ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
21. Bertemu Anak-anak


__ADS_3

Aku menatap Caca dan Cici dari balik jendela kelas mereka. Sebenarnya ingin masuk dan memeluk kedua anak kembar ku, tetapi masih jam pelajaran sekolah, aku tak mau mengganggu aktivitas mereka.


"Mama!" panggil Caca, diikuti oleh Cici saat jam istirahat dan mereka menyadari keberadaanku. "Mama, Caca kangen!" ungkap Caca, ia langsung menghambur dalam pelukanku, diikuti oleh Cici.


"Mama juga kangen Caca dan Cici!" kataku.


"Mama, kenapa nggak angkat telepon Caca?" tanya Caca.


"Pesan Cici juga nggak dibalas." tambah Cici.


"Maaf ya nak." aku mengecup kening mereka bergantian. "Bagaimana keadaan kalian? Dua hari nggak ketemu mama, kangen nggak?"


"Kangen banget!" ungkap Caca. "Sampai-sampai kita nggak bisa tidur, eh pas tidur malah mimpi mama." Caca bercerita dengan raut wajah sedih.


Sebelumnya kami bertiga memang tidak pernah berpisah. Kemana-mana selalu bersama. Hanya saja, dulu aku merasa anak-anak seperti beban, sementara sekarang, aku baru menyadari, saat mereka tidak ada di sampingku, rasanya benar-benar sepi, seperti ada yang hilang dan tak bisa digantikan oleh apapun.


"Maafin mama ya Ca, Ci. Tapi mama janji, nanti sore akan menjemput kalian." kataku.


"Memang kami sudah boleh ikut mama? Kata nenek, kami nggak boleh bareng mama dulu, soalnya mama lagi nakal." tambah Caca. "Mama berkelahi lagi ya sama papa?"


Aku menggeleng lemah. Rasanya begitu bersalah, membuat Caca dan Cici berada di posisi yang tidak nyaman seperti ini. Tetapi semua sudah terjadi, aku harus menghadapi semuanya dan membuatnya jadi lebih baik.


"Ma, kenapa sih mama berantem terus sama papa?" tanya Cici, mendengar pertanyaannya cukup membuatku kaget sebab biasanya Cici tidak banyak bicara. Ia biasanya selalu jadi pendengar setia Caca yang ceriwis. "Mama nggak kasihan sama papa, dimarahin terus? Papa kan sayang sama mama. Jangan dimarahi terus dong ma."


"Iya ma, baikan dong sama papa. Supaya kita bisa pulang. Caca sudah kangen sama mainan Caca." kata Caca.


Sekarang mereka belum paham bahwa masalah antara aku dan Ben sudah tidak sesederhana dahulu, dimana jika kami sudah berdamai maka bisa bersatu kembali. Tapi semua sudah begitu rumit sebab aku dan Ben sudah bercerai.


"Maafin mama ya nak. Sekarang mama harus pergi dulu. Nanti sore kita ketemu di rumah nenek." kataku.


"Mama mau ajak kita tinggal di rumah yang kemarin?" tanya Caca.

__ADS_1


"Caca nggak suka?" aku balik tanya.


Caca melirik ke arah Cici, lalu kemudian ia menyunggingkan senyum, menyatakan kesiapannya jika diajak kembali tinggal di kontrakan sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan sangat sederhana sebab kondisinya yang cukup memprihatinkan sebab agak sedikit kumuh. Tetapi aku tak punya pilihan lain sebab itulah satu-satunya tempat terdekat dengan lokasi dimana kami beraktivitas dan harganya sangat miring. Tiga ratus ribu setiap bulannya.


"Kami tunggu mama nanti sore ya," kata Caca dan Cici serentak sambil melambaikan tangannya.


Rasanya kaki ini benar-benar berat untuk melangkah, tetapi aku tak punya pilihan lain. Meski masih sangat rindu dengan dua anak kembar itu, tapi aku juga harus segera kembali bekerja. Tadi aku hanya izin sebentar untuk melihat anak-anak.


***


"Sudah selesai Di nengokin anak-anak?" tanya Anis, sambil menghampiriku.


"Sudah. Makasih ya Nis, sudah ngizinin aku keluar di jam kerja." kataku, sambil merapikan meja kasir.


