
Pukul sembilan lewat lima belas pagi, Anis sampai di kontrakanku. Aku memang memintanya datang saat Caca dan Cici sedang sekolah untuk menghindari kemungkinan mereka melihat pertengkaran antara aku dan Anis.
Melihat kehadiran mbak Hana, Anis sebenarnya enggan untuk bicara. Ia meminta hanya empat mata, tapi aku menolak sebab tak mau terjadi hal buruk seperti sebelumnya.
"Langsung saja, aku tanya baik-baik, apa kamu mau bantu aku atau nggak?" tanya Anis, masih dengan nada sinis.
"Maafin aku Nis, aku nggak bisa." kataku, dengan nada tenang. Setidaknya di sini sudah ada mbak Hana yang akan menengahi jika antara kami terjadi pertengkaran.
"Kamu benar-benar nggak punya hati, Di." kata Anis. "Kamu mempermainkan kehidupanku. Dosa kamu!" tuduh Anis.
"Astagfirullah, maafin aku Nis kalau apa yang aku lakukan membuat kamu marah. Tapi sungguh, aku nggak bermaksud begitu. Aku belum siap jika harus menyatukan kamu dengan Ben sebab sejujurnya perasaanku pada Ben masih sama seperti sebelum kami berpisah." kataku.
"Lalu untuk apa kamu menggugatnya, Di? Labil ya kamu? Atau kamu punya masalah denganku? Kamu mau mempermainkan perasaanku?" tanya Anis.
"Sebelum kamu menceritakan semuanya, sungguh aku nggak tahu kalau kamu juga punya perasaan pada Ben. Aku datang ke cafe kamu juga tidak sengaja. Semula aku hanya ingin makan, tapi setelah melihat pengumuman lowongan, karena sedang butuh pekerjaan makanya aku melamar. Hanya itu, Nis. Bukan untuk mempermainkan kamu.
Tapi kalau kamu bilang aku labil, mungkin ini memang salahku sebab terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu.
Aku nggak bermaksud apa-apa, Nis. Aku juga bersyukur sebab kamu mau membantu aku. Kuharap suatu saat bisa membalas kebaikan kamu. Makanya aku nggak mau kita berkelahi, Nis." kataku.
"Tapi kamu sudah memberikan harapan palsu!" cetus Anis, tampak sekali ia benar-benar kecewa atas apa yang sudah aku putuskan. "Itu sama saja mempermainkan perasaanku. Coba kamu di posisi aku, pasti bakalan marah juga. Kamu nggak bayangin, sepuluh tahun aku memendam perasaan ini, selama itu juga aku berharap sama Ben. Sekarang seenaknya saja kamu ngaku masih suka sama Ben dan ingin balikan. Kalau kamu nggak mau pisah kenapa menggugat Ben. Lucu sekali kami, Di. Labil! Ini cukup jadi alasan kalau kamu nggak pantas untuk Ben. Ditambah sikap buruk kamu sebelum-sebelumnya!"
"Mbak Anis, Diandra kan sudah mengatakan semuanya sejujurnya. Sejak awal ia tidak tahu kalau mbak Anis suka sama mas Ben. Diandra mengira kalau mbak Anis membantunya tulus. Bukan karena embel-embel Ben, makanya ia menerima bantuan mbak dan ia sangat berterima kasih sekali.
__ADS_1
Jadi, kalau sekarang mbak marah-marah, menuduh Diandra hanya memberikan harapan palsu pada mbak. Sepertinya tuduhan mbak itu salah. Sebab Diandra sendiri baru tahu kenyataannya setelah mbak beritahu." mbak Hana mulai buka suara.
"Ya nggak bisa gitu, mbak. Harusnya Diandra juga mikir dong, kenapa aku baik-baikin dia selama ini." Anis masih belum terima.
"Astagfirullah, mbak, nggak semua orang bisa berpikir seperti itu. Diandra mengira mbak Anis itu tulis, lho." ungkap mbak Hana.
"Ya, saya tulus. Tapi kan ... ahh sudahlah. Kalian itu mau ngeroyok saya ya? Curang banget kamu Di. Sengaja nyuruh aku ke sini tapi kamu sendiri bawa teman. Kamu benar-benar jahat, Di. Culas. Beraninya main keroyokan. Kamu kira dengan apa yang kamu lakukan hari ini akan membuatku mundur? Nggak Di! Aku udah berjuang cukup lama untuk mendapatkan Ben, sekarang, setelah ada kesempatan, aku nggak akan menyia-nyiakan. Aku akan berusaha!" kata Anis. "Oh iya, kalau kamu nggak mau bantu nggak apa-apa. Tapi kamu juga harus tahu diri, Di. Kembalikan semua yang sudah aku berikan pada kamu."
