
"Mbak Di keren sekali. Baru nerbitin buku, sudah punya fans fanatik. Sampai borong seratus eksampler lho. Katanya mau dibagi-bagikan sama seluruh keluarga dan kerabatnya. Wow banget deh, mbak Di. Harus terus dipertahankan ini, makanya saya calling mbak Di pagi-pagi, semoga saja nggak emngganggu waktunya mbak Di ya." mbak Lila menjelaskan. Ia adalah orang yang ditugaskan oleh penerbitan tempat aku menerbitkan novel, untuk mengurus semua hal berkaitan dengan novelku.
Pagi-pagi sekali aku sudah dihubungi oleh penerbitan yang meminta agar hari ini datang ke kantor untuk menandatangani beberapa novel pesanan. Sesuai dengan keinginan dari pelanggan tersebut. Tentu saja aku sangat senang sekali. Selain punya pembaca juga ada bonus yang dijanjikan. Makanya stelah selesai dengan semua urusan rumah, aku langsung meluncur ke sinu.
Sampai di kantor penerbit, mbak Lila menyambut kedatanganku dengan antusias. Aku menilai ia adalah tipikal orang yang humble sebab baru tiga kali bertemu kami sudah seakrab ini, bisa bercanda tanpa basa-basi.
"Mbak, nanti aku tinggal bentar ya. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Mbak Di bisa tanda tangan sambil ngobrol sama fansnya mbak Di. Tapi jangan sombong-sombong ya mbak Di, demi kemajuan novel-novel mbak juga!" seru mbak Lila. Ia bahkan menceritakan bagaimana sikap beberapa penulis pemula yang akhirnya berhasil meraih simpati pembaca karena sikapnya yang ramah.
"InsyaAllah mbak, aku nggak akan sombong. Sebisa mungkin mengakrabkan diri. Lagian kenapa harus sombong. Nggak ada yang bisa aku sonbongkan. Baru juga punya pembaca yang karyanya masih satu. Tapi semoga dia suka dan nggak kecewa sudah mengidolakan saya ya mbak." kataku, mencoba mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya masih belum percaya ada yang menyukai tulisanku hingga benar-benar fanatik.
"Wah mbak Di ini pintar merendah. Tapi aku baca tulisannya mbak Di bagus banget kok. Cocok sebagai calon bintang selanjutnya. Yang penting mbak Di semangat saja nulisnya, nanti juga bakal banyak yang sadar dengan tulisan mbak. Tinggal kita publikasi saja. Palingan dalam sebulan ini akan meledak."
"Aamiin. Semoga ya mbak. Aku juga berharap begitu. Tapi ya harus sadar diri juga, aku masih pemula."
"Sudah dibilang, mbak Di itu sudah bagus kok!"
Aku dan mbak Lila menuju ruangan tempat bertemu dengan orang yang menyebut dirinya fansku. Begitu pintu dibuka dan tampaklah wajah yang tak asing bagiku. Tidak bisa kupungkiri kalau aku benar-benar merasa sangat kecewa. Apakah ia sedang mempermainkan aku, atau ada maksud lainnya. Sebenarnya tidak ingin berprasangka buruk seperti yang selalu diajarkan oleh mbak Hana, tapi secara logika saja, bagaimana dua orang yang bersaing bisa mengaku ngefans sama saingannya. Aneh sekali, bukan?
__ADS_1
"Halo Di ... Diandra!" sapanya, sambil tersenyum yang bagiku terlihat sebagai senyum palsu. Ia mengulurkan tangannya, aku menyambut dengan setengah-setengah. Lalu kami duduk berhadap-hadapan, hanya dibatasi oleh sebuah meja yang sudah penuh dengan tumpukan novel yang harus aku tanda tangani.
"Mbak Di, ini namanya mbak Nasya, yang tadi kubceritakan. Mbak Nasya mau beli novel mbak Di sebanyak seratus eksampler. Jadi, bisa dutanda tangani kan mbak Di? Sambil mbak Di menandatangani, aku tinggal dulu ya." Mbak Lila pamit meninggalkan kami berdua.
