
Suara-suara teriakan itu terdengar begitu nyata. Ini untuk pertama kalinya. Mas Hendri berteriak lantang. Sepertinya ia sedang marahan dengan mbak Hana. Entah apa penyebabnya. Tapi setahuku hubungan mereka memang sedikit goyang sebab belum hadirnya buah hati, mbak Hana pernah menyiratkannya saat kami sedang berbincang-bincang kala itu.
Untung saja ayahnya mbak Hana sedang tak di rumah, yang kutahu ayahnya mengunjungi saudaranya yang masih tinggal di Depok juga. Kata mbak Hana mau nginap semalam atau dua malam sebab sudah lama tidak bertemu.
Aku dan Ben saling lihat. Kami menahan diri untuk tidak mengintip meski sebenarnya sama-sama ingin tahu, apa yang tengah terjadi. Sementara Caca dan Cici terus saja mondar-mandir. Mungkin ingin bertanya tapi melihat keresahan di wajah kami, merekapun urung buka suara.
Caca dan Cici termasuk anak yang cepat tanggap jika ada keributan seperti ini. Mereka tak akan menangis atau banyak bicara. Memilih diam, atau mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi sesuai dengan pengetahuan mereka sebagai kanak-kanak. Mungkin karena pernah mengalami saat aku dan Ben akan bercerai dahulu.
Setelah yakin tak ada trauma, hanya resah saja, makanya kubiarkan mereka bolak-balik senyamannya.
Keributan itu akhirnya berakhir juga, entah untuk sebentar saja atau benar-benar sudah damai, bersamaan dengan suara deru mesin mobil mas Hendri. Ia pergi. seorang diri karena tadi kami sempat mengintip.
Tak lama masuk pesan dari mbak Hana, memintaku ke rumahnya sebentar. Buru-buru aku ke sana, tentu saja diawasi oleh ibu dan Ben dari jendela rumah.
Begitu keluar dari pintu, aku langsung celingak-celinguk ke kiri dan kanan, memastikan mas Hendri benar-benar sudah pergi. Khawatir juga jika ia kembali. Entah apa yang harus kukatakan.
Aku benar-benar kaget mendapati rumah yang selalu rapi itu kini acak-acakan. Vas bunga hancur berantakan di lantai, bersama beberapa pajangan termasuk foto pernikahan mereka. Belum lagi beberapa luka lebam di wajah ayu mbak Hana. Ia mencoba tersenyum, tapi aku tahu ia tak baik-baik saja.
"Ini bukan perbuatan mas Hendri, ia tak suka main tangan. Tadi aku terbentur saja karena kami agak berdebat. Biasalah, perempuan kadang suka menyengkal kalau diberi tahu suaminya, padahal dalam agama tidak boleh, kan Di? Makanya aku dapat balasan langsung" mbak Hana terkekeh. "Agak sedikit sakit juga di pinggang kanan, makanya susah bergerak. Jadi aku hubungi kamu saja, Di. Bisa kan bantu aku ke kamar, kakiku juga sakit sekali." mbak Hana mengulurkan tangannya.
Aku yang masih terpana, segera meraih tangannya. Lalu membantunya ke kamar.
"Ba ... Bagaimana bisa selebam ini?" Tanyaku dengan terbata. aku benar-benar kaget. Meski dulu sering bertengkar, tapi Ben tak pernah main fisik. Melawan kata-kataku saja ia jarang.
"Ya aku jatuh Di."
"Lalu mas Hendri diam saja?"
"Aku yang menolak dibantu."
__ADS_1
"Mbak beneran nggak apa-apa? Kita ke rumah sakit saja ya." kataku. Agak ragu juga melihat lebam di pipinya. Saat aku membantu memeriksa pinggangnya, ada lebam biru juga di sana.
"Nggak apa-apa Di. Aku terlalu ceroboh saja tadi. Kamu bisa mijit nggak?"
"Enggak mbak. Tapi ibu bisa. Aku panggil ibu ya."
"Jangan. Ibu harus nungguin anak-anak, kan? Aku nggak mau Caca dan Cici ke sini terus melihat Tante Hana mereka dalam kondisi seperti ini. Aku kan bidadari mereka, Di, mereka bisa marah pada mas Hendri kalau tahu ini semua karena ulahnya." mbak Hana masih bisa terkekeh.
