
Mbak Hana dan suaminya meninggalkan rumah kami setelah kukatakan ingin sendiri dulu. Sementara itu Caca dan Cici memilih kembali ke kamar. Mereka tak mengucapkan sepatah katapun, mungkin karena mereka tahu bahwa ibunya sedang tidak baik-baik saja. Lagi-lagi anak-anak harus belajar dewasa sebelum usianya.
Maafkan mama, nak. Aku hanya bisa mengucap permohonan maaf dalam hati. Tak sanggup rasanya menatap dua pasang mata itu lagi setelah begitu banyak kekacauan yang aku buat.
***
Pagi ini, sebelum azan Subuh berkumandang, aku telah bangun. Membersihkan rumah, lalu bersiap di depan sajagldah. Usai menunaikan salat Sunnah, lalu larut dengan bacaan Qur'an yang entah telah berapa lama tidak kujamah. Bahkan bacaanku pun jadi begitu belepotan, padahal dahulu sangat lancar membacanya.
Beginilah ilmu. Sepertu sebuah orang. Jika tidak pernah dipakai, apalagi diasah maka lama-kelamaan akan tumpul.
Lagi-lagi aku terdiam di depan mushaf. Entah bagaimana kugambarkan perasaan dalam diri ini. Betapa bobroknya aku selama ini, tapi bisa-bisanya aku mengkritik Ben. Padahal, sumber masalah itu adalah diriku sendiri.
Bisa saja kan rezeki kami pas-pasan karena ibadahku sebagai teman hidup Ben yang hampir bisa dikatakan sangat berantakan.
Sepasang kataku belum juga beranjak dari halaman pertama Al Qur'an. Aku masih berusaha mengeja dengan suara terbata-bata.
"Mama," tiba-tiba Cici mendekat. "Cici baru sekali ini melihat mama ngaji." katanya, ragu-ragu. Mungkin ia takut kalau aku marah.
"Maaf ya nak." kataku. Malu sekali rasanya, sebab sebagai seorang muslim tapi asing dengan Al-Qur'an. "Mama lagi belajar supaya bisa Istiqomah ngajinya." kataku.
"Nanti kita ngaji sama-sama ya ma. Cici kan juga sudah lancar Qur'an nya." kata Cici. Ben memang benar-benar memperhatikan pendidikan agama anak-anak. Selain memulihkan sekolah terbaik dengan bassic agama yang bagus, Ben juga sering turun tangan langsung mengajari anak-anak ketika ia sudah pulang kerja atau hari libur.
"Oh ya? Kalau begitu Cici ajari mama ya." pintaku.
"Siap!" Cici mengacungkan ibu jarinya.
Azan subuh telah berkumandang. Cici membangunkan Caca. Sementara aku mempersiapkan tempat salat untuk kami bertiga.
Setelah Caca siap, kami bertiga mulai salat bersama. Aku yang jadi imam, sementara anak-anak jadi makmumnya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa mulai sekarang aku akan memulai hidup baru dengan anak-anak. Aku akan mengikhlaskan Ben, berharap ia benar-benar menemukan kebahagiaannya. Aku tak ingin lagi menjadi masalah dalam hidupnya.
__ADS_1
***
Anak-anak sudah berangkat ke sekolah yang berada di depan rumah kami. Sementara itu aku mulai bersiap menata belanjaan keperluan warung. Berbagai macam jajanan yang direkomendasikan anak-anak langsung.
"Assalamualaikum mbak Di," sapa mbak Hana.
"Wa'alaikimussalam. Mbak Hana." aku memberi isyarat agar ia masuk ke dalam warung sebab aku masih sibuk menata belanjaan.
"Mbak Di, aku punya informasi menarik nih." kata mbak Hana sambil menyerahkan selembar kertas tulisan tangannya padaku. "Ini penerbitan punya saudaraku. Kalau mbak Di memang ingin jadi penulis, coba kirim naskahnya ke sini." katanya.
Aku menyambut lembaran kertas itu dengan tatapan berbinar-binar. Seperti menerima sesuatu yang begitu berharga.
"Sekarang mbak Di kerjakan naskahnya, kalau sudah selesai nanti saya bantuin kirimin ke saudara saya." Katanya.