Aku mulai membuka novel dan membubuhkan tanda tangan tanpa bicara sepatah katapun. Sementara dengan ujung mata aku bisa melihat gerak-gerik Nasya. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, kenapa dia harus melakukan semua ini? Apa benar dia di sini karena menyukai tulisanku? Atau jangan-jangan ... Ahhh, aku berusaha mengusir semua prasangka meski sebenarnya aku kesal dengannya yang selalu menempel pada Ben seperti parasit.
"Di, apa kabar?" Nasya memilih untuk buka suara terlebih dahulu. Mungkin ia bosan dalam diam, sementara tak ada pekerjaan yang bisa dilakukannya selain hanya melihat aku dengan tatapan tajam. Semakin aneh, kan? Sebab aku yakin ia juga tidak suka berlama-lama di dekatku, tapi kenapa ia melakukannya. Aneh!
"Baik." jawabku dengan singkat, tanpa ingin memperpanjang pembicara untuk sekedar berakrab-akrab ria dengannya.. untuk apa?
"Kamu dingin banget, Di. Mau jadi penulis yang sombong dan arogan, setelah jadi istri egois yang childies dan keras kepala? Nggak kebayang deh nanti bagaimana kalau calon pembaca kamu tahu bagaimana karakter kamu. Belum juga apa-apa sudah belagu."
"Aku nggak maksud apa-apa."
"Terus untuk apa kamu mesan novelku sebanyak itu? Jangan pura-pura ngaku sebagai fansku. Aku tahu betul siapa kamu, Nasya."
"Memang aku siapa? Kamu nggak tahu aku, Di. Justru aku yang tahu betul siapa kamu!"
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kamu mata-matain aku?"
"Nggak apa-apa, sabar dulu dong Di, jangan kebawa emosi. Aku ini fans kamu, kalau kamu marah-marah begitu, dengan mudah aku bisa memutar balikkan fakta. Bahkan bisa-bisa kamu didepak dari penerbit ini. Bahkan di blacklist dari seluruh penerbitan. Aku bisa melakukan itu, Di. Jadi jangan gampang kepancing emosi. Ngerti kamu!"
"Sudah kuduga, kamu itu bermaksud jelek. Cepat katakan, apa mau kamu? Aku nggak punya waktu untuk meladeni kamu, Sya!"
"Sederhana, aku nggak mau kamu maju. Aku akan menjatuhkan kamu. Apapun caranya. Aku mau kamu terus terpuruk!"
"Jahat! Kamu kira dengan menjatuhkan aku maka kamu bisa mendapatkan Ben? Jangan mimpi, Nasya. Ben itu nggak bodoh, ia bisa menilai mana yang baik untuknya atau nggak. Lagipula kami sudah punya anak dan sebentar lagi kami akan mendapatkan bayi lagi. Kami juga sudah sama-sama sepakat akan segera menikah lagi kalau aku sudah melahirkan bayi kami."
"Hahaha. Diandra ... Diandra. Kamu kira targetku secetek itu? Enggak. Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan Ben jauh sebelum ia menikah dengan kamu. Atau jangan-jangan kamu nggak tahu ya, sebelum menikah dengan kamu, Ben melamar aku sebab ia mencintaiku. Tapi aku tolak karena Ben bukan tipeku."
"Lalu untuk apa ini semua? Apa maksudmu Sya?"
"Cerdas dikit dong Di, yang aku target itu kamu. Aku mendekati Ben supaya kamu menderita. Tujuanku satu, supaya hidup kamu hancur sehancur hancurnya. Paham!"
"Aku? Tapi kenapa?"
__ADS_1
"Kamu mau tahu? Nggak sekarang Di, pelan-pelan kamu akan tahu kenapa aku melakukan ini semua. Tapi bukan dari mulutku sendiri. Kamu harus mikir dan pintar membaca kondisi sekelilingmu. Ingat Di, pintar-pintarlah karena permainan akan kita mulai dati sekarang. Hahahaha!" Nasya tertawa lepas, Seelah itu ia bangkit dari duduknya. "Buku-buku itu nanti akan aku ambil, jadi tolong tanda tangani dengan baik ya." ucapnya, sambil berlalu meninggalkan aku sendiri dengan banyak tanya di benakku.