ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
90. Surat Tante Maya


__ADS_3

Kepada Diandra.


Saat seseorang berada dalam penjara derita, hidup penuh tekanan. Tiap malam dihabiskan dengan air mata. Nyaris tak ada sedikitpun kebahagiaan dan harapan hidup maka tak ada pilihan lain selain melakukan hal gila.


Diandra, sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, agar terang semuanya. Saya adalah seorang istri dan ibu yang mencoba melakukan segalanya sebaik mungkin. Tetapi siapa sangka, pengabdian dan pengorbanan saya dibalas dengan pengkhianatan oleh suami saya. Rasanya tak ada yang kurang dari rumah tangga kami. Harta melimpah, punya jabatan dan anak yang cantik. Tetapi tak menjadi jaminan kebahagiaan itu bisa saya rengkuh.


Mungkin inilah ujian hidup untuk saya. Diuji dengan apa yang paling saya cintai, yaitu suami saya.


Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali ia mengkhianati saya di belakang, padahal selama ini saya berupaya mengabdi. Tapi saya tak menyalahkan dirinya sepenuhnya. Mungkin memang ada cacat pada diri saya hingga ia tega melakukan ini semua.


Diandra, hancur hati saya saat mengetahui bahwa ia memiliki anak dari perempuan lain yaitu kamu. Ingin sekali saya marah dan membenci kamu dan ibumu. Tapi sepasang mata ibumu yang begitu polos membuat saya tak sampai hati untuk memakinya. Saya terlalu iba padanya yang juga korban. Tapi rasa sakit usai dikhianati suami membuat saya tak mampu untuk merangkulnya. Maafkan saya.


Diandra ... saya tahu, suami saya bertahan di samping saya sebab ia mengincar harta warisan saya. Tanpa itu semua ia tak punya apa-apa. Bahkan segala yang dimilikinya tercatat atas nama saya.


Hari itu, ketika usia putri kami menginjak sepuluh tahun, pecah amarahnya sebab saya membekukan kartu kreditnya. Ia bahkan hendak membunuh saya jika dalam satu jam semua tak kembali seperti semula. Di situ saya sadar, hubungan kami tak sehat, tapi saya tak tahu harus melakukan apa untuk bisa lepas darinya.


Beberapa kali saya mencoba menggugatnya, ia mengelak, mengiba hingga kembali mengancam dengan putri kami. Ibu mana yang sanggup jika putrinya disakiti.


Pertahanan saya hancur ketika ia kembali melakukan dosa besar itu, kini dengan salah satu kerabat jauh kami. Melani namanya. Gadis itu yang saya besarkan dan sekolahkan hingga mendapatkan titel Doktor, tapi tega menikung saya dari belakang.


Secara tidak sengaja saya mendengarkan rencana jahat mereka untuk memasukkan saya ke rumah sakit jiwa agar harta milik saya bisa dikuasai oleh mereka.


Itulah kenapa akhirnya saya berpikir cepat, untuk mengalihkan semuanya agar mereka tak bisa lagi mendapatkan apapun juga.

__ADS_1


Tapi pada siapa? Tak ada satupun orang yang bisa saya percayai karena setelah menikah dengan suami saya, seluruh pertemanan saya ditutup olehnya. Tak mungkin mewariskan semuanya pada putri saya sebab sama saja mencelakainya, Tomo akan menghabisinya agar bisa menguasai semuanya.


Pada akhirnya namamulah yang terpikiri oleh saya. Kenapa kamu? Karena kamu adalah putri Tomo, saudara sedarah putri saya. Meskipun kalian tak berteman akrab, tapi saya yakin, yang namanya hubungan darah pasti ada ikatannya. Saya yakin sekali kamu bisa bersikap bijaksana sebab dalam tubuhmu mengalir juga darah ibumu. Ialah satu-satunya wanita yang berhasil kabur dari hidup Tomo, saya harap kamu pun mampu untuk lepas darinya.


Saya tak mungkin mencantumkan nama kamu sebagai ahli waris sebab kamu tak berhak mendapatkan warisan saya. Makanya saya memutuskan menghibahkan semuanya pada kamu, dengan hanya menyisakan satu rumah sebagai syarat saja untuk ahli waris saya nantinya.


