
Satu bundel berkas berisi naskah novel pertama yang kutulis sambil mengurus anak-anak dan warung kini berpindah ke tangan mbak Hana.
"Kamu sudah siap, Di?" tanya mbak Hana.
"InsyaAllah mbak." jawabku dengan mantab.
"Semoga saja ini jadi rezeki kamu dan anak-anak ya."
"Aamiin."
Selesai memberikan naskah, aku kembali ke rumah. Lanjut jualan sambil mengerjakan naskah kedua. Berdasarkan pengalaman penulis-penulis senior, kalau satu naskah kita sudah dikirimkan ke penerbit, maka lanjutkan menulis naskah kedua. Jangan ditunggui. Lupakan saja. Biarkan ia menjalani prosesnya.
***
Setelah dua pekan naskah yang kutulis dikirim oleh mbak Hana pada saudaranya yang punya penerbitan, hari ini akhirnya aku dapat panggilan.
Usai mengantar anak-anak sekolah, aku bergegas ke kantor penerbit yang berada di wilayah Depok, tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan ku.
Berkat jalan tol yang diberikan oleh mbak Hana, akhirnya naskahku di ACC. Penerbit menyukai tulisanku yang dianggap idenya baru dan kemungkinan akan laris di pasaran. Sebelum naskah terbit, aku diminta untuk melakukan sedikit revisi sebelum kembali disetorkan ke meja editor.
"Alhamdulillah!" tidak henti-hentinya lisanku mengucap hamdalah udah keluar dari kantor penerbit. Secara spontan aku mengambil Hp, mengetik pesan untuk Ben, mengabarkan apa yang baru saja kucapai. Mimpi yang telah lama kuidam-idamkan. Menjadi seorang penulis. Sebentar lagi status itu akan aku raih. Tetapi tiba-tiba tanganku yang semula lincah emnari di layar Hp terhenti sebab ingat sesuatu. Aku dan Ben kan sudah berpisah. Lalu, apakah ia akan peduli dengan semua ini? Lagipula, inilah salah satu alasan kami berpisah.
Hp kembali kumasukkan ke dalam tas, lalu melangkah sambil menunduk, keluar dari penerbitan dengan langkah gontai.
Harusnya kita bisa berbagi kebahagiaan?
Bruk. Rasanya sakit sekali saat kepalaku membentur lengan seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku. Saat aku mengangkat kepala, tampak sebuah wajah yang rasa-rasanya aku kenali.
"Di ... Diandra!" seru lelaki yang tadi bertabrakan denganku.
"Iya. Siapa ya?" aku mencoba mengingat-ingat.
"Kamu nggak ingat aku, Di?"
"Astagfirullah, Haris?"
__ADS_1
"Iya Di," ia tersenyum. "Apa kabar Di? Kamu berubah sekali dari terakhir kita bertemu, tambah anggun."
"MasyaAllah. Pintar sekali kami memuji, bukannya dulu kamu suka ngejek aku Diandra petakilan. Iya, kan?"
"Hehehe, ya maaf Di. Tapi asli, sekarang kamu berubah. Jadi lebih anggun dan tambah cantik."
"Astagfirullah, udah ah muji-mujinya."
"Oh iya, maaf kalau aku lancang. Semoga saja suami kamu, siapa namanya? Ben kan? Nggak marah ya."
"Aku sudah bercerai."
"Oh, maaf Di."
"Nggak apa-apa."
"Hm, kalau begitu boleh dong aku muji kamu lagi?"
"Enak saja. Sopan dong!" aku pura-pura marah. Hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak seperti dulu saat kami saling ejek.
Haris adalah salah seorang teman satu angkatan saat kami masih sama-sama sekolah. Dia juga satu-satunya teman yang cukup dekat denganku meski kami sering bertengkar. Haris itu selalu saja meledek aku dengan jukukan petakilan, jorok, urakan bahkan cerewet. Tetapi ia tetap bertahan menjadi teman yang cukup dekat.
"Oh ya Di, bagaimana kalau kita makan siang bareng. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Kita sudah lama tidak bertemu, kan?" katanya.
"Ya, sudah enam atau tujuh tahun. Sejak kamu menghilang begitu saja. Kenapa sih, pindah nggak ngabar-ngabari." kataku.
