ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
23. Ben Yang Berubah Dingin


__ADS_3

Usai mengantar Caca dan Cici, aku langsung ke cafe milik Anis untuk menjalankan pekerjaanku sebagai kasir. Sampai di depan pintu cafe, Anis sudah berdiri di sana. Sepertinya ia memang sengaja menunggu kedatanganku sebab Anis langsung mengajakku masuk ke ruangannya.


"Jadi gini Di, aku tahu, kamu pasti perlu penyesuaian setelah berpisah dengan Ben. Sebagai seorang teman, aku sangat prihatin dengan kondisi kamu, apalagi ibu kamu sempat mengambil anak-anak karena kamu dianggap tidak bisa menjaga mereka.


Aku ingin sekali membantu kamu. Saat ini, selain memberikan pekerjaan, aku hanya bisa membantu kamu menyediakan tempat tinggal. Memang bukan sebuah rumah. Tapi cukup layaklah untuk jadi tempat tinggal.


Kamu tahu rumah yang ada di sebelah cafe ini, kan? Itu adalah rumahku yang jadi message untuk karyawan di sini. Kalau kamu mau, aku akan mengosongkan mess itu agar kamu dan anak-anak bisa tinggal di sana. Bagaimana?" kata Anis, menawarkan bantuan untukku.


"Apa tidak merepotkan, Nis? Sebenarnya dengan kamu ngasih pekerjaan ke aku saja rasanya sudah bersyukur sekali. Aku sangat berterima kasih. Aku nggak mau menambah deretan hutang Budi ke kamu." kataku, mencoba menolak kebaikan Anis sebab aku juga tidak enak hati jika harus Menyusahkan orang lain.


"Enggak merepotkan kok Di, justru aku senang. Apalagi sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Bagiku, anak-anak kamu sudah seperti anak-anakku sendiri."


"Tapi Nis, bagaimana dengan karyawan lainnya? Mereka akan tinggal dimana?"


"Kalau itu gampang. Mereka bisa tinggal di kosan atau ngontrak di sekura sini. Bagaimana?"


"Duh, bagaimana ya?"


"Sudah, jangan terlalu berat memikirkan. Terima saja. Nggak baik lho, menolak pemberian orang lain "


"Bukan begitu, Nis. Aku hanya takut keberadaanku malah membuat karyawan lain nggak enak."


"Enggak kok. Mereka baik-baik saja. Mau ya? Kalau iya, sore ini juga kamu bisa pindahan ke sini. Lumayan lho untuk menghemat pengeluaran, kamu nggak perlu bayar kontrakan lagi. Ya?"


Aku tak bisa lagi menolak tawaran Anis sebab ia terus saja mendesak, ditambah penjelasannya yang mengaitkan dengan kenyamanan anak-anak.


Rumah di sebelah cafe ini memang cukup luas, hampir samalah dengan rumah yang dibeli Ben. Aku yakin anak-anak akan nyaman di sana. Tetapi tetap saja, ada perasaan tidak enak. Tapi kalau Anis sudah memaksa sedemikian rupa, aku tak bisa melakukan apapun selain menerima.


***


Jam sepuluh lewat tiga puluh menit, aku minta izin untuk menjemput anak-anak dari sekolah TK. Urusan kasir dihandle oleh karyawan lainnya.


Sampai di sekolah, Caca dan Cici langsung menghambur ke pelukanku. Mereka terlihat lebih ceria, mungkin karena baru ketemu dengan papanya.

__ADS_1


"Jadi ketemu papa?" tanyaku, sembari merapikan rambut Caca.


"Jadi, tadi papa bawain kita ini." Caca mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Ya ampun, bagaimana ini?" Caca langsung panik.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kuncinya papa ketlingsut dalam tasnya Caca." kata Caca.


"Mungkin pas masukin buku tadi." tambah Cici.


"Bagaimana dong, ma?" tanya Caca lagi.


Aku tahu betul beberapa kunci dengan gantungan handuk berwarna hijau tersebut. Itu adalah kunci-kunci untuk meja kerja dan juga lemari di ruangan Ben. Barang-barang itu sangat penting bagi Ben.


"Ma, telepon papa dong." kata Caca, membuyarkan lamunanku.


"Oh iya," aku langsung memencet nomor telepon Ben, cukup lama menunggu, tapi tak kunjung diangkat. Satu pesan juga kukirimkan untuk mengabari bahwa kuncinya ada padaku.


"Enggak." aku memperlihatkan pesan yang dikirim ke Ben, bahkan pesan tersebut tidak dibacanya. "Mungkin papa lagi sibuk."


