ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
16. Sidang


__ADS_3

Ibu menundukkan wajahnya yang terlihat begitu resah. Tak ada lagi kata-kata yang terlontar dari lisan ibu. Bahkan kini ibu mulai menangis, sikap yang sangat berbeda sekali dengan ibu biasanya, tetapi aku tak punya keinginan sedikitpun untuk menenangkan ibu. Aku lebih memilih diam, membiarkan ibu dengan perasaanya.


"Di," panggil ibu lagi dengan suara terbata-bata. "Sekarang ibu menyadari kesalahan ibu yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga kamu. Bahkan ibu mengatai kamu meskipun tak tahu pokok permasalahannya. Tapi apa kamu tahu Di, kenapa ibu bersikap seperti itu? Karena rasa sayang ibu padamu, Di.


Yang ada di benak ibu tentang seorang Diandra adalah gadis kecil yang manja. Tidak bisa apa-apa. Selalu membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan segala permasalahannya.


Ibu sengaja lebih keras pada kamu setelah kalian menikah, agar kamu bisa jadi istri yang baik. Ibu takut kamu tak bisa menjalankan tugas kamu dengan baik sebab ibu menyadari bahwa dulunya kurang mendidik kamu. Ibu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ibu kira satu-satunya masalah kita adalah uang, ternyata nggak Di, ibu kurang mengajari kamu, kurang waktu juga bersama kamu.


Untuk menutupi rasa bersalah itu, makanya ibu berusaha selalu mengingatkan kamu agar tidak ada kesalahan yang kamu lakukan. Ternyata sikap ibu salah di mata kamu.


Ibu tahu kamu kesal, Di. Ibu benar-benar minta maaf. Tapi jangan jadikan itu sebagai penyebab perceraian kalian. Ibu akan sangat menyesalinya seumur hidup ibu. Rasanya benar-benar merasa bersalah, terutama pada Caca dan Cici!" kata ibu, masih sambil menangis.


"Bu, keputusan yang aku ambil sudah bulat. Aku nggak akan merubah apapun. Lebih baik kita jalani saja sebaik mungkin. Untuk Caca dan Cici, aku sudah janji, mereka akan baik-baik saja. Aku tak akan menyia-nyiakan anak-anakku!"


"Tapi Di,"


"Sudahlah Bu, kalau ibu benar-benar sayang sama aku, tolong biarkan aku menjalani apa yang menjadi pilihanku. Sudah cukup ibu ikut campur selama ini. Lihat, kan, semuanya malah jadi berantakan. Aku manusia, bukan batu yang nggak punya perasaan."


"Maksudnya ibu baik Di, hanya ingin menasihati karena begitulah tugas orang tua pada anaknya."


"Ibu bukan hanya menasihati, tapi nyinyirin aku habis-habisan selama hampir tujuh tahun, Bu. Aku capek!"


"Karena kamu anak ibu."

__ADS_1


"Justru karena aku anak ibu makanya ibu harusnya belain aku. Bukan hanya memikirkan kenyamanan Ben. Apa aku seburuk itu hingga ibu abai dengan perasaanku? Aku juga manusia, Bu. Jangan segitunya ngambil hati Ben sampai mengesampingkan perasaan anaknya sendiri!"


"Beri ibu maaf, Di. Ibu nggak akan membela diri lagi. Ibu mengaku salah. Tapi tolong, bicaralah baik-baik dengan Ben. Jangan gegabah mengikuti emosi. Semua masih bisa diperbaiki kalau kamu mau bersabar, Di. Setidaknya untuk anak-anak."


"Sekarang sudah terlambat, Bu. Aku nggak mau membahas apapun lagi. Aku sudah punya keputusan dan itu tak bisa diganggu gugat!"


"Ya Allah Di, kasihan anak-anakmu. Cucu-cucu ibu. Caca dan Cici, mereka berhak mendapatkan kasih sayang lengkap kedua orang tuanya."


