
Bukaan empat. Bu bidan yang jaga mengatakan masih dua jam-an lagi bayinya lahir, aku dipersilahkan menunggu di klinik. Kuputuskan untuk mondar-mandir demi membantu percepatan lahiran. Sementara Ben menanti sambil duduk di kursi tunggu yang berada tak jauh dariku.
"Ben," panggilku lagi. Saat ia baru membuka halaman majalah.
"Ya Di." dengan sigap ia mendekat.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Sebentar lagi aku akan mempertaruhkan nyama untuk melahirkan anak ketiga kita. Entah aku bisa selamat atau tidak."
"Astagfirullah Di," Ben langsung marah, ia memang tak suka jika aku bicara tentang kematian saat-saat seperti ini. Trauma saat melahirkan Caca dan Cici saja baginya belum hilang. Mungkin karena itu Ben begitu tegang "Bicara yang baik-baik saja. Kata-kata adalah doa. Aku nggak mau kamu atau anak kita kenapa-kenapa. Memangnya kamu rela jika meninggalkan bayi kita yang baru lahir. Ia butuh sosok ibunya, Di. Siapa yang akan menjaga dan menyusuinya? Jangan bicara sembarangan. Aku nggak suka kamu seperti itu."
"Iya, iya. Maaf. Tapi kan semua orang akan mati juga, Ben. Entah itu cepat atau lambat."
"Tapi nggak perlu dibicarakan dalam momen seperti ini. Aghhh, Diandra!"
"Ya maaf. Aku cuma mau minta maaf, untuk segala kesalahanku dan juga salah paham antara kita."
"Salah paham bagaimana?"
"Ben, aku mau buat dia pengakuan. Apa kamu mau dengar?"
"Ya, tentu saja. Apa itu?"
"Pertama, tentang rumah. Kamu tahu kan, kita punya tetangga siapa dan seperti apa orangnya. Dia juga punya keinginannya untuk membeli rumah kita? Kamu tahu kenapa aku menolak kembali ke sana? Ketika kita menikah nanti, Ben. Aku sedang dalam posisi punya bayi. Tak akan mudah bagiku mengontrol emois dari segala kejulitannya Bu Fenti. Saat belum punya bayi saja aku selalu meletup-letup usai berbicara dengannya. Ia itu ibarat cabe level sepuluh.
Aku takut kena baby blouse. Atau malah nanti nggak sukur nikmat. Sehingga akhirnya kita bertengkar lagi. Pada akhirnya bukan hanya kita berdua yang kena dampaknya, tapi anak-anak, Ben. Apalagi sebentar lagi akan ada tambahan personel dan rasanya aku tak tega.
Ben, dosaku pada Caca dan Cici sudah banyak sebab memisahkan kamu dari mereka. Selama hampir sembilan bulan ini kalian berjauhan..pasti tidak mudah, kan?
Juga bayi ini. Selama ia masih dalam kandungan, tak pernah kamu menyentuhnya. Itu semua gara-gara aku, Ben dan rasanya aku sangat berdosa sekali. Aku menyesal Ben.
Aku menolak kembali bukan karena tidak menghargai jerih payah kamu. Selama kita berpisah, aku sudah melakukan muhasabah, memikirkan semuanya dan menyadari kalau aku itu kufur nikmat. Harusnya aku bersyukur punya suami tampan, bertanggung jawab dan baik seperti kamu.
Bukankah rezeki itu urusan Allah. Kalau kamu sudah berusaha dan berdoa, harusnya aku mensyukuri semua itu, bukan malah mencari-cari kesalahan kamu." kataku, dengan penuh penyesalan.
"Astagfirullah, aku juga salah, Di. Langsung terbawa perasaan saja. Sejujurnya aku minder, Di. Takut belum bisa membahagiakan kamu dan anak-anak. Aku benar-benar khawatir kejadian ketika kamu menggugat diam-diam. Tapi kamu harus percaya, Di. Sebenarnya aku berusaha kok bekerja sungguh-sungguh. Ini juga aku ingin memberikan yang terbaik makanya aku ingin merenovasi rumah kita, kuharap dengan begitu kamu dab anak-anak nanti bisa nyaman kalau sudah kembali, tapi kalau kamu nggak nyaman nggak apa-apa. Kita bisa jual rumah itu dan pindah ke tempat yang kamu inginkan."
