
"Di, kenapa sih kamu itu selalu membuat ibu pusing. Kapan kamu jadi anak yang manis. Tidak perlu seperti anak-anak yang lain dalam membahagiakan orang tua mereka, cukup tidak membuat masalah saja dengan orang-orang itu maka ibu sudah sangat senang, bersyukur dan bangga padamu!" seru ibu, saat aku memakai sepatu, bersiap untuk pergi.
Tapi, apapun yang dikatakan ibu, tetap saja ku abaikan. Aku tak takut, seberapa hebatpun pak Tomo, tetap saja ia hanya manusia biasa, kelak juga akan hancur kalau ia tidak bertaubat. Akan ada balasan, entah itu di dunia atau di akhirat nanti.
Sebagai salah satu korbannya, aku harus menghadapinya tanpa gentar. Ia punya uang dan kekuasaan, sedangkan aku punya Tuhan yang akan selalu bersama dengan orang-orang yang benar.
"Dasar keras kepala, ibu tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi sikap kamu itu, Di. Nggak juga berubah-ubah!" kata ibu, sambil terus mengomel.
Kali ini aku memutuskan untuk diam dan mendengar saja. Ibu melakukan itu bukan karena benar-benar marah padaku, tapi lebih karena perasaan sayangnya. Ibu mungkin takut jika terjadi apa-apa padaku. Tapi aku lebih takut lagi jika hanya diam dan tak melakukan apapun, sementara di depan mataku ada kedzaliman.
"Dasar anak keras kepala. Capek-capek aku menemaninya di sini agar ia mendapatkan kenyamanan, malah membuat masalah sendiri." ibu masih mengumpat, namun tidak terlalu berteriak sebab tak ada perlawanan dariku yang memilih diam sambil mempersiapkan keberangkatan.
Selesai. Aku segera bangkit dengan susah payah karena usia kandunganku terus bertambah, juga semakin besar, makanya agak kesusahan untuk bangkit dari duduk.
"Lihatlah, untuk berdiri saja kamu sudah kesusahan, masih juga mau mengundang masalah. Orang-orang menghindar dari masalah kamu malah emncarinya. Diandra ... Diandra. Entah apa kesalahanku di masa dahulu hihgga kamu nggak pernah mendengarkan kata ibumu ini." ibu mulai memelas. "Mungkin karena ibu kurang membersamai kamu makanya kamu jadi seperti ini. Iya kan Di? Kamu mau balas dendam sama ibu, sebab ibu jarang mengajak kamu bicata dan nggak mau mengabulkan permintaan kamu. Sekarang pun kamu begitu. Di ... Di, asal kamu tahu, ibu begitu karena begitu menyayangi kamu. Ibu takut terlalu dekat dengan mu malah menjadi bumerang untuk diiri ibu sendiri. Ibu bisa menyakiti kamu sebab dahulu ibu belum seratus persen berdamai dengan hati ibu, Di!" perlahan suara ibu berubah jadi tangisan.
Ya Tuhan, aku langsung berhenti, memandang ibu sebentar yang menunduk sambil menangis. Tak kuat melihatnya, makanya aku memilih untuk memeluk ibu meski sebenarnya aku sangat ingin segera berangkat.
"Ibu tahu, kenapa aku melakukan ini semua!" tanyaku pada ibu.
"Karena kamu kurang kerjaan dan suka mencari masalah!" celetuk ibu.
"Astagfirullah, ya nggaklah Bu. Aku melakukan ini semua karena sayang sama ibu. Aku nggak mau ibu menanggung beban itu selamanya, aku ingin membebaskan ibu. Kalau bukan karena aku sangat peduli pada ibu, mungkin aku lebih memilih menghabiskan waktu mengerjakan tulisan. Dapat uang dan aku juga tidak perlu lelah-lelah ke sana ke mari. Iya kan Bu?" tanyaku, smabil menatap wajah ibu yang tetap cantik meski tak muda lagi.
__ADS_1
"Terserah apa kata kamu, jangan coba-coba memperbaharui ibu karena kalau kamu sayang ibu kamu pasti mau menuruti ibu."
"Ibu juga mencoba mempengaruhi aku!"