"Tenang saja mbak Anis, Diandra sudah mempersiapkan semuanya." Mbak Hana memberikan isyarat agar aku mengambil uang tiga puluh juta yang sudah dipersiapkan olehnya sebelum Anis datang.
"Ini, Nis. Aku ucapkan terima kasih karena kamu sudah banyak membantuku. Hutang piutang antara kuta lunas ya Nis." kataku, sembari menyodorkan amplop berwarna coklat berisi uang pinjaman dari mbak Hana.
"Apa ini?" Anis melempar uang tersebut ke meja di hadapannya setelah dibukanya.
"Hah?" tiba-tiba tawa Anis tergelak. "Lucu ya kamu Di, katanya mau mengembalikan semuanya. Masa cuma segini?"
"Benar kan kontraknya tiga puluh juta?" tanyaku, sembari mengingat kembali kwitansi sewa rumah yang diberikan Anis sebelum kami pindah.
"Uang kontrakan rumah ini memang tiga puluh juta, tapi kamu punya hutang lain." ungkap Anis lagi.
"Hutang apa, Nis?" aku mengerutkan kening, mencoba mengingat apa yang dimaksud Anis, tapi rasanya benar-benar nggak ingat apapun.
"Diandra, kamu kan kerja di tempatku selama dua bulan. Kamu dapat uang kan dari aku. Empat tinggal gratis. Juga makanan yang sering aku berikan pada kamu dan anak-anak kamu. Jangan pura-pura lupa deh." kata Anis.
__ADS_1
"Sebentar ... maksudnya mbak Anis apa?" tanya mbak Hana.
"Ya balikin semuanya lah!" tuntut Anis.
"Astagfirullah. Saya nggak nyangka bertemu dengan orang yang aneh seperti mbak. Ternyata mbak itu picik sekali cara berpikirnya.
Mbak juga nggak lupa kan kalau Diandra kerja di tempat mbak. Kerja. Catat ya mbak. Dia kerja, nggak hanya numpang gitu saja. Tapi ada tenaganya yang mbak ambil. Jadi wajar kalau dia mendapatkan upah dari mbak. Itu haknya dia. Lucu juga kalau mbak minta itu semua kembali.
Mengenai tempat tinggal, Diandra sudah cerita kalau mbak sendiri yang menawarkan padanya. Itu juga fasilitas kerja di cafe mbak, kan? Jadi itu masuk ke dlaan haknya Diandra juga sebagai pegawai mbak.
Kalau soal makanan-makanan yang mbak berikan pada Diandra dan anak-anaknya, dia kan nggak minta. Salah mbak sendiri kenapa memberinya. Aneh banget mbak kalau meminta semuanya kembali.
Astagfirullah. Lagi-lagi saya heran, kenapa ada orang yang berpikiran aneh dan kekanak-kanakan seperti mbak." ungkap Mbak Hana sambil geleng-geleng kepala.
"Eh mbak, saya nggak tahu mbak siapanya Diandra. Ini sebenarnya masalah saya sama Diandra, tapi kenapa mbak malah ikut campur? Mbak juga sangat tidak sopan sekali mengatakan saya aneh dan kekanak-kanakan. Apa hak mbak bicara seperti itu? Mbak nggak kenal saya. Setidaknya saya jauh lebih baik dari Diandra.
Mbak tahu betapa lebih bobroknya orang yang mbak bela itu. Dia yang nggak ada bagus-bagusnya. Hanya bisa membuat masalah.
Bisa saja kan dia ingin balik sama Ben karena memang dia nggak becus. Dia sudah tahu bagaimana susahnya hidup tanpa ada yang menopang. Inilah bukti betapa lemahnya Diandra. Terus mbak dengan bangga malah belain dia!" ungkap Anis.
"Mbak mau bilang Diandra seperti apa, terserah. Tapi bagi saya Diandra lebih baik dari mbak!" kata mbak Hana sehingga membuat Anis semakin meradang. "Hanya orang sombong yang merasa lebih baik dari orang lain, mbak. Dan sikap sombong itu adalah turunan setan!"
"Astagfirullah, jahat sekali ya kamu. Saya datang ke sini baik-baik tapi malah kalian beginikan!" Anis semakin marah.
__ADS_1
"Sudah, sekarang mending mbak pergi. Bawa uang itu. Urusan mbak dan Diandra selesia. Kalau mbak masih tetap mengganggu akan kami adukan pada pak RT. Kapan perlu saya cerita semuanya pada papanya Caca dan Cici?" kata mbak Hana dengan tegas sehingga membuat Anis tak berkutik lagi, ia melengos pergi meninggalkan kami berdua.