
Lelaki itu kembali datang ke rumah kami. Mungkin ia mengira sudah bisa menaklukkan aku sebab sumber rezeki kami sudah ditutup seluruhnya oleh pak Tomo. Tapi ia lupa, yang memberi rezeki itu Allah. Ia tak akan mampu menutup semuanya sebab rezeki bisa datang dari mana saja.
"Bagaimana Di? Apa kamu mau tinggal bersama papa?" tanyanya lagi. Setelah ia memaksakan kembali berbicara.
"Nggak pak. Saya punya rumah sendiri. Punya keluarga dan orang tua yang harus saya urus juga. Nggak mungkin saya meninggalkan semua itu." kataku. Sebenarnya agak kesal sebab ia datang di saat Ben tak ada di sini. Untungnya ibu dengan sigap menghubungi mbak Hana untuk menemani kami sembari menanti kepulangan Ben. setidaknya kalau ada apa-apa, kami tak benar-benar sendirian menghadapinya. Meski secara langsung ia tak menunjukkan gelagat akan berbuat jahat, tapi caranya melobi agar kami kehilangn mata pencarian adalah cara yang licik.
"Hanya sebentar Di. Tidak lebih dari sebulan. Usia papa sudah tua. Entah kapan nyawa papa diambil Tuhan. Papa hanya ingin merasakan tinggal bersama anak, menantu dan cucu-cucu papa."
"Bukannya ada Nasya? Oh ya, kemana dia sekarang? Kenapa sekarang nggak ada kabat? Bahkan ia berhenti kerja tanpa informasi jelas. Mendadak keluar tanpa pamit atau sekedar memberikan surat pengunduran diri."
Aku menatap pak Tomo penuh selidik. Ia mulai gugup, tapi dengan cepat bisa menguasai dirinya sendiri. Sehingga kembali bersikap biasa. Bahkan begitu percaya dirinya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nasya ke luar negeri." Jawab pak Tomo.
"Keluar negeri? Kenapa tiba-tiba sekali? Sebelumnya tak ada pembicaraan sama sekali."
"Nasya sebenarnya sudah lama ingin melanjutkan kuliahnya. Hanya saja ia harus mengurus ibunya, makanya baru bisa merealisasikan mimpinya sekarang. Lagipula memang kalian sedekat itu hingga ia harus bicara dejhanmu?"
"Oh ya? Memang kami tak dekat, tapi masa dengan teman lainnya juga tidak memberi tahu." rasanya ingin membantah pernyataan pak Tomo. Aku tahu betul bahwa Nasya tak sering bertemu dengan Tante Maya. Bagaimana mungkin ia beralasan seperti ini. Lagi-lagi aku dibuatnya curiga. Hanya saja tak ingin langsung menuduh sebab tak paham bagaimana kondisi yang sebenarnya saat ini.
"Tentu saja."
"Boleh aku minta nomor teleponnya? Aku ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang."
"Nanti, kalau kamu sudah di rumah, kita hubungi Nasya sama-sama. Ia pasti senang kalau kita telponan bareng-bareng."
Entahlah, ada kecurigaan begitu besar pada lelaki ini. Aku ragu, apakah Nasya benar-benar keluar negeri. Kalau memang benar, kenapa ia harus menolak memberikan nomor putrinya padaku? Toh kami sudah saling kenal.
"Tidak sampai saya bisa bicara dengan Nasya. Setelah itu baru akan saya pertimbangkan."
"Hahaha, baiklah nak. Papa akan meminta Nasya melakukan panggilan padamu supaya kamu percaya.
Makanya Di, jangan terlalu curiga sama ayah kandung sendiri. Papa yakin pikiranmu sudah dicuci."
__ADS_1
"Tak ada yang mencucinya!"
"Kalau begitu cepat tentukan sikap sebelum semuanya terlambat."
"Maksud anda apa?"
"Hehehehe." ia terkekeh. "Bagaimana kondisi perekonomian kalian?"
Aku menatapnya tajam. Ini pertanyaan jebakan untukku. "Anda kan yang sudah membuat saya kehilangan kontrak. Anda juga yang membuat suami saya diberhentikan?"
"Hahahaha, jangan salah sangka dulu nak. Papa sengaja melakukannya sebab hanya ini caranya supaya kamu nurut sama papa."
