ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
59. Bicara Pada Tante Maya


__ADS_3

Antara kaget dan sedikit takut, ketika sepasang mata itu menatapku tajam. Entahlah, aku serasa seperti hendak ditelan mentah-mentah. Tapi cepat-cepat aku mengingatkan diri sendiri bahwa kedua tangannya terikat, tak akan mungkin bisa bergerak bebas, apalagi sampai menyerang ku. Lagipula ada Ben dan mbak Hana juga, mereka tak akan membiarkan hal buruk terjadi padaku.


"Rena." katanya secara spontan, masih melihat padaku, tapi kini sepasang mata itu mulai meredup sehingga aku bisa melihat keindahannya, mata bulat dengan bulu mata yang lentik, hanya saja ada lingkar hitam di sekeliling mata tersebut, mungkin karena tidurnya tidak teratur.


Aku tak salah dengar, kan? Ia menyebut nama ibu. Berarti ia ingat ibu. Aku jadi semakin tertantang untuk segera berbincang dengannya, meski lagi-lagi ini terdengar aneh. Berbicara dengan orang gila.


"Anda tahu saya?" tanyaku, masih berdiri mematung, dengan jarak beberapa meter. Sejujurnya aku masih takut untuk mendekat.


Ia diam. Lalu mengalihkan pandangannya. Kini ia menatap langit-langit ruangan tempat ia dirawat, sementara mulutnya mulai mengoceh tak jelas dengan suara pelan.


"Tante Maya? Tante kenal saya?" tanyaku lagi, ketika aku hendak mendekat, tiba-tiba Ben menarik tanganku, ia memberi isyarat agar aku tidak maju lagi. "Kenapa Ben, aku ingin bicara dengan Tante Maya." kataku pada Ben. "Biarkan aku bicara sebentar."


"Di, ibunya Nasya sedang tidak sehat jiwanya. Berbicara dengan beliau tidak akan membuahkan hasil sebab Tante Maya tak bisa mencerna apa yang kita katakan." ungkap Ben.


"Nggak Ben, kamu dengar kan tadi, Tante Maya menyebut nama ibu saat melihatku. Itu tandanya Tante Maya masih ingat pada ibu." kataku.


"Mungkin saja itu hanya kebetulan, Di. Lihat sekarang, ibunya Nasya malah bicara sendiri." Ben menunjuk Tante Maya yang masih sibuk berbincang dengan langit-langit.

__ADS_1


"Tapi ... tadi kamu dengar juga kan, Ben? Ia memanggilku dengan nama ibu, berarti ia kenal aku. Jadi nggak ada salahnya untuk berbincang." kataku. "Mungkin kita hanya perlu memancing lagi seperti tadi. Nggak ada yang nggak mungkin, kan?"


"Di, yang dikatakan Ben ada benarnya juga. Tante Maya sudah kehilangan ingatannya. Mungkin tadi memang benar ia menyebut nama ibu, tapi bisa saja kan itu hanya kebetulan atau yang dimaksud bukan ibu, tapi Rena yang lain. Di dunia ini namanya Rena tidak satu." kata mbak Hana, ikut menengahi perdebatan aku dah Ben.


"Masa, sih? Tapi kan aku hanya ingin berbincang. Aku ingin menjelaskan semuanya agar tak ada lagi kesalah fahaman antara kami dan Nasya." kataku, sambil menatap Tante Maya. Sudah sampai di sini, lalu apa aku harus mundur begitu saja, setelah mendapatkan kemudahan bertemu dengan ibunya Nasya yang ternyata tidak semua orang bisa mengunjunginya. "Tante, saya ini Diandra, anak yang lahir karena sebuah kejahatan dokter Tomo yang melecehkan ibu saya. Sejak kecil saya tidak tahu siapa ayah saya hingga akhirnya Nasya datang pada kami dan membeberkan semuanya. Ia begitu membenci saya dan ibu, bahkan sudah berencana untuk balas dendam pada kami.


Nasya marah pada kami karena menganggap saya dan ibu yang sudah menghancurkan rumah tangga Tante dan dokter Tomo. Padahal tidak begitu, dokter Tomo yang memperkosa ibu, ketika saya hadir, ibu tak mau menggugurkan saya karena ibu menyadari bahwa saya tidak bersalah. Tapi kini kami dapat penghakiman dari putri Tante sebab ia merasa Tante stress akibat ulah kami. Apakah benar kami yang salah, tante?


