
Pukul enam pagi. Aku nyaris melonjak karena terkejut dengan kehadiran Ben di depan pintu. Ia tersenyum manis, menenteng kotak di tangan kanan, sementara tangan kirinya menenteng plastik putih berukuran cukup besar.
"Ben." kataku. "Ada apa? Sepagi ini?"
"Maaf Di, kalau aku mengagetkan kamu. Aku sudah mengabari sejak semalam, tapi tak ada balasan dari kamu." kata Ben.
"Ya Ben, aku sengaja nggak megang Hp sejak kemarin karena harus menyelesaikan tulisanku. Memang ada apa sepagi ini?"
"Aku ingin memberi kejutan untuk Caca dan Cici." Ben menunjukkan kotak besar yang dipegangnya hati-hati.
"Astagfirullah, bagaimana aku bisa melupakan ulang tahun mereka." kataku, sambil menepuk pelan keningku. "Kita beri kejutan sekarang saja." kataku, sambil mempersilahkan Ben masuk. Berdua, kami mengendap-endap menuju kamar Caca dan Cici. Tapi ternyata kedua anak kembar kami yang kini genap berusia enam tahun tersebut tidak ada di sana.
"Mungkin sedang di dapur bantuin ibu bikin sarapan." kataku, setengah berbisik pada Ben, sebab khawatir ketahuan karena rumah ini tak terlalu besar, jadi suara-suara dari ruangan lain gampang terdengar ke ruangan lainnya.
Kami kembali mengendap-endap menuju dapur. Ketika melihat sosok sikembar, kami berdua hendak menyergap sambil menyanyikan lagu ulang tahun, tetapi secara serentak langkah kami terhenti sebab secara tidak sengaja mendengar perbincangan Caca dan Cici bersama nenek mereka.
"Tapi nek, teman-teman yang lain kalau ulang tahun itu dirayakan sama mama dan papanya. Kayaknya cuma kami berdua yang nggak bisa makan bareng sama papa dan mama karena papa dan mama sudah bercerai. Iya kan Nek?" tanya Caca.
"Dea juga, nggak pernah lagi merayakan ulang tahun sama papanya. Cuma sama mamanya saja." tambah Cici. "Kalau kita kayaknya sama mama juga nggak bakal keluar, mama juga sepertinya lupa."
"Dea siapa?" tanya ibu. "Tenang saja, nanti nenek yang akan mengingatkan ibu kalian."
"Teman sekolah Caca dan Cici di sekolah lama, nek. Papa dan mamanya juga bercerai kayak papa dan mama Caca." ungkap Caca.
"Oh ya? Tapi kalian itu berbeda. InsyaAllah sebentar lagi papa dan mama berbaikan dan nggak bercerai lagi." kata ibu, sambil mengaduk nasi goreng di wajan.
"Memang bisa, nek? Beneran? Kapan? Kok sekarang kita belum pulang juga ke rumah papa?" Caca memburu ibu dengan banyak pertanyaan.
"Ya segera, setelah adik bayi lahir." kata ibu.
__ADS_1
"Beneran, nek?" tanya Caca lagi. "Nenek nggak bohong, kan?"
"Iya, InsyaAllah nak." kata Ben, sambil berjalan menghampiri kedua anak-anak.
"Papa?" Caca dan Cici langsung mendekati Ben. Sementara aku masih berdiri mematung, masih merasa bersalah setelah mendengar perbincangan anak-anak tadi. Banyak sekali salahku, entah sudah berapa dosa yang aku lakukan pada kedua anak ini, juga entah bisa menebusnya atau tidak. Kalau tak ada Ben, aku juga sudah memberi luka di hati mereka.
Pelan, aku memaksakan senyum meski sebenarnya kedua mata ini sudah berkaca-kaca melihat pemandangan haru saat Caca dan Cici melompat kegirangan mendapati cake ulang tahun serta kado yang sudah disiapkan oleh Ben untuk mereka.
Sudah punya lelaki sebaik ini, kenapa aku bisa begitu khilaf ingin lari dari hidupnya. Astagfirullah ...