"Bagaimana papa bisa kerja kalau kuncinya ketinggalan." Caca langsung murung. "kasihan banget papa. Jangan-jangan sekarang papa lagi kebingungan, nyariin kuncinya."


"Terus bagaimana dong, ma?" tanya Cici.


"Ya sudah, antarkan ke kantor papa." kataku, yang disambut dengan celotehan riang gembira anak-anak.


Kami ke kantor Ben naik angkot. Caca dan Cici yang bisanya heboh naik angkot karena sempit dan panas, kali ini lebih tenang. Tak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka. Wajah-wajah itu tampak tenang.


Ahhhh nak, kalian terpaksa harus lebih cepat dewasa ketimbang usia sebab masalah yang mama timbulkan.


Aku menunduk, tak berani lagi menatap wajah mereka.


Sampai di depan kantor Ben, aku dan anak-anak turun. Untuk menghemat waktu, aku meminta bantuan satpam memanggilkan Ben, sementara kamu menunggu di lobi. Sebab sejak tadi nomorku tidak digubris oleh Ben.

__ADS_1


Dari balik dinding kaca, aku melihat Ben berjalan menuju arah kami. Hatiku langsung deg-degan, membayangkan akan bicara apa dengannya nanti.


Tiba-tiba ada kecewa saat menyadari ada orang lain di samping Ben. Seorang gadis memakai kerudung merah muda. Perempuan itu terlihat anggun. Aku tahu, ia adalah Nasya, perempuan yang digosipkan suka pada Ben. Bukan tanpa sebab gosip itu beredar, tetapi karena Nasya selalu saja membuntuti kemanapun Ben pergi, termasuk melamar di perusahaan ini meski ia punya ayah yang seorang direktur.


"Apa sekarang mereka sudah dekat, mengingat aku dan Ben yang sudah bercerai." kataku dalam hati. Rasanya ingin segera pergi saja, aku tak mau melihat mereka bersama.


"Hai Caca, Cici ... anak-anak lucunya aunty, kalian sedang apa di sini?" tanya Nasya dengan senyum yang menawan.


"Mau ngembakiin kuncinya papa." jawab Caca.


"Jadi kunci papa ada sama kalian ?" kini Ben menghampiri anak-anak. Caca dengan sigap bergelayut manja pada ayahnya. Sementara Cici tetap tenang berdiri di sampingku. "Terimakasih sudah mengantarkan ya, nak." kata Ben, ia mengusap lembut kepala kedua anak kembar kami. "Sekarang papa masuk dulu ya, papa harus bekerja. Nanti kita ketemu lagi."


Ben melambaikan tangan, ia berlalu bersama Nasya. Sementara itu, aku seperti makhluk tak terlihat oleh mereka, tak ada seorang pun yang menyapaku. Benar-benar menyedihkan.


"Ma," Caca menyentuh tanganku.


"Kalian tunggu di sini dulu, mama mau bicara sama papa!" Kataku.


Aku sudah tak tahan lagi dicuekin oleh Ben. Sikapnya itu benar-benar menyiksaku. Meskipun ia menganggap aku bersalah karena sudah menggugatnya, tapi ia tak harus seperti itu.


"Ben!" panggilku, ketika jarak kamu hanya beberapa meter. Kedua orang itu berhenti. Nasya duluan yang berbalik, lalu kemudian Ben. "Maaf Sya, boleh aku bicara dengan Ben sebentar!" pintaku, dengan sangat tegas, memintanya pergi dari sisi Ben sebentar saja karena aku hanya ingin berbincang dengan Ben.


Nasya tak menjawab, ia malah melirik ke arah Ben seolah meminta persetujuan apakah ia harus pergi atau tidak. Perempuan itu benar-benar membuatku kesal.


"Tolong!" pintaku. "Ada yang harus aku bicarakan dengan Ben dan ini privasi."


Ben memberikan isyarat pada Nasya, lalu tanpa berkata, perempuan yang entah punya hubungan apa dengan Ben itu pergi meninggalkan kami berdua.


"Ini jam kerja!" kata Ben, terdengar tegas dan agak sinis. Tidak seperti Ben biasanya.


"Aku cuma mau nanya, kenapa kamu begitu dingin. Kenapa nyuekin aku seperti ini. Kamu kira aku nggak punya hati?" kataku lagi.


"Hati? Ahh sudahlah." Ben mengibaskan tangannya, lalu berlalu begitu saja sehingga membuatku tambah geram. Sejak kapan lelaki itu jadi begitu menyebalkan seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2