Diandra ... maafkan saya telah lancang membawa kamu dalam masalah ini. Tapi saya benar-benar tak punya pilihan lain selain melakukan pilihan ini. Bukan karena saya mengkhawatirkan harta peninggalan saya, tapi jika Tomo menguasainya maka akan banyak kemudharatan yang terjadi nantinya. Nauzubillah min zhalik.


Semoga kamu berkenan Diandra. Dan saya berharap kamupun kelak bisa berteman dengan putri saya, Nasya. Bagaimanapun kalian adalah saudara sedarah.


Dari Maya.


Air mataku luruh satu-persatu membaca surat dari Tante Mata. Pak Tomo benar-benar jahat, bagaimana mungkin ia bisa mengkhianati istri sebaik Tante Maya!


"Aku akan bereskan semuanya. Ben, tolong aku hubungi mbak Hana dan mas Hendri untuk menjemput anak-anak. Pastikan juga bahwa ibu berada di tempat yang aman. Sampai kita bisa menyelesaikan semua ini, ibu dan anak-anak ditempatkan di tempat yang aman dulu. Bagaimana?" tanyaku pada Ben.


"Baiklah, tapi ingat kamu juga harus hati-hati. Menurutku pak Tomo bukan orang biasa. Ia snagay licik dan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya."


"Itulah kenapa ibu dan anak-anak harus berada di tempat yang aman. Aku nggak mau mereka kenapa-kenapa meski aku yakin pak Tomo sekarang ini hanya ibarat macam ompong."Tanpa uangnya Tante Maya,aku sangat yakin pak Tomo tak akan bisa melakukan apapun. Tapi tetap saja aku harus terus hati-hati sebab segala kemungkinan bisa saja terjadi.


"Sudah selesai belum?" tiba-tiba pak Tomo muncul di pintu, tentu saja ditemani oleh Melani.


"Yap. Saya siap." Kataku, laku melangkah ke ruangan tempat pengacara berada diikuti Ben dan anak-anak.

__ADS_1


"Bagaimana mbak Diandra?" tanya pak pengacara padaku.


"Saya sudah memutuskan akan menerima hibah dari Tante Maya, setelah semua serah terima selesai barulah akan saya sumbangkan pada pihak-pihak yang membutuhkan seperti panti asuhan dan rumah-rumah singgah." Kataku dengan mantab.


"Apa Diandra? Jangan aneh-aneh kamu!" pak Tomo langsung maju. Pancinganku berhasil, ia sudah menunjukkan watak aslinya. Harapanku agar pengacara dan notaris tahu siapa ia sebenarnya.


"Satu lagi, apakah saya dan keluarga bisa menempati rumah ini?" kataku. "Tentunya hanya keluarga kami saja."


"Diandra!" pak Tomo makin meradang.


"Tentu saja, rumah ini juga termasuk dalam harta yang dihibahkan." Kata pak pengacara.


"Jadi tidak masalahkan jika saya meminta pak Tomo dan istrinya untuk keluar dari sini." ucapku.


"Tentu saja. Bukan begitu pak Tomo?" Pak pengacara tersenyum padaku.


"Kurang ajar kamu Diandra. Kamu mau menusuk saya dari belakang?" ia hendak maju, tapi salah seorang pengacara dengan sigap menghalangi langkahnya.


"Di luar ada polisi, kalau bapak melakukan perbuatan-perbuatan terlarang maka kami bisa saja memenjarakan bapak." kata pengacara senior.


"Diandra, awas kamu Diandra. Saya tak akan memaafkan kamu begitu saja. Kamu nggak akan lolos dari saya!" ia terus berteriak memaki saya, tapi salah seorang pengacara memanggil polisi untuk masuk menenangkan pak Tomo agar keributan bisa dihentikan.


Sudah cukup kamu melakukan kejahatan, aku sudah tak ingin ada korban lagi. Perbuatannya pada ibu dan Tante Maya sudah cukup jahat. Ia sekarang berteriak bahwa aku zhalim padanya, tapi ia tak berpikir kezhaliman yang dilakukannya pada istrinya dan ibuku!

__ADS_1


__ADS_2