
Pagi ini , sesuai janji kemarin, aku datang ke kantor Ben. Sembari menunggu ia keluar dari gedungnya, aku menanti di depan taman, baru hendak duduk, tiba-tiba batal karena tak sengaja aku melihat Nasya yangbbaru turun dari taksi.
"Nasya!" aku berlari kecil, berusaha susah payah mengejar Nasya yang berjalan kencang saat melihatku. Bukanya berhenti, ia malah terus berlalu, melewati lorong-lorong menuju lobi kantor. "Sya!" aku nyaris menyerah, tapi tiba-tiba terlihat Ben yang menghadang langkah Nasya sehingga ia berbalik arah mendekat kepadaku. "Fiufff, susah sekali dengan anak ini. Saat dicari-cari malah ngilang terus, giliran nggak dicari malah muncul!" aku mengumpat.
"Mau apa sih, kamu?" tanya Nasya dengan galaknya. Ketika kami sudah berhadap-hadapan.
"Aku butuh bicara!" kataku, tak kalah tegas. Sejujurnya capek juga berkejaran dengannya tadi. Apalagi dengan kondisi kehamilan yang sudah membesar seperti sekarang ini.
"Aku sedang tidak mau bicara dengan anak haram!" katanya, tegas dan terasa pedas di telingaku.
"Tolong bicara yang baik!" pintaku, sambil menahan agar tak terpancing. Aku tahu, ia sedang mempermainkan emosiku, dalam kondisi hamil seperti ini rasanya emosi gampang sekali terpancing. Tapi aku harus tetap tenang agar apa yang aku tuju tercapai. Yang penting Tante Maya selamat.
"Apanya yang salah? Anak haram dari ibu yang juga haram!" kata Nasya lagi.
Plak. Sebuah tamparan langsung melayang ke pipi kirinya. Cukup keras sebab menyisakan jejak merah dan Nasya langsung meringis. Aku memang sedang berusaha untuk hijrah, tapi aku juga manusia biasa yang bisa terpancing kalau terus-menerus dihina seperti itu, apalagi ia membawa-bawa ibuku. Sudah dijelaskan berkali-kali, ibu tidak bersalah, ibu hanya korban. Satu-satunya orang yang harus mendapatkan hukuman adalah dokter Tomo, pelaku pemerkosa.
"Kalau bukan karena ibumu, aku juga malas bicara dengan perempuan sombong sepertimu!" kataku.
"Ben, lihat apa yang mantan istrimu lakukan padaku, ia menamparku. Aku bisa saja membalasnya atau mengadukan ke polisi kalau dia nggak segera minta maaf!" kata Nasya pada Ben. "Jadi katakan segera padanya untuk minta maaf, sebab aku nggak mau bicara dengannya!" ulang Nasya lagi dengan sikap yang sangat menyebalkan.
"Kamu pantas mendapatkannya, Sya." ungkap Ben. "Bicaralah yang sopan pada Diandra, toh dia juga bicara yang baik padamu. Dengarkan apa yang ia katakan, ini tentang ibumu."
"Kenapa dengan mamaku?" tanya Nasya.
__ADS_1
"Kami kemarin menemui Tante Maya." kataku.
"Apa? Siapa yang mengizinkan kamu bertemu mama? Apa yang kamu lakukan pada mamaku?" Nasya langsung maju, iangamoak tidak sabaran jika membicarakan ibunya, terlihat dari reaksi spontan ya, tapi Ben lebih lihat, menarikku agar tidak menjadi korban penyerangan oleh Nasya.
"Itu tidak penting, yang jelas sekarang kondisi mama kamu sedang memprihatinkan. Sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengan Tante Maya? Apa kamu tahu kalau ia tidak sakit, Tante Maya sehat, ia ...." tiba-tiba Nasya memotong pembicaraanku.
"Apa ini? Kamu sedang membual?" tanya Nasya, sambil geleng-geleng kepala. "Di, dengarkan baik-baik, aku tak butuh bualanmu. Yang jelas, jauhi mamaku, jangan pernah dekat-dekat dengannya karena aku tak mengizinkan kamu bertemu mama.