Selesai menata bekanjaan. Aku mulai membuka laptop pemberian Ben. Tanganku agak bergetar mengingat kembali bagaimana support Ben untuk mewujudkan mimpiku.
Astagfirullah, Di. Sudahlah. Ikhlaskan. Mau sampai kapan kamu terus menangisi semuanya. Hidup harus terus berjalan. Demi anak-anak. Masa depan mereka saat ini jauh lebih penting ketimbang perasaan sendiri!
Tring. Hp milikku berbunyi.
[Di,] pesan dari Anis. [Apa kabar? Aku ingin ke rumah kamu sekarang, kamu ada kan?]
Aku tak membalas pesan tersebut. Masih ada perasaan kesal pada Anis setelah tahu dari Ben bahwa ia berbohong. Bisanya ia menyatakan bahwa aku memaksa Ben menikah dengannya.
"Mama!" suara Caca dan Cici, sehingga membuyarkan lamunanku.
"Anak-anak mama sudah pulang?" tanyaku.
"Sudah. Mama masak apa?" tanya Caca. "Perut Caca lapar sekali nih." ia memegang perutnya yang datar.
__ADS_1
"Cici juga!" ia melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.
"Astagfirullah, bagaimana mama bisa lupa. Mama belum masak." kataku, sambil menepuk pelan kening. Gara-gara sibuk nulis malah lupa masak untuk anak-anak.
"Yahh, terus bagaimana ini? Kita makan apa?" Tanya Caca.
"Hm, makan apa ya? Bagaimana kalau mi saja?" kataku, ragu-ragu.
"Mama, papa kan sudah bilang nggak boleh sering-sering makan mi. Nanti kalau sakit bagaimana?" Caca protes.
"Sekali saja. Nggak apa-apa ya." pintaku, dengan wajah memelas.
"Tapi di perut mama kan juga ada dedek bayi. Kalau makan mie nanti dedek bayinya ikutan makan mi. Kasihan ma. Jangan deh." tolak Caca.
"Duh, bagaimana ini." Aku menggaruk-garuk kepala. Rasanya, kalau harus mulai masak sekarang, maka akan makan waktu lama. Padahal kami sudah sama-sama kelaparan.
"Assalamualaikum. Kayaknya ada yang lapar nih. Tenang saja, Tante Hana bawa makanan nih." kata Hana, sambil menunjukkan bungkusan besar ke hadapan kami.
"Tante Hana!" panggil anak-anak sambil melonjak gembira. Mereka memang sudah sedekat itu dengan mbak Hana. Sudah tidak ragu lagi bermanja-manja, apalagi ditambah mbak Hana juga memperlakukan anak-anak layaknya anak kandungnya sendiri. "Tante bawain kita apa? Hmm, aromanya wangi banget. Jangan-jangan ayam goreng ya?" tebak Caca.
"Yuk kita makan dulu." Mbak Hana mengajak kami masuk ke dalam. Di sana ia mengeluarkan empat kotak nasi ayam, lengkap dengan minuman dinginnya.
"Ya Allah mbak Hana, kami jadi ngerepotin mbak lagi." kataku. Ada perasaan tidak enak sebab selalu merepotkan mbak Hana.
"Sama tetangga sendiri nggak boleh sungkan mbak Di. Bagaimana pun juga tetangga adalah keluarga terdekat kita." jawab mbak Hana sambil tersenyum.
"Kenapa mbak baik sekali sama kami? Padahal sebelumnya kita nggak saling kenal dan saya nggak tahu apa bisa membalas kebaikan mbak atau ngggak." kataku. Entahlah, sejujurnya aku masih meragukan kebaikan orang lain, aku masih takut kejadian dengan Anis terulang lagi. Meski dipikir-pikir tidak ada sesuatu pun yang bisa kuberikan pada mbak Hana.
"Berbuat baik itu nggak mengharapkan balasan dari orang yang kita bantu. Tapi cukup berharap dari Allah saja, mbak Di. Kalau berharap dari manusia biasanya malah kecewa." jawaban yang diberikan mbak Hana sukses membuatku malu sendiri sebab sudah berprasangka buruk padanya.
__ADS_1
"Mbak Hana, semoga suatu saat saya bisa membalas kebaikan mbak Hana." kataku. Mbak Hana hanya tersenyum, lalu lanjut makan sambil bercanda dengan anak-anak.