ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
33. Caca Dan Cici Di Kantor Polisi


__ADS_3

Akhirnya untuk pertama kalinya aku memeriksakan kehamilan ke bidan terdekat yang masih berada di perumahan sama. Aku berpikir inilah saat yang tepat untuk tahu bagaimana kondisi calon anak ketigaku, mumpung kedua kakaknya pergi ke Dufan bersama mbak Hana dan suaminya.


Hasil pemeriksaan Bu bidan, menyatakan bahwa bayinya dalam kondisi sehat meskipun beratnya pas-pasan. Tetapi aku tetap bersyukur sebab menjelang memasuki trimester kedua, calon bayi ini sama seperti kedua kakaknya, tidak merepotkan sama sekali. Tak ada drama mual muntah, seperti yang dialami hampir sebagian ibu hamil.


Selesai memeriksakan kandungan, aku langsung kembali ke rumah. Rencananya mau menyiapkan dagangan besok sembari menanti kepulanhan anak-anak. Mbak Hana janji bahwa mereka akan sampia di rumah sebelum Ashar. Berarti hanya tinggal beberapa jam lagi untuk bertemu anak-anak.


Entah mengapa aku merasa benar-benar rindu dengan Caca dan Cici. Padahal kami baru berpisah beberapa jam.


Baru hendak membuat adonan bolu, tiba-tiba Hp milikku berbunyi. Panggilan dari mbak Hana.


[Assalamualaikum, mbak.] sapaku.


[Mbak Di, duh maaf, Wa'alaikimussalam.] jawabnya dengan nada suara terdengar tidak tenang sehingga membuatku berdebar-debar, takut terjadi sesuatu pada kedua anak kembar ku.


[Ada apa, mbak?]


[Mbak Di, bisa datang ke sini sebentar? Nanti akan ada supir suruhan kami untuk menjemput mbak Di. Mau ya mbak.]


[Kemana? Ada apa? Caca dan Cici baik-baik saja, kan?]


[Alhamdulillah anak-anak baik, mbak. Kami lagi ada di kantor polisi. Mbak Di siap-siap, sekitar sepuluh menit lagi yang jemput mbak sampia.]


Tak banyak yang bisa dijelaskan oleh mbak Hana sehijhah meninggalkan tanda tanya besar di hatiku tentang kondisi anak-anak.


Apa yang terjadi pada mereka? Apakah anak-anak benar baik-baik saja? Kalau ya, kenapa ada di kantor polisi?


Seperti yang dikatakan mbak Hana, tak lama datanglah sebuah mobil sedan hitam yang menjemput tanpa kata-kata. Aku hanya bisa duduk diam sambil menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Satu jam kemudian aku sampia di kantor polisi daerah Jakarta Selatan. Tak butuh waktu lama untuk menemukan mbak Hana dan suaminya, tapi kedua anakku tidak terlihat, lagi-lagi aku dihinggapi perasaan tidak enak. Campur aduk rasanya, khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk.


"Anak-anak saya mana, mbak?" tanyaku.


"Ada di dalam." Mbak Hana membimbingku menuju sebuah ruangan yang tak terlalu jauh. Di sana aku lansgunh mendapati Caca dan Cici. Tapi agak kaget karena ia bersama seseorang.


"Ben!" ucapku, secara spontan sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam mengalihkan pandangannya padaku.


"Mama!" pekik Caca dan Cici, mereka berlari ke arahku, lalu melompat dalam pelukan.


"Apa yang terjadi, kenapa kalian di sini?" tanyaku.


"Ma, Caca lagi ngomong sama papa. Tapi kita nggak ikut sama papa kok, ma. Caca dan Cici cuma ketemu nggak sengaja." ungkap Caca.


"Hai Di, apa kabar?" seseorang yang berada di sisi kiri Ben maju ke arahku, ia mengulurkan tangannya. "Baru berpisah tiga hari saja rasanya sudah kangen banget. Kenapa sih Di, harus pergi tanpa bilang-bilang." ucap Nasya, dengan tatapan yang sulit untuk aku pahami.