Apapun yang dikatakan ibu mental di hatiku. Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang diuraikan ibu. Semua sudah final dan tak akan pernah kuubah. Nasi sudah jadi bubur, nggak akan pernah bisa kembali seperti dulu.


***


Sidang perceraian itu benar-benar terjadi. Hari ini pertama kalinya digelar. Aku dan Ben sama-sama hadir dengan wajah tegang sebab ini pertama kalinya untukku.


Palu kembali diketuk pertanda sidang harus diundur tiga hari lagi. Setelah berada di luar ruang sidang, Ben kembali mencegat langkahku.


"Di, kali ini aku tak akan memohon atau memaksamu untuk merubah pendirian kamu. Aku hanya butuh kepastian." kata Ben.


"Kepastian apa lagi?" tanyaku, yang merasa terganggu sebab aku harus buru-buru pergi, ada banyak hal yang harus aku lakukan sebelum menjemput Caca dan Cici.


"Apa benar kamu ingin bercerai? Apakah ini keputusan yang kamu ambil dengan kondisi hati tenang? Jangan sampai menyesal dikemudian hari, Di sebab jika kita sudah berpisah, aku dan kamu sudah tidak boleh bersama lagi!"


"Apa maksudmu? Kamu mau bilang seperti apa yang dikatakan ibu bahwa aku nggak bisa hidup tanpa kamu? Benar itu, Ben?"

__ADS_1


"Terserah kamu mau mengartikan seperti apa. Aku hanya ingin memastikan bahwa ini bukan keputusan buru-buru yang diambil karena mengikuti hawa nafsu saja!"


"Nggak, ini keputusan yang kuambil karena aku memang benar-benar ingin bebas dari kamu. Aku sudah tidak sanggup lagi, Ben. Tetapi meskipun kalian nganggap aku penuh dengan kekurangan, aku akan buktikan bahwa aku juga bisa punya kehidupan yang baik dan layak. Lihat saja nanti, akan kubuktikan!" kataku dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan mencegah kamu lagi, Di. Aku hanya akan memperjuangkan anak-anak saja." kata Ben, lalu ia berlalu begitu saja, meninggalkan aku dengan perasaan yang entah kenapa berubah menjadi sesak


Kenapa bisa begini? Bahkan mataku mulai berkaca-kaca ketika akhirnya Ben menyatakan tak akan memperjuangkan aku lagi? Apakah aku kecewa dengan apa yang sudah Dyah diputuskannya? Tapi kenapa? Bukankah aku memang ingin berpisah darinya?


Ahhhh, rasanya ingin menangis. Tetapi di sini terlalu ramai sehingga aku tak bisa mengeluarkan semua sesak di dalam dada.


***


Entah sudah berapa kali tulisan tersebut kuhapus. Rasanya benar-benar manset. Bayangan Ben terus muncul di benakku. Ia mengatakan sudah menyerah padaku. Apa ia juga sudah tidak mencintaiku?


Ahhhh Diandra, kenapa juga harus dipikirkan. Bukankah itu yang kamu harapkan?


Dari layar laptop aku bisa melihat bayangan wajahku sendiri. Seorang perempuan yang usianya sebentar lagi menginjak angka tiga puluh tiga tahun. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Aku bahkan tak merasa menikmati waktu tujuh tahunku yang terlewat sia-sia.


Kini, aku tak ingin lagi melewatkan momen dalam kesibukan yang aku sendiri tidak bisa merasakan kenikmatannya. Aku ingin bebas. Aku tak mau lagi jadi istri Ben.


Tetapi setiap mengingat itu, justru hatiku berubah jadi sendu. Perlahan bulir itu turun tanpa izin. Merembes melewati pipi.


Apakah Ben sudah tidak mencintaiku?

__ADS_1


Ahhhh, pertanyaan macam apa itu? Biarkan saja Ben melakukan hal tersebut. Toh aku juga sudah tidak peduli. Aku juga sudah tidak mencintai Ben, aku hanya ingin memperjuangkan kehidupan aku sendiri. Tanpa Ben!


__ADS_2