ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
18. Menyesal, Kah?


__ADS_3

Warung makan ayam, tempat biasanya; aku, Ben dan anak-anak makan jika Ben gajian atau merayakan sesuatu. Kini aku berada di sini. Awalnya mau mengajak Caca dan Cici, tapi karena mereka pergi bersama papanya, akhirnya aku sendiri, duduk di meja paling pojok, dengan segelas es teh dan sepotong ayah bagian dada, ditambah jamur krispi dan kentang goreng.


Jamur krispi? Kenapa aku harus memesannya, padahal aku tak pernah suka dengan makanan ini. Biasanya Ben yang memesan sebab jamur adalah favoritnya.


Ada apa ini? Kenapa aku malah pergi dan melakukan sesuatu hal yang bisanya dilakukan Ben, padahal aku ingin bebas darinya.


Kenapa setelah berpisah dengan Ben, aku merasa sangat kacau, aneh dan di sini, dalam hati kecil terasa begitu sedih.


Bukankah harusnya aku berbahagia sebab apa yang aku inginkan telah tercapai?


Makanan yang ada di hadapanku belum juga kusentuh. Kini, bahkan makanan yang biasanya bisa langsung kulahap dalam hitungan detik sebab ayam goreng adalah kesukaanku, kini terasa hampa. Bahkan untuk menyentuhnya pun rasanya tidak ingin.


"Mama!" sebuah suara membuatku memalingkan wajah.


Oh Tuhan, setelah kehilangan selera makan, kenapa sekarang aku malah berhalusinasi seperti melihat Ben bersama kedua anak kembar ku?


"Mama ... Mama," sepasang tangan Cici mengguncang tubuhku.


"Hah, kalian?" aku langsung mengusap pelan mataku yang sempat berembun. Ternyata aku tidak sedang berhalusinasi, mereka bertiga benar-benar nyata, ada di hadapanku.


"Mama ada di sini? Mama makan juga ya?" tanya Caca. "Oh, Caca tahu, mama pasti nungguin kita. Caca kira tadi mama beneran nggak ikut seperti yang dikatakan papa, ternyata mama ada. Papa mau ngasih kejutan untuk Caca sama Cici ya?" kini Caca beralih pada Ben.


Lelaki itu,yang sempat diam mematung terlihat canggung, tetapi ia dengan cepat kembali bersikap biasa.


"Mama nggak lama kok, Ca. Mama mau pergi dulu. Ada yang harus mama kerjakan. Kalian makan sama papa saja ya." kataku, sambil buru-buru bangkit.


"Lho, kok mama mau pergi? Kan makanannya mama belum dimakan?" Cici menunjuk makanan yang tadi kupesan, masih utuh sebab belum kusentuh sedikitpun.


"Hm, mama buru-buru. Nanti kalian pulang sama papa ya. Mama tunggu di kontrakan. Bye!" sebelum Caca dan Cici kembali mencecarku dengan banyak tanya yang membuat suasana makin tidak enak, akhirnya aku buru-buru pergi, berlalu dengan perasaan yang tak dapat aku jelaskan.


Ya Tuhan, kenapa rasanya jadi aneh seperti ini? Kenapa aku harus canggung melihat Ben datang? Kenapa hati ini sesak.

__ADS_1


Andai kami tidak bercerai, mungkin saat ini kami berempat bisa duduk di meja itu bersama-sama. Makan sambil tertawa mendengar Ben yang suka melucu di hadapanku.


Ben ... kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku menatap nanar Ben dan anak-anak dari balik jendela warung ayam.


Ya Tuhan, apakah aku menyesal?


***


Sudah dua jam aku menanti kepulangan anak-anak, tapi mereka tak kunjung datang. Entah kenapa, sekarang rasanya benar-benar rindu anak-anak. Padahal dulu, jika Ben membawa anak-anak pergi adalah sesuatu hal yang paling aku senangi sebab aku bisa menghabiskan waktu sendirian. Semacam quality time.


Begitu terdengar suara motor berhenti tepat di depan kontrakan, aku buru-buru menghambur keluar, sampai lupa pada kerudung.


"Kalian sudah pulang?" tanyaku, tetapi aku buru-buru kembali masuk sebab Ben menundukkan kepalanya.