"Enggak apa-apa. Aku senang kok bisa bantu kamu, juga anak-anak kamu. Oh ya Di, kalau kamu mau bawa anak-anak ke sini juga nggak apa-apa, nanti aku sediakan kamar untuk tempat mereka istirahat selama kamu bekerja."


"Bener Nis."


"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau anak-anak sudah tinggal sama aku, akan aku bawa mereka ke sini."


Aku tersenyum puas. Tidak menyangka mendapatkan kemudahan. Rasanya kurang pemisah antara aku dan kedua anak-anak kini sudah ada jembatannya. Aku bisa tetap bekerja, sementara anak-anak bisa terus bersamaku.


***


Seperti janjiku pada Caca dan Cici. Ba'da Ashar, aku menghampiri rumah ibu. Sebenarnya mau membawakan sesuatu sebagai buah tangan, tapi khawatir ditolak mentah-mentah oleh ibu sehingga hanya akan membuatku sakit hati.


Aku dan ibu memang tak pernah akur. Seperti cerita ibu sebelumnya, bahwa sejak aku kecil, ibu tak pernah punya waktu untukku sebab kesibukannya mencari nafkah untukku. Ibu memang seorang single parents. Kata ibu, sejak aku kecil ayah sudah meninggal dunia, meski aku tak pernah tahu dimana dan kapan ayah meninggal, bahkan makamnya pun aku tak tahu. Ibu memang sangat tertutup soal ini.


Aku merasa ibu tidak benar-benar menyayangiku. Perasaan itu sudah ada jauh sebelum aku menikah dengan Ben, kami sering bertengkar, bahkan beberapa kali aku sampai pergi dari rumah meski ujung-ujungnya kembali lagi sebab aku tak tahu harus kemana dan tak punya uang sepeserpun.


"Mama!" Panggil Caca dan Cici, mereka langsung menghambur dalam pelukanku.

__ADS_1


Setelah melepas rindu, kami hendak masuk ke dalam, tapi langkahku terhenti sebab ada ibu di depan pintu. Berdiri dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat.


"Aku mau jemput Caca dan Cici." kataku. "Caca, Cici ... bereskan barang-barang kalian, kita pulang sekarang." kataku lagi.


"Enggak bisa. Anak-anak tetap di sini." kata ibu.


"Ibu nggak bisa melarang aku membawa mereka sebab aku ibu kandungnya."


"Kamu mau bawa mereka ke kontrakan kotor itu lagi? Di, bukannya kamu yang mengatakan, ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Caca dan Cici, makanya kamu menggugat cerai Ben. Kalau kamu bawa mereka ke kontrakan itu, apa namanya bukan penurunan. Rumah Ben saja kamu tolak, tapi malah dibawa ke tempat yang lebih buruk."


"Aku baru mampu segitu, nanti kalau sudah ada dana lebih akan kubawa mereka pindah."


"Astagfirullah, mau dibawa pindah kemana? Memang kamu punya uang? Kamu kan nggak kerja, Di."


"Siapa bilang? Aku kerja kok. Asal ibu tahu, aku baru diterima bekerja dan gajinya cukup untuk biaya hidup kami. Jadi ibu nggak perlu repot-repot lagi memikirkan kebutuhan hidup kamu."


"Memang kamu kerja dimana?"


"Bukan hal penting. Yang jelas halal dan berkah."


"Nggak, nggak bisa. Ibu nggak yakin, ibu tetap tidak akan mengizinkan kamu membawa anak-anak."


"Ibu jangan egois begitu. Caca dan Cici itu anakku!"


"Diandra, kamu yang egois kalau kamu maksain bawa anak-anak. Lupa kejadian kemarin saat Cici harus dirawat di Puskesmas?"


"Bu, sudahlah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Sekarang biarin aku bawa anak-anak atau aku bisa melakukan hal-hal diluar batas."


"Apa maksudmu Di?"


"Sudahlah. Caca, Cici ... ayo ambil barang-barangnya sekarang!".

__ADS_1


Caca dan Cici mengikutiku, mereka masuk sebentar ke dalam untuk mengambil tasnya, lalu kembali keluar. Tanpa pamit, aku langsung meninggalkan rumah berisi kenangan masa kecilku bersama kedua anak-anak. Rasanya sungguh tidak ingin berpisah lagi.


__ADS_2