
Ahad pagi, seperti biasa, tiap akhir pekan aku selalu belanja kebutuhan warung. Biasanya aku pergi sendiri karena kondisi sedang hamil dan kesulitan membawa anak-anak, sementara Caca dan Cici kutitipkan pada mbak Hana.
Sampia di rumah, ada seorang lelaki memakai jaket kulit tengah menghadap ke arah rumah, sehingga sulit bagiku untuk mengenali. Itu pasti bukan Ben sebab ia sudah mengatakan akan datang sekitar satu jam lagi.
"Maaf, cari siapa ya?" tanyaku, sambil mendekat, khawatir kalau itu adalah orang yang ingin berbelanja. Tapi saat ia berbalik, aku langsung terkejut. "Haris?" tanyaku.
"Di," ia tersenyum.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Mau ketemu kamu, lah. Dari kemarin wa dariku tidak kamu balas."
"Oh, maaf Ris, aku sedang sibuk jualan, ngurus anak dan nulis."
"Wow, sekarang sudah jadi penulis ya Di." Ia kembali mencandai, seperti waktu kami kuliah dulu.
"Hanya mencoba menyalurkan hobi saja, Ris. Siapa tahu ada rezekinya." jawvaku. "Tapi aku tinggal sebentar ya, mau jemput anak-anak di sebelah." kataku, buru-buru. Sebab ingat janji sebelum berangkat belanja akan menjemput Caca dan Cici lebih cepat sebab mbak Hana ada acara family gathering dari kantor suaminya.
Sebenarnya mbak Hana sudah menawarkan agar diizinkan membawa anak-anak, sekalian mengajak mereka jalan-jalan, tapi terpaksa kutolak karena hari ini Ben sudah mengatakan akan datang untuk menemui anak-anak.
Setelah menjemput anak-anak, aku segera kembali ke rumah. Sebenarnya agak risih karena Haris datang ke rumah, apalagi ia tidak mengabari sebelumnya, tapi mau bagaimana lagi kalau ia sudah datang dadakan seperti ini, kalau harus diusir juga rasanya tidak sopan. Setidaknya ada Caca dan Cici yang menemani, meskipun mereka terlihat ogah-ogahan sebab tahu yang datang ternyata bukan ayahnya.
"Ini pasti sikembar Caca dan Cici ya?" tebak Haris. Yang dijawab seadanya oleh anak-anak. "Ini, om bawakan hadiah untuk Caca dan Cici. Ada makanan, susu dan mainan." Haris menyodorkan dua kantong plastik besar pada anak-anak.
"Kamu ada perlu apa, Ris? Kenapa nggak ngabarin dulu kalau mau datang? Aku nggak enak kalau harus Nerima tamu laki-laki asing, kamu tahu kan bagaimana statusku sekarang." Kataku, suapay Haris tahu bahwa aku enggak terlalu nyaman dengan kedatangannya.
"Maaf Di kalau kedatanganku membuat kamu terganggu. Aku hanya ingin silaturahim saja. Ingin tahu apa kamu baik-baik saja sebab pesanku tidak kamu balas. Aku tahu kamu hanya tinggal dengan anak-anak, makanya aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu, Di."
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, Ris. Tapi Alhamdulillah aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Di, sebenarnya ada yang ingin kukatakan."
"Apa Ris?"
"Aku nggak tahu apakah ini momen yang tepat atau nggak, tapi hatiku mengatakan harus bicara secepatnya sebab aku nggak mau kecewa untuk kedua kalinya."
"Memang mau ngomong apa, Ris? Kok sepertinya penting sekali."
"Ya, penting sekali untuk masa depanku, Di."
"Apa itu Ris?"
"Di, kuharap kamu mengerti. Sebenarnya aku ingin mengatakannya tujuh tahun lalu, sebelum kita berpisah. Tapi aku kehilangan kesempatan itu sebab keterlambatanku sehingga aku menyesalinya selama beberapa tahun ini."
"Apa sih Ris?"
"Di, aku mencintai kamu!"
"Astagfirullah, Ca." aku yanh semula kaget dengan pernyataan Haris, semakin kaget lagi dengan teriakan Caca tadi. Tapi aku bisa memahami kondisi Caca yang tidak terima dengan kata-kata Haris tadi.
Meski usia Caca masih muda, tapi sesuatu yang tidak menyenangkan baginya jika ada laki-laki asing yang menyatakan cinta pada ibunya, apalagi dilakukan di hadapannya.
"Kenapa kamu harus bilang gitu sih Ris?" kataku, sambil mengawasi Caca yang menampakkan ekspresi marah.
"Maaf Di, aku bicara jujur sebab tak punya pilihan lain. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Aku ingin mengatakannya sejak kita masih kuliah, tapi belum menemukan waktu yang tepat. Tiba-tiba kamu sudah mau menikah saja dengan Ben.
Kamu nggak ngerti Di, bagaimana rasanya selama hampir tujuh tahun memendam rasa sakit akibat patah hati. Aku benar-benar mencintai kamu, Di. Sungguh!" ungkap Haris lagi.
"Nggak ... nggak boleh. Om nggak boleh cinta sama mama. Pokoknya nggak boleh." di luar kendali, tiba-tiba saja Caca maju ke arah Haris, ia tantrum, memukuli Haris dengan kedua tangan kecilnya sehingga membuatku ikutan panik.
__ADS_1
"Ca, sudah, jangan pukuli omnya. Ca!" kataku, sambil berusaha menenangkan Caca. "Caca dengar mama, om itu cuma bercanda, nggak beneran cinta sama mama. Yang cinta sama mama cuma papa." kataku, sambil berusaha menarik tangan Caca dari Haris.
"Nggak Di, aku nggak bercanda. Aku serius benar-benar suka sama kamu. Aku cinta sama kamu, Di. Sungguh. Mungkin perpisahan kamu adalah jawaban atas doa-doaku." kata Haris lagi sehibgga makin memancing kemarahan Caca.
"Jahat. Nggak boleh cinta sama mama. Nggak boleh. Pokoknya yang cinta sama mama cuma papa. Om jahat. Caca nggak suka sama om!" Caca kembali berteriak sambil memukuli tubuh Haris sehingga membuatku kembali kewalahan mengendalikan Caca.
"Sudah Ris, kamu jangan bicara lagi atau aku akan benar-benar marah sama kamu. Di sini ada anak kecil. Mikir kalau mau ngomong. Kamu bisa membuatnya trauma. Mau kamu