamu keluar, kalau ia tahu kamu pergi bisa-bisa Ben marah. Tadi juga Ben nitipin kamu ke mbak, jadi jangan pergi ya Di. Mbak nggak mau Ben marah gara-gara kamu pergi tanpa permisi."
__ADS_1
"Nanti saja kita pikirkan, sekarang aku harus pergi sebelum jenazahnya dimakamkan. Lagian siapa tahu nanti ketemu Ben di saja, katanya dia juga mau ziarah bersama teman-teman kantornya."
"Kalau begitu aku yang antar. supaya aku yakin kamu baik-baik saja."
Berdua dengan mbak Hana kami menuju rumah Nasya. Anak-anak dijaga oleh ibu. Ada banyak doa yang ku panjatkan pada Allah, semoga saja semua bisa terungkap agar penjahat yang sudah tega menyakiti Tante Maya bisa mendapatkan hukuman yang setimpal.
Ternyata bukan perkara mudah menemukan Nasya, sebab runanya dipenuhi oleh orang-orang yang sedang melayat, beruntung, jenazahnya belum dikebumikan.
"Bagiamana ini, rumahnya penuh sekali. Mana nggak ada satupun yang kita kenal." Aku mengeluh sebab lelah melengok ke kiri dan kanan, tapi sosok Nasya tak juga kelihatan.
"Tamunya ramai sekali." Tambah mbak Hana.
"Aku cari ke sebelah sana, mbak ke sebelah situ ya." kataku. Kami terpaksa berpencar agar mudah menemukan Nasya.
Aku mulai menyusuri rumah Nasya bagian kanan, mencari di antara orang-orang yang sedang berkunjung, tapi tak juga ketemu. kenapa rumahnya begitu besar, jadi susah mencarinya.
Bukan hal sulit untuk mengenalinya, sebab ternyata benar perkataan ibu dan Tante Maya, aku dan Tomo begitu mirip, kami seperti pinang dibelah dua.
Lelaki itu tengah duduk di sisi kanan jenazah, sesekali berbincang dengan pelayat yang menyapanya. Ia tampak berkharisma dengan koko putih dan celana hitam. Sementara, Nasya ada di sisi kiri, tak jauh dari ayahnya. Kalau aku mendekat, bisa-bisa lelaki itu melihatku. sebab mereka berhadap-hadapan.
Tapi apa pedulinya, ia pasti tak akan mengenaliku. Toh sebelumnya kami tak pernah bertemu. Lagipula dalam kondisi seperti ini mana sempat ia mengingat tentang anak biologis yang sempat ingin dibunuhnya.
Dengan penuh percaya diri aku mendekat, hanya beberapa langkah dari Nasya, tiba-tiba langkahku terhenti sebab kedua netraku saling bertatapan dengan Nasya. Saat melihatku, ia langsung melotot, mungkin karena kaget atau tak menyangka aku datang ke sini.
Nasya segera bangkit dan menyusulku. Ku kira ia akan mengajak bicara, tapi ternyata Nasya menarik kasar tanganku, menjauh dari keramaian. Menuju bagian samping rumahnya, di mana tak ada orang lain di sana.
"Apa-apaan ini? Ngapain kamu di sini?" tanya Nasya padaku. "Apa lagi rencana kamu, Di?"
__ADS_1
"Aku cuma mau mengatakan sesuatu." kataku.
"Apalagi anak haram? Aku sedang tidak ingin bicara dengan kamu!"
"Bisa nggak sih bicara yang baik? Aku ke sini bukan untuk mencari perkelahian!"
"Terserah, aku tak peduli, yang jelas aku tak suka kamu datang ke sini!"
"Baiklah, singkat saja, aku mau kamu melakukan otopsi pada jenazah Tante Maya sebelum ia dimakamkan!"
"Kenapa begitu? Apa maksudmu?"
"Kamu nggak curiga, Tante Maya meninggal secara tiba-tiba, bisa saja ada yang menyakitinya. Atau sampai mencelakai. Tante Maya itu tidak gila tapi dimasukkan ke rumah sakit jiwa, itu saja sudah janggal. Ayolah Sya, aku yakin kamu nggak sebodoh itu, atau jangan-jangan kamu memang bodoh!"
"Apa maksudmu, Di? Tiba-tiba datang menuduh seperti itu, jangan-jangan kamu punya niat buruk hendak menghancurkan keluargaku, ia kan? Diandra, kamu saja belum pernah ketemu mamaku, tapi sudah merasa paling tahu semuanya."
"Aku pernah bertemu Tante Maya!"
"Kapan?"
"Kemarin. Ini buktinya!" entah ini mampan atau tidak, aku tak tahu. Yang jelas, luka di tangan kanan akibat perbuatan Tante Maya kuperlihatkan pada Nasya dan ia terperanjat.
"A ... apa ini?" Nasya memegang tanganku, ia bahkan menyentuh bekas luka yang masih belum sembuh, sempat ku perban, tapi demi bisa dilihat oleh Nasya, terpaksa kubuka lagi. "Ini, tusuk konde mama. Ka ... kamu bertemu mama, Di? Apa kata mama? Apa mama baik-baik saja? Apa ia merindukanku?" Nasya yang semula begitu dingin mulai berubah.
"Tante Maya baik, Sya. Sekarang apa kamu percaya bahwa kata-kataku bahwa ia tidak gila?" kataku, usai menceritakan ulang kejadian kemarin saat kami, juga pesan Tante Maya untuk putrinya.
Bisa kulihat, sepasang mata itu mulai berkaca-kaca, lalu kembali menangis tersedu-sedu.
__ADS_1