ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
87. Caca Hilang


__ADS_3

Nyaris saja mata ini terpejam ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan Cici. Ia berlari menuju arahku, dengan wajah ketakutan sambil menunjuk-nunjuk arah luar.


"Kenapa Ci?" tanyaku. "Caca mana?" aku melengok ke belakang, mencari keberadaan Caca, tapi tak ada. Mata yang semula mengantuk sudah bisa dikondisikan. Perlahan aku bangkit, agak menjauh agar Rizky tak terbangun. Sejak semalam bayi ini agak rewel, ia tak mau tidur kalau tak digendong. Makanya benar-benar lelah, padahal tak ada seorangpun yang bisa menggantikan ku mengasuhnya.


Tadi, Caca dan Cici main keluar rumah. Katanya mau beli bakso tusuk di simpang perumahan. Aku tidak mengantar karena tadi harus menidurkan Rizky. Tidak ada orang dewasa lainnya di rumah ini. Ibu sedang menemani mbak Hana periksa ke bidan, sementara Ben keluar bersama mas Hendri untuk membeli laptop keperluan penjualan online buku-bukuku. Lagipula lokasinya tidak terlalu jauh, sering mereka lalui, makanya aku memperbolehkan.


"Ci, mama tanya, Caca dimana?" aku mengulang kembali pertanyaan.


"Caca di culik ma!" ujar Cici sambil menangis.


"Hah, apa? Diculik?" aku langsung panik, memaksakan Cici untuk menceritakan apa yang telah terjadi.


"Tadi waktu kami mau jajan bakso tusuk, terus tiba-tiba ada mobil berhenti. Terus ada bapak-bapak keluar dari mobil itu, mereka membawa Caca karena Caca berdiri di pinggir jalan, sementara Cici agakn berjarak."


"Astagfirullah!" aku ikutan panik. "Terus kamu nggak teriak atau nolongin Caca?"


Pertanyaan itu harusnya tidak perlu aku pertanyaan sebab usia Cici baru genap enam tahun. Ia sendiri tentu tak bisa berbuat banyak untuk melawan penculik-penculik itu.


"Ya Allah, bagaimana ini?" Aku benar-benar panik, segera lari keluar menuju tempat yang dimaksud Cici. Saking gugupnya, aku meninggalkan Rizky sendirian di rumah, begitu juga dengan Cici yang membuntuti ku sambil menangis.


"Caca ... Caca ... Caca!" Aku memekik, berteriak memanggil nama Caca, berharap ia menjawab.


"Ada apa mbak?"


"Cari siapa mbak?"

__ADS_1


"Anaknya kenapa mbak?" tak butuh banyak waktu, orang-orang di sekitar komplek berkeluaran dari rumah meteia masing-masing. Mereka bertanya tentang apa yang aku lakukan.


Masih dengan suara gemetaran, aku menceritakan kembali apa yang dialami oleh Caca dan Cici. Orang-orang bersimpati, ada yang langsung memanggil pak RT, ada juga yang menawarkan mengantarku ke kantor polisi.


Mungkin karena benar-benar takut terjadi hal buruk pada Caca, kuikuti saja saran mereka. Diantar beberapa warga, aku segera ke kantor polisi untuk membuat laporan.


Suasana di komplek perumahan yang kami tinggali memang banyak rumah-rumahnya. Tetapi layaknya penghuni ibu kota, biasanya mereka jarang keluar rumah. Apalagi kalau masih jam kerja, hanya anak-anak kecil yang ada di rumah ditemani pembantu atau baby sitter. Tuan rumahnya biasanya bekerja di ibu kota.


"Tolonglah pak, Carikan putri saya!" Pintaku, sambil menyeka air mata. Aku benar-benar khawatir dengan kondisi Caca sekarang ini. Siapa orang yang tega-teganya menculik putriku. Apa yang mereka harapkan dari kami? Kalau mereka menginginkan yang, sepertinya mereka salah menculik sebab sekarang ini kondisi keuangan kamipun sedanb tidak stabil.


Aku kembaki menitikkan air mata. Ada perasaan tidak puas saat polisi memintaku untuk menunggu di rumah. Pihak mereka akan melakukan penyelidikan.