Saya sangat yakin, sebenarnya Tante dan Nasya adalah orang baik. Kalian masih punya hati. Nasya begitu karena ia kehilangan sosok ibu dan ayah, rumah tangga Tante hancur. Tapi tetap tidak bisa dibenarkan jika ia mendendam pada orang yang sebenarnya adalah korban. Kami juga menderita akibat perbuatan suami, tante. Bisa bayangkan, perempuan muda yang punya mimpi tapi semuanya dihancurkan hanya karena nafsu binatang. Lalu masihkah kami dianggap salah? Iya, kaj Tante?" tanyaku padanya, dengan suara bergetar.


Ruangan tempat Tante Maya dirawat mendadak sunyi. Tante Maya tak bicara sepatah katapun, ia memejamkan matanya.


"Di, orang yang sedang sakit kejiwaannya tak akan bisa menjawab pertanyaan kita." kata Ben.


"Tapi ...." aku tak bisa terima, rasanya semua bukanlah ketidak sengajaan. Ketika Allah menggerakkan hatiku, ketika kami dengan mudah bisa masuk ke sini, juga sikap Tante Maya yang menyebut nama ibu. "Ini bukan sebuah ketidak sengajaan saja kan Tante Maya?" tanyaku lagi. "Tante bisa paham kan apa yang saya katakan? Tolonglah Tante, bukan hanya demi saya dan ibu saya, tapi juga demi Nasya. Tante tahu, ia bahkan hendak menghancurkan rumah tangga kami karena dendam ini. Nasya tak boleh melakukan itu sebab ia juga punya masa depan yang harus dijalankannya. Sampai kapan ia hidup menanggung dendam. Ia nggak akan bisa bahagia, Tante."


"Di, sudahlah." Ben terlihat tidak suka. Ia yang biasanya tak banyak protes, tapi kali ini aku yakin ia tidak suka dengan sikapku barusan yang memaksakan Tante Maya memahami apa yang ku sampaikan.

__ADS_1


Wajar saja sebenarnya, satu sisi aku merasa memang apa yang kulakukan ini aneh, tapi entah kenapa, di sisi lain hatiku mengatakan aku memang harus bicara dengannya.


"Ahhh!" akupun ikut kesal jadinya. "Kenapa aku ini?" kataku, sambil menghentakkan tanganku.


"Sudahlah Di, kita pulang saja, pikirkan cara lain untuk bisa meluruskan pikiran Nasya. Aku juga akan bantu." ungkap Ben.


"Yah, baiklah." kataku, dengan penuh kepasrahan. "Tante, maafkan saya, tak seharusnya saya kesini. Tetapi, terakhir saya katakan, saya dan ibu saya bukan orang jahat, Tante. Ibu sudah sangat menderita selama ini, semoga saja kita semua bisa sama-sama berdamai dengan kejadian buruk di masa lalu dan orang jahat bisa mendapatkan hukuman yang setimpal." ungkapku. "Ayo kita pulang." aku mengajak mbak Hana dan Ben. Tak seharusnya aku berharap pada manusia, harusnya cukup pada Allah saja.


"Tunggu dulu, Di." aku dan Ben berjalan menuju pintu, Ben hendak memencet bel agar petugas datang menjemput kami, tapi terhenti sebab panggilan mbak Hana.


"Kenapa, mbak?" tanyaku.


"Tante Maya. Tante bisa mengerti apa yang disampaikan Diandra?" tanya Mbak Hana pada tabte Maya yang kini berbaring membelakangi kami.


Aku tak sabar, labsgung mendekat ke ranjang Tante Maya, benar saja, kudapati kedua mata itu meneteskan air mata. Ia menangis. Ini pertanda bahwa ia sebenarnya bisa mengerti apa yang kukatakan, kan?


"Tan ... apa Tante paham apa yang ku sampaikan tadi?" tanyaku. "Tante Maya, bicaralah."

__ADS_1


"Di," Ben memberi isyarat agar aku bersabar. Memberikan jeda padanya untuk menguasai emosinya.


"Ya, saya mengerti, sebab saya tidak gila." katanya, diantara Isak tangisnya. Hingga membuat kami bertiga terbelalak. Tante Maya tidak gila, lalu kenapa ia harus masuk rumah sakit jiwa?


__ADS_2