Mbak Hana menceritakan semuanya padaku, tentang pertemuan mereka secara tidak sengaja dengan Ben di mall yang ada di Jakarta Selatan. Ben langsung mengambil Caca dan Cici, ia berniat membawanya. Tapi mbak Hana dan suaminya mencegah sebab kedua anak itu berada di bawah pengawasannya. Mereka merasa bertanggung jawab atas keselamatan Caca dan Cici sampia kembali ke tanganku, meski Ben adalah ayahnya.


"Caca dan Cici adalah anakku. Hak asuhnya ada padaku, jadi nggak ada yang bisa membawanya dari sisiku." kataku pada semua yang ada di ruangan ini, sembari menggandeng kedua tangan anakku, bersiap segera pergi.


"Diandra, tunggu dulu!" suara itu memanggilku. Suara yang sudah lama aku rindukan, tetapi bukan dengan nada yang biasa aku dengar.


Aku berbalik, tampak sekali raut wajah tidak suka terpancar dari wajah Ben. Aku tahu, ia pasti marah sebab apa yang sudah aku lakukan, membawa pergi anak-anak tanpa memberitahunya. Bahkan meski ia sudah berusaha menelepon atau mengirim pesan yang mempertanyakan keberadaan kami.


Tetapi aku melakukan ini semua demi kebaikan kami semua. Setidaknya untuk ketenangannya juga yang akan menikah dengan Nasya.


Yah, entah kenapa, mengingat gadis yang kini selalu nempel dengan Ben membuatku benar-benar panas. Aku kesal dengan Nasya yang juga ikut bersama Ben sehingga membuat penasaran saja, sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka? Berarti benar mereka akan menikah. Lalu untuk apa lagi Ben mencari kami?

__ADS_1


"Di, ikut aku. Kita harus bicara!" panggil Ben. Ia memberi isyarat kepada Nasya agar tidak perlu ikut, sehingga membuat raut wajah perempuan itu berubah kusut. Melihat perubahannya malah membuatku senang.


Aku tak punya pilihan lain selain mengikuti Ben, juga ingin membuat Nasya panas. Biar dia tahu rasa bagaimana tidak enaknya lelaki yang kita cintai dibuntuti terus oleh perempuan lain.


"Ada apa?" tanyaku, pura-pura judes.


"Kamu tidak mau menjelaskan semuanya?" Ben balik bertanya dengan tatapan tajam.


"Apa? Harusnya kamu yang menjelaskan, kenapa harus mencegat Caca dan Cici. Kan kamu tahu Ben, hak asuh mereka jatuh padaku!"


"Hak asuh jatuh padamu bukan berarti kamu memiliki mereka sepenuhnya. Kamu nggak lupa kan kalau aku ayah mereka? Kenapa kamu nggak balas pesan atau angkat teleponku? Pergi diam-diam sampai memberikan pesan aneh pada Anis. Kamu kira kamu siapa, hah?"


"Pesan? Maksudnya?"


"Kamu menyuruh aku menikah dengannya kan? Setelah aku dan dia menikah baru kamu kembalikan anak-anak. Benar, kan?"


"Apa? Aku menyuruh menikah? Astagfirullah." aku gelang-geleng kepala. Benar-benar aneh cara berpikir Anis, bagaimana mungkin dia mengarang cerita seperti ini. Pantas saja ia benar-benar ingin aku pindah dari hidupnya, ternyata ada maksud tertentu. "Aku benar-benar nggak paham." kataku, dengan nada pelan sebab pusing memikirkan Anis.


"Lalu lenapa kamu tidak menceritakan soal kehamilan kamu?"


"Apa? Dari mana kamu tahu?"


"Caca dan Cici yang bilang."


"Oh itu ...."


"Di, katakan, apa saja yang kamu rahasiakan dariku? Kenapa kamu jadi begini jahat padaku, Di? Aku tahu kalau aku tidak becus jadi suami untuk kamu, tapi aku belajar, Di. Aku juga berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian bertiga. Setelah kamu menggugat, kamu juga berniat memisahkan aku dari anak-anakku. Kenapa kamu jahat sekali, Di?" tanya Ben dengan nada suara parau, ia bersusah payah menahan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2