"Ya beda Di, ibu kan melakukannya karena tidak mau kamu dalam masalah!"
"Terserah ibulah." aku melepas genggaman tangan ibu, lalu menyambar tas sebelum pamit pada ibu.
"Ben!" langkahku terhenti di dekat pagar saat melihat Ben datang, begitu aku menoleh ke belakang, tampak ibu tersenyum puas sambil mengacungkan ibu jarinya pada Ben. "Apa-apaan ini? Ibu bersekongkol dengan Ben?"
"Ya, ibu sengaja memanggil Ben untuk melarai kamu pergi. Bahkan ibu sengaja mengulur keberangkatan kamu sampai Ben datang." jawab ibu dengan santai.
"Ya ampun ibu!" Aku geleng-geleng kepala. Baru saja terharu dengan ibu ternyata itu semua palsu. Menyebalkan sekali. Bagaimana aku bisa percaya pada ibu kalau iapun sangat sering mempermainkan perasaanku. Pantas saja sejak dua jam lalu ibu sibuk dengan Hp, rupanya ia menghubungi Ben.
"Bisa-bisanya ibu memperalat Ben." Kataku lagi.
"Biarin, kamu sih tidak mau mendengarkan ibu. Biar Ben saja yang menyelesaikannya. Kamu lebih sabar dari ibu, tahu kan apa yang terjadi kalau kami berdebat terus?" kata ibu padaku dan Ben. "Oh ya Ben, ibu titip Diandra. Ibu mau masuk dulu ke dalam, mau makan, gara-gara Diandra ibu jadi kelaparan seperti ini.
Oh ya Ben, ingatkan anak itu untuk menuruti kata-kata ibu. Ini demi kebaikannya. Berurusan dnwgan ayahnya sama saja mencari mati!" ungkap ibu, lalu berlalu ke dalam tanpa peduli betapa gondoknya aku dengan sikap ibu barusan.
"Ibu itu kayak anak kecil. Perang ngajak-ngajak yang lain." aku mendengus kesal. Pandangan yang semula tertuju oada ibu kini beralih ke Ben. Ia masih memasang tampang marah, kalau sudah begitu perasaanku jadi tidak enak. Ben itu tipikal orang yang sangat sabar, ia sudah sekali bisa marah pada orang lain, tapi sekali marah cukup membuatku tak bisa berkutik.
Waktu kami menikah, baru sekali Ben marah padaku dan itu sudah bisa membuatku menyesali kesalahan yang aku lakukan.
__ADS_1
"Yang dikatakan ibu benar, Di. Sebaiknya sekarang kamu masuk!" kata Ben dengan tegas.
"Tapi ... Ahh, kamu nggak bisa nggak adil gini dong. Selalu saja memihak ibu. Kapan kamu benar-benar akan jadi juri yang adil?"
"Kalau kamu sudah bisa membuat sebuah keputusan dengan benar, Diandra. Lagi pula ibu lebih tahu seperti apa ayah kandung kamu, jadi jangan cari masalah Di. Cepatlah masuk dan ikuti apa kataku."
"Tapi Ben?"
"Nggak ada tapi-tapian!"
Aku tak berani membantah lagi. Langsung masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian saat aku mengintip, tak ada lagi Ben di halaman rumah. Sepertinya ia benar-benar sudah pergi.
"Kenapa? Jangan berpikir untuk pergi lagi atau ibu akan laporkan kamu ke Ben!" celetuk ibu saat nongol dari balik pintu kamarku.
"Apa sih Bu? Aku cuma mikir, mau ngetik apa. Sekarang baru dapat ide, mau bikin cerita tentang ibu yang suka mengadu domba anak dan menantunya." jawabku.
"Apa maksudmu?" ibu langsung sewot.
"Nggak maksud apa-apa. Lha ibu sendiri kenapa naik darah? Merasa kesindir?"
"Nggak lucu Diandra. Tapi terserah kamu mau nulis apa saja, itu urusan kamu. Sampaikan saja apa yang ingin kamu sampaikan dengan tulisan sesuai kepandaian kamu!" kata ibu, lalu melengos pergi.
Iya, ibu benar. Aku bisa melakukannya! Aku tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1