Kedua, jangan membuat aku kesal dengan kebohongan kamu. Apa? Mamaku tidak gila? Kamu mau mengejek aku, hah?" Nasya tampak kesal, ia mencoba menyerang ku, tapi Ben dengan siaga menjadi tameng, sehingga kukunya yang panjang tak bisa mengenaiku.
"Aku nggak berbohong. Kemarin kami bertemu Tante Maya, makanya kami datang ke rumah kamu, Sya, untuk membicarakan semua ini. Semua adalah perbuatan ayah kamu." cetusku.
"Aku harus percaya padamu? Dengar ya Di, tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan mama. Bahkan aku saja tidak bisa, lalu bagaimana mungkin kamu mengaku bertemu mamaku? Oh, atau jangan-jangan kamu sudah berhasil juga mempengaruhi papaku, sama seperti yang ibu kamu lakukan, iya hah?" tuduh Nasya dengan emosi.
"Nggak mau!"
Bukan perkara mudah meyakinkan Nasya. Kebenciannya padaku sudah menutup semua isi otaknya. Tetap saja ia menganggap kalau aku berbohong, mengada-ada, padahal semua itu benar.
Untung saja ada Ben, ia terpaksa ikut campur untuk meyakinkan Nasya. Kami kembali pergi ke rumah sakit tempat ibunya di rawat dengan taksi sebab hari ini mbak Hana tidak bisa ikut. Sepanjang perjalanan, Nasya terus saja mengoceh, bahkan ia tak segan menghinaku meskipun Ben sudah berkali-kali menasihatinya agar menjaga sikap.
***
"Apa itu?" tunjuk Nasya tertuju pada mobil ambulan yang berhenti di depan kami. Tak lama beberapa orang perawat mendorong brangkar dengan seseorang berbaring di atasnya. "Papa?" panggil Nasya pada lelaki berperawakan tinggi yang mengikuti brangkar tersebut.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara jeritan Nasya, ia menangis begitu histeris mendapati jasad ibunya yang sudah kaku. Sementara aku, meski tak histeris tapi merasa begitu lemah hingga terkulainke lantai, sementara jantungku berdegup kencang, sedangkan air mata menetes tanpa henti.
Tante Maya meninggal. Bagaimana ini semua bisa terjadi begitu cepat? Padahal kemarin ia masih baik-baik saja. Padahal aku belum sempat menunaikan janji, tapi ia keburu pergi begitu saja.
Suara tangis Nasya masih terdengar kencang meski jenazah ibunya sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulan, sementara ia dipapah oleh beberapa orang menuju salah satu mobil mewah yang mengiringi perjalanan mobil ambulan.
Setelah iring-iringan pengantar jenazah itu pergi meninggalkan rumah sakit, dengan susah oayah Ben memapahku menuju salah satu tempat duduk yang tersedia di pinggiran rumah sakit. Kemudian ia berlaku cepat meninggalkan aku, lalu kembali membawa sebotol air mineral.
"Di, minumlah." Kata Ben.
"Apa maksud semua ini, Ben?" tanyaku, setelah air mata reda. Jujur aku menyesal, andai kemarin kami tetap menunggu Nasya, maka ia pasti bisa bertemu ibunya dalam keadaan hidup dan Nasya juga bisa mengeluarkan ibunya.
"Ibunya Nasya sudah meninggal, Di." jawab Ben. "Tadi ia sudah dibawa ke rumah suka dengan ambulan."
"Ta ... tapi bagaimana bisa terjadi? Kemarin kita baru ketemu? Kamu lihat, ia baik-baik saja, bisa bicara dengan kita. Lalu kenapa semuanya jadi seperti ini? Ini kayak mimpi, Ben. Rasanya tidak mungkin."
"Begitulah yang namanya takdir, Di."
"Ya Allah, Ben. Rasanya seperti mimpi!" aku menutup wajah dengan kedua tangan, lalu kembali menangis.
"Di, sabar ya."
"Ben, apa mungkin Tante Maya ...."
__ADS_1
"Pstttt, kita pulang saja ya." Ben menuntun tanganku, lalu segera meninggalkan tempat ini sebab penjaga yang sebelumnya mengizinkan kami masuk sudah melihat keberadaan kami di sini.