"Nggak apa-apa. Aku hanya butuh menenangkan diri, Di. Aku butuh sendiri waktu itu." jawab Haris.
"Kamu lagi ada masalah? Kok nggak cerita sih? O, aku tahu, apa karena aku yang asal-asalan makanya kamu nggak percaya kalau aku bisa jaid teman curhat yang baik? Padahal lho Ris, meski terlihat selengean, aku juga bisa dewasa kok. Kamu aja yang nggak ngasih aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku adalah teman yang baik juga!"
"Bukan begitu Di, aku waktu itu hanya kaget saja. Jadi butuh sendiri untuk menenangkan diri. Jadi bukan karena aku nggak percaya sama kamu. Justru aku yakin kamu itu sebenarnya perempuan yang luar biasa. Di balik satu kekurangan pasti ada kelebihan."
"Terus kenapa kamu nggak cerita sama aku? Percuma ngomong panjang lebar kalau kenyataan nggak gitu."
"Kan sudah kukatakan kalau aku butuh sendiri sebab aku baru patah hati kala itu Di."
__ADS_1
"O begitu. Padahal aku kira kita benar-benar berteman. Kan yang namanya teman nggak hanya saat senang, tapi juga saat sedih. Sama seperti kamu kala itu Ris, selalu ada untukku ketika aku ada masalah."
"Hehehe, eh ngomong-ngomong, bagaimana tawaranku. Mau ya makan siang denganku? Aku benar-benar rindu ingin mendengar celoteh kamu yang renyah kayak kerupuk itu, Di."
"Duh nggak bisa Ris. Sebentar lagi anak-anakku pulang sekolah. Aku harus menjemput mereka. Maaf ya. Mungkin next time."
"Yahh." Haris terlihat kecewa. "Tapi ngomong-ngomong anak kamu sudah berapa Di?"
"Dua menjelang tiga. Yang pertama kembar, kedua masih dalam kandungan. Kamu sendiri?"
"Aku masih single, Di."
"Hah, masa? Bukannya dulu kamu banyak yang suka. Masa masih jomblo? O, palingan kamu banyak milih ya?"
"Aku belum bisa move on, Di."
"Oh, oke oke oke. Sudah ya Ris, aku buru-buru!"
"Oke, kamu save nomor kamu di sini, lain kali kita ketemu. Kamu harus mau makan siang denganku!" kata Haris, sambil menyodorkan Hpnya.
Usai mencatatkan nomorku, aku segera pamit. Buru-buru mencari angkot kembali ke rumah. Sebenarnya anak-anak bisa numpang dulu di rumah mbak Hana tetapi aku sendiri yang tak sabar ingin bertemu mereka.
***
"Ca, Cici ... dengar baik-baik. Mama mau ngasih tahu kalau mama sudah tanda tangan kontrak. Sebentar lagi novel mama twrbit!" seruku, saat bertemu anak-anak yang sudah menunggu di rumah mbak Hana.
"Mama sudah jadi penulis?" tanya Caca.
"Iya, Alhamdulillah mama sudah bisa disebut sebagai penulis. Iya kan mbak Hana?" Tanyaku pada mbak Hana yang memperhatikan kami sambil tersenyum.
"Iya, mama Di sekarang adalah seorang penulis." jawab mbak Hana.
"Alhamdulillah, berarti kita sebentar lagi bisa pulang dong ma?" spontan Cici bertanya, sehingga spontan membuat senyumku hilang.
"Nah bener. Kita bakalan kumpul lagi sama papa kan ma? Caca juga kangen. Selain kangen papa, juga kangen rumah dan kamar. Kasihan, boneka-boneka Caca pasti kesepian karena ditinggal lama." Caca mulai menyebutkan nama-nama bonekanya yang tertinggal di rumah Ben.
__ADS_1
"Kita di sini dulu ya sayang. Doakan mama ya." pintaku, sambil memeluk Cici.
Harusnya hati ini kita berempat berbahagia, merayakan pencapaian yang aku raih dengan status masih menjadi keluarga. Aku, Ben dan anak-anak. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda.Tapi tidak apa-apa. Aku yakin, akan ada hikmah di balik ini semua.