Ya Tuhan, untuk hal ini aku memang sering kelupaan. Dulu, kalau aku begini, Ben biasanya akan langsung protes. Ia akan menyuruhku langsung masuk, tetapi sekarang, tak ada kata-kata yang keluar.


Baru saja hendak kembali menyusul keluar, terdengar lagi suara motor Ben hidup, rupanya ia sudah pergi, tanpa pamit padaku.


"Papa sudah pergi?" tanyaku pada Caca dan Cici, sambil memastikan dengan mengintip dari balik jendela.


"Kalian kemana saja tadi?" aku membuntuti dua anak kembar yang sedang asyik membuka bingkisan.


"Jalan-jalan ke toko buku. Papa beliin kita buku banyak banget. Kata papa, supaya kita nggak bosan dan punya kesibukan supaya nggak gangguin mama." kata Caca, menjelaskan sambil menunjukkan beberapa buku yang baru dibelinya.


Mendengar penjelasan itu, membuatku jadi semakin tidak enak hati. Meskipun sudah bercerai, tapi sikap Ben masih sama seperti dulu, begitu memperhatikan kenyamananku.


Ben tahu, Caca dan Cici adalah tipikal anak aktif. Seberapa banyak mainan yang dibelikan, tak akan bisa membuat mereka tenang. Hanya bukulah yang bisa membuat Caca dan Cici tidak bergeming.


Kedua anak kembar ini, meski masih berusia lima tahun, tetapi sudah lancar membaca. Mereka akan tahan duduk di pojok ruangan untuk menyelesaikan buku bacaan ya.


"Tadi papa ngomongin tentang mama, nggak?" pertanyaan itu terlontar juga sebab Caca dan Cici sudah mulai sibuk dengan buku mereka, padahal aku ingin tahu banyak hal, salah satunya tentang apa yang kutanyakan barusan.

__ADS_1


Caca melihatku sekilas, sehingga membuatku salah tingkah. Pertanyaan macam apa itu? Kenapa aku jadi seperti orang labil. Bukankah aku yang mencampakkan Ben, lalu kenapa sekarang ingin tahu tentang dia lagi?


"Mama sama papa masih berantem ya?" tanya Caca, sambil menatapku dengan tatapan menyelidik, tetapi tetap saja pertanyaannya tak mendalam sebab usia mereka masih terlalu dini untuk memahami apa yang sudah terjadi pada kedua orangtuanya.


"Hm, entah." kataku.


"Kok entah."


"Ya mama nggak tahu apa yang papa kamu rasakan, Ca."


"Kalau mama sendiri, masih marah sama papa?"


Aku cepat-cepat menggelengkan kepala. Rasanya memang sudah tidak marah, mungkin karena apa yang aku inginkan sudah aku dapatkan. Tetapi, aku masih agak bingung, kenapa hatiku malah tidak merasa senang, justru malah dilema.


"Kalau sudah enggak marah, kenapa kita nggak pulang saja?" tanya Caca lagi, sementara Cici hanya menyimak sambil sesekali memperhatikan bukunya.


"Ca, sekarang mama dan papa sudah tidak bisa tinggal bersama lagi."


"Kenapa?"


"Karena sudah dilarang agama."


"Agama? Kok begitu?"


"Karena papa dan mama sudah pisah. Sudah bukan suami istri lagi." Ahhhh, aku menyesal, kenapa harus mengatakan semuanya pada anak ini, tetapi dari caranya mengerutkan kening, aku yakin ia belum paham.


"Caca nggak paham."


"InsyaAllah nanti, lambat laun Caca akan paham. Mama dan papa sudah nggak bisa bersama lagi. Tetapi meskipun begitu, kami berdua tetap sayang sama kalian. Mengerti."


"Ya mama!" secara spontan Caca memelukku, diikuti oleh Cici. "Caca akan sabar menunggu sampai agama membolehkan mama dan papa boleh tinggal di rumah kita lagi." ungkapnya, sehingga membuat mataku berkaca-kaca.

__ADS_1


Maafkan mama, nak. Aku hanya bisa mengatakan hal tersebut. Meskipun kami sudah berpisah, aku janji, mereka berdua tak akan pernah kekurangan kasih sayang. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak.


Matahari masih bersinar terang, tetapi entah kenapa aku merasa hari ini, meskipun baru untukku, begitu mendung. Rasa percaya diri yang semula begitu tinggi, kini mulai hilang.


__ADS_2