"Diktator!"
"Hahahaha. Cepat tentukan pilihanmu sebelum papa berubah pikiran. Oh ya, katakan juga pada suamimu, tidak perlu mendatangi perusahaan Mega Group, tanpa rekomendasi dari papa ia tak akan pernah bisa bekerja di sana." lagi-lagi lelaki itu terkekeh. Lalu pergi meninggalkan aku.
Aghhh, benar-benar gila!
***
"Mama, kapan kita daftar SD nya?" tanya Caca, saat aku sedang menimang Rizky. "Belum beli pakaian sekolah, sepatu, tas dan buku-buku baru juga."
"Untuk apa beli baju dan buku baru kalau nggak daftar sekolah." celetuk Cici.
"Memangnya Caca dan Cici nggak bakalan sekolah, ma?" Caca bertanya lagi.
"Nggak tahun ini." timpal Cici lagi.
"Lho, kenapa?" Caca balik bertanya ke Cici.
" Karena papa dan mama belum punya uang. Kamu nggak dengar semalam mama bilang apa? Kalau nggak ada uang berarti kita nggak sekolah." celetuk Cici, seolah tanpa beban.
"Kok gitu? Caca tetap sekolah kan ma?" Caca mengguncang tanganku.
__ADS_1
"Sekolah kok. Pekan depan daftar." jawab ibu.
"Bener, nek?" Caca langsung beranjak pada neneknya dengan mata berbinar-binar.
"Ya benarlah. Besok nenek pulang, mau jual rumah supaya kalian bisa masuk sekolah yang bagus. SD apa namanya? Al Islam kan?" pertanyaan ibu dijawab anggukan oleh Caca dan Cici. Setelah itu mereka keluar kamar dengan riang karena mendapatkan janji akan didaftarkan sekolah.
"Nggak usah jual rumah, bum" Kataku.
"Enggak apa-apa. Ibu dulu membelinya untuk kamu, sekarang kamu sudah berumah tangga, jadi dikasih ke anak-anak. Sama sajalah. Lagian siapa yang mau tinggal di sana? Ibu sudah kerasan di sini."
"Tapi kalau Ben tahu ia tak akan nyaman."
"Ya nggak usah dikasih tahu dulu. Kasihan Ben, pasti sudah capek keliling-keliling cari kerjaan. Benar-benar si Tomo itu!"
Aku tak ingin meladeni Omelan ibu sebab kepalaku pun sudah pusing memikirkan nasib kami ke depannya. Tak mungkin terus mengandalkan uang penjualan rumah ibu.
***
Ben pulang dengan wajah lesu. Tandanya ia belum dapat pekerjaan. Sebuah pelukan diberikannya padaku, seolah mengatakan bahwa besok InsyaAllah ia akan dapat kerjaan. Rasanya benar-benar diuji lagi. Baru saja kami kembali membina rumah tangga, ujiannya sudah seperti ini lagi.
"Di," panggilnya.
"Kenapa?" aku melirik. "Kamu capek ya? Ahhh kenapa masih nanya. Pasti capeklah keliling-keliling cari kerjaan. Ayo sini, aku pijit." cepat kuraih tangannya, agar mendekat.
"Nggak usah. Aku saja yang mijitin kamu. Pasti kamu juga lelah seharian ngurus anak-anak."
"Ada ibu yang bantuin aku."
"Di ... tolong jangan goyah ya. Kita masih punya Allah. Kamu tahu, kan. Sekuat apapun pak Tomo memutus pintu rezeki kita, Allah lebih segala-galanya. Kamu sabar sebentar lagi ya. Allah pasti sudah mempersiapkan kejutan besar untuk kita. Kamu kuat ya Di!' Ben memelukku erat sekali.
Ces. Tetesan demi tetesan air mata itu jatuh membasahi pipi kami. Aku dan Ben sama-sama menangis.
Masalah ekonomi adalah salah satu ujian dalam pernikahan. Aku nggak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tak ingin goyah lagi. Apapun yang terjadi, aku akan bertahan di samping Ben. Aku akan setia bersamanya. Aku yakin, akan ada jalan untuk kami. Ya Allah ... tolonglah kami.
__ADS_1