"Mbak." aku tak bisa menahan diri untuk tak menangis. "Maaf, aku terpaksa bertanya. Kenapa?"
"Biasalah Di. Anak."
"Ya Allah."
"Kami sama-sama ingin segera punya keturunan Di. Sudah lama menanti. Jadi wajar kalau tiba-tiba terpancing emosi."
"Dia kesal saja, Di. Sebab aku terlalu ikut campur urusan ekonomi kalian. Tapi aku melakukannya karena ingin. Mas Hendri hanya ingin aku fokus agar kami bisa segera punya anak."
"Astagfirullah, mbak. Harusnya mbak nggak usah repot-repot bantu kamu. Kalau akhirnya akan membuat rumah tangga mbak berantakan. InsyaAllah kami bisa sendiri. Maafin aku mbak, sudah jadi beban untuk mbak."
"Nggak akan rugi Di, bantuin orang lain."
"Tapi kami belum tentu bisa membals kebaikan mbak."
"Allah yang balas. Siapa tahu setelah ini aku bisa punya anak." Mbak Hana kembali tersenyum. Sementara aku merasakan begitu miris.
Beruntungnya aku, bertemu, bahkan dianggap saudara oleh mbak Hana. Perempuan berhati malaikat. Sungguh, aku berharap kebahagiaan yang berlipat ganda untuknya. Kebahagiaan yang tak akan habis.
"Mbak," lagi-lagi aku menangis. Ia seperti kakak kandung sendiri untukku. Melihatnya begini, akupun ikut hancur.
__ADS_1
"Di, aku baik-baik saja. Jangan cengen ih. Malu sama Caca dan Cici." ia kembali terkekeh. "Oh ya, bantuin kasih minyak ya. Supaya mendingan."
Usai memijit mbak Hana, kami berdua membereskan rumah mbak Hana yang berantakan sebab ayahnya akan kembali sore nanti. Mbak Hana nggak mau ayahnya melihat ini semua sebab pasti akan jadi beban pikiran untuk ayahnya. Dari mbak Hana aku belajar banyak..termasuk bagaimana berbakti pada orang tua.
***
Suara deru mobil mas Hendri kembali berbunyi. Aku sempat mengintip sebentar. Lalu mencuri dengar. Tapi sudah sepuluh menit berlalu, tak ada tanda-tanda keributan. Ku harap mereka benar-benar sudah berdamai.
"Sudah Di, jangan terlalu cemas. Mas Hendri itu orang baik. Aku sangat yakin itu. Mungkin tadi khilaf saja." cetus Ben, saat ia mendapati ku kembali mengintip.
"Aku hanya cemas saja sebab kita terlalu banyak merepotkannya." ungkap ku.
"Maaf Di."
"Lho, kok jadi kamu yang minta maaf?"
"Sebab aku belum bisa jadi kepala keluarga yang baik. Kalian adalah tanggung jawabku. Tapi banyak orang yang harus terlibat bertanggung jawab karena ketidak becusanku."
"Ben, kamu ngomong apa sih?"
"Ya, memang begitu, kan?"
"Tapi kamu sudah bertanggung jawab, Ben. Buktinya kamu sampai rela jadi kuli panggul. Pasti nggak mudah kan Ben." aku menggenggam tangannya. "Ben, jangan sekali-kali berkata begitu lagi, kalau ditelusuri, ini malah salahku. Sebab kekacauan itu karena ayah kandungku. Andai aku bukan putrinya, mungkin ia tak akan ikut campur dengan masalah kita dan semua tidak seribet ini."
Semua adalah takdir dari Tuhan. Aku dan Ben kembali bersepakat nggak akan menyalahkan diri sendiri lagi.
"Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa segera dapat pekerjaan supaya kita bisa mengembalikan modal mbak Hana. Ia sudah banyak membantu kita, Di. Sudah waktunya kita mandiri sendiri. Nggak merepotkan mbak Hana ataupun ibu." ucap Ben.
Ya, intinya adalah mengembalikan uang mbak Hana sesegera mungkin. Nominal yang tidak kecil.
__ADS_1