"Benar Ben?"
"Ya, tentu saja. Yang penting kamu dan anak-anak bahagia. Kamu sudah punya gambaran mau tinggal dimana?
"Bagaimana kalau di sekitar sini saja, aku ingin tetap bertetanggaan dengan mbak Hana. Ia banyak membantu saat aku ingin berubah,Ben. Tapi tetap, Kebahagiaan kamu juga penting,Ben."
__ADS_1
"Kebahagiaan aku itu adalah kamu dan anak-anak. Kalian nyaman, aku juga pasti bahagia dan tenang."
"Ben!" ingin sekali memeluk Ben, tapi lagi-lagi harus bersabar sebab kami belum menikah.
"Yang kedua apa?"
"Hmmm, itu ...." ragu juga bicara pada Ben, khawatir ia marah.
"Apa Di?"
"Tapi kamu janji nggak akan marah?"
"Baik."
"Aku sudah terlanjur membuat novel tentang ayahku."
"Apa?"
"Ya Ben, novelnya sudah naik ke meja redaksi dan sedang proses cetak."
"Astagfirullah Diandra. Kan sudah dikatakan, jangan bahas apapun lagi tentang pak Tomo, lagipula ibu nggak akan suka. Kenapa kamu nggak berubah juga, Di?"
"Tapi tidak dengan menantang masalah, Di."
"Ditambah tadi Nasya meneleponku."
"Apa katanya? Untuk apa Nasya menelepon kamu?"
"Entah, ia cuma menangis. Lalu telepon dimatikan. Ketika aku telepon balik, sudah tidak aktif."
"Lalu apa saja yang kamu tulis di novel?"
"O, itu ...." aku tertawa kecil.
"Di,"
"Aku lupa Ben."
"Ceritakan garis besarnya."
"Nggak bisa."
__ADS_1
"Kalau begitu apa alamat email kamu? Biar aku baca sendiri naskahnya. Ada, kan?"
"Hah, aduh, itu ... nanti saja kalau naskahnya sudah jadi."
"Nggak Di, sebutkan sekarang." Ben memberikan Hpnya, ia memaksaku menulis alamat dan password agar bisa masuk ke alamat emai.
"Nggak bisa Ben."
"Kenapa?"
"Ya nggak bisa saja." aku bertahan sekuat mungkin karena kalau Ben baca, ia pasti akan memintaku untuk merombak semuanya. Aku tahu betul Ben, ia tak akan pernah setuju jika aku berurusan dengan masalah.
"Buka Diandra!" Ben masih memaksaku.
Ben terus menyodorkan Hpnya, sedangkan aku mengelak. Tidak mungkin lagi naskah itu dirombak. Aku tak akan punya waktu mengurusnya, apalagi sebentar lagi punya bayi.
"Diandra, ayo buka." Pinta Ben lagi. Ia masih tetap menyodorkan Hp.
"Nggak, nggak sekarang Ben."
Rasanya tak tahu harus berbuat apa agar Ben tidak mendesak ku.
"Nanti kamu bisa baca kalau novelnya sudah terbit." Kataku.
"Nggak, kalau sudah terbit tandanya sudah tidak bisa dirombak lagi. Jangan coba-coba main api Diandra. ayo cepat buka!"
Ben mengejar langkahku, tapi aku masih cukup gesit untuk mengelak darinya. Kami terus berkejaran.
"Buka Di, buka!" Pinta Ben, kali ini ia agak memaksa.
"Aaaaa .... Tidak!" Pekikku, saat hampir tertangkap olehnya.
"Ada apa Bu?" seorang bidan dan dua perawat yang sedang berjaga langsung menghampiri. mereka mengerutkan kening saat mendengar permintaan Ben.
"Maaf,ada apa ya Pak?" Tanya Bu bidan.
"Di, ayo buka!" Ben masih kekeh.
"Nggak, nggak sekarang. Aku mau melahirkan." kataku, sambil menunjuk ke arah perut yang menunjukkan gerakan. Kontraksi yang makin sering. Dua perawat langsung memapahku ke ruang bersalin,sementara Ben berdiri mematung
Nak, terimakasih sudah menyelamatkan ibumu!
__ADS_1