Bagaimana aku bisa menunggu di rumah sementara saat ini putriku bersama orang asing yang bisa saja melakukan hal-hal jahat padanya.


"Tolonglah pak, cari putri saya sekarang juga!" Aku masih memohon. Tapi pak polisi tetap memintaku untuk kembali.


Aku terpaksa pulang sebab semua orang terus memaksa agar aku pulang. Sampai di rumah, tambah kaget sebab ternyata aku meninggalkan Rizky sendirian. Ibu dan mbak Hana yang baru pulang langsung mempertanyakan keberadaan ku.


"Gimana sih Di, masa bayi ditinggalkan sendirian!" ibu langsung protes. "Kalau mau kemana-mana itu ya sabar dulu sampai ada yang jagain. Pas ibu pulang Rizky sedabg nangis kejer lho. Untung saja ia nggak merambat, bisa jatuh nanti."


"Bu, Caca hilang!" aku kembali menangis.


"Astagfirullah." kata mbak Hana dan ibu.


"Bagaiaman ceritanya Di? Hilang dumana?" ibu langsung mengguncang tubuhku, berharap agar aku segera bercerita.

__ADS_1


"Tadi mereka keluar. Katanya mau beli bakso tusuk. Tiba-tiba Cici pulang sendirian, katanya Caca di culik." ceritaku sambil Menangis sesenggukan.


"Tenang Di, kita cari Caca secara maksimal." Mbak Hana langsung menghubungi suaminya agar segera pulang karena kondisi sedang darurat.


***


Sudah tiga jam berlalu. Tak ada tanda-tanda dari penculik Caca. Sementara Ben dan mas Hendri sudah beberapa kali bolak-balik kantor polisi untuk memastikan kasus ini sudah mendapatkan penanganan.


Sementara aku hanya bisa duduk diam sambil menangis. Ada banyak harapan pada diri sendiri, salah satunya punya feeling dimana Caca berada, tapi sayangnya tak juga muncul-muncul.


"Caca!" Kembali aku meraung. Teringat kejadian-kejadian mengerikan tentang anak-anak yang mengalami penculikan. Ada yang diambil organ tubuhnya, ada juga yang dijual ke luar negeri


"Sabar Di, kita semua sudah berusaha yang terbaik untuk Caca." Kata mbak Hana. Ia memberikan sepiring nasi dan juga air putih. "Kamu makan dulu, sejak tadi belum juga makan, kan? Ingat Di, Rizky juga masih butuh asi."


"Tapi mbak, bagaimana aku bisa makan sementara anakku sendiri entah ada dimana? Lagian para penculik itu kenapa sih, mereka mau apa? Kenapa beraninya cuma sama anak kecil!" cetusku.


Kami masih dalam perdebatan ketika akhirnya Hpku berbunyi. Ada telepon dari nomor baru yang semula kukira adalah penculiknya.


[Di!] suara yang pernah ku dengar. [Papa cuma mau ngasih tahu, Caca katanya mau nginap di sini.]


[Apa? Jadi anda yang menculik Caca?] aku langsung naik darah. Menyesal juga, kenapa sejak awal tidak mencurigainya. [Kurang ajar sekali anda, berani-beraninya menculik anak saya. Kembalikan ia sekarang atau anda akan berurusan dengan polisi!]


[Hahahaha, Di ... Di. Kamu itu putrinya papa dan Caca adalah cucu papa. Jadi papa tidak menculiknya Di, papa cuma mau ngajak dia jalan-jalan. Itu saja!]


[Tunggu di sana, saya akan memberi Anda pelajaran!] Setelah mematikan Hp, aku langsung pamit sembari menitipkan Rizky pada ibu dan Hana. Tidak lupa kukirin pesan pada Ben bahwa aku akan menemui pak Tomo.

__ADS_1


"Berani-beraninya ia menculik putriku. Ia belum tahu bagaimana kalau aku mengamuk!" Aku mencegat motor yang lewat secara asal. Lalu memintanya untuk mengantarkan ke rumah pak Bimo, tentunya dengan iming-iming uang yang cukup tinggi.


__ADS_2