"Mama, ayo sini. Kita potong kuenya." panggil Caca yang tersenyum sumringah, semnetara Cici sibuk dengan kado dari Ben.
Berlima kami merayakan ulang tahun Caca dan Cici, lalu memakan kue yang kupotong untuk masing-masing orang.
Sebenarnya Ben akan langsung kembali ke Jakarta setelah menyerahkan kue dan kado untuk anak-anak, sebab ia harus bekerja pagi ini. Tetapi setelah mendengar perbincangan anak-anak, Ben memutuskan mengajak kami semua makan di luar pagi ini.
"Memangnya kamu nggak kerja, Ben?" tanyaku.
"Hari ini aku bolos dulu. Nanti kirim pesan ke bos. Kamu sendiri, libur dulu hari ini nulisnya ya, kita bahagiakan anak-anak dulu. Mau kan?" tanya Ben.
"Hm, bagaimana ya. Ya sudah." kataku. "Kita naik apa?"
"Naik taksi online saja." kata Ben.
"Kalian pergi berempat saja. Ibu nggak ikut, mau jualan saja sambil istirahat." kata ibu.
"Lho, kok gitu sih Bu?" tanyaku.
"Ya nggak apa-apa, Di. Ibu sudah tua, nggak kuat kalau harus jalan ngitarin mall. Kalian pergi berempat saja. Nanti kalau ibu ikut, bisa-bisa nggak keturutan keinginan anak-anak keliling mall." ungkap ibu.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau ibu mau istirahat, nggak usah buka warung hari ini." kataku.
Sesuai rencana dadakan Ben, kami berempat jalan-jalan ke mall yang ada di Margonda Depok. Karena jam masih pukul sembilan pagi, kami memutuskan berkeliling terlebih dahulu sebab mall baru buka satu jam lagi.
Caca dan Cici yang paling senang dengan acara jalan-jalan pagi ini. Mereka tampak bahagia, wajahnya begitu ceria. Rasanya tak ingin lagi memisahkan ayah dan anak-anak ini.
"Maaf dan terima kasih ya Ben." kataku, pelan pada Ben saat kami jalan menuju lobi mall setelah puas jalan-jalan, makan dan berbelanja keperluan Caca dan Cici.
"Maaf dan terima kasih untuk apa, Di?" tanya Ben.
"Maaf karena aku sudah memisahkan kamu dan anak-anak. Terimakasih karena kamu mau memaafkan dan memberiku kesempatan kedua. Entah bagaimana jadinya kalau kamu nggak mau menerima aku lagi, Ben."
"Di, perceraian yang terjadi antara kita, itu semua bukan salah kamu. Tapi ada andil kesalahanku juga. Aku yang tidak becus mendidik kamu, tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu, belum mampu memberi kebahagiaan untuk kamu. Maafin aku juga ya, Di."
"Ben," andai kamu halal untukku, andai kita masih terikat pernikahan, mungkin aku akan menyambur dalam pekukanmu, Ben. Aku akan menangis di sana. Menagis karena begitu bahagia sebab memiliki kamu.
***
Taksi online berhenti di seberang rumah kontrakan kami. Mataku menyipit, melihat seseorang yang berdiri di depan ibu. Itu bukan mbak Hana, tapi siapa?
Setelah membayar ongkos, kami semua turun, sedangkan ibu dan perempuan muda di hadapannya masih terlihat berbincang.
Bukan, sepertinya mereka tidak sedang berbicara biasa, tapi mereka sedang bersitegang karena wajahnya sama-sama tegang, nada suara perempuan itu juga tinggi.
"Bu!" panggilku, membuat ibu dan perempuan itu melihat ke arahku. "Nasya?"
"Hai Di," ia memaksakan senyum padaku, lalu melirik pada ibu. "Sepertinya Diandra sudah pulang. Kalau begitu aku juga pamit pulang ya ibuku sayang." kata Nasya, lalu ia melambaikan tangan pada ibu.
Ibuku? Apa maksudnya berbicara seperti itu pada ibu? Bukankah kemarin ia begitu marah padaku, lalu kenapa sekarang memanggil ibu dengan sebutan ibuku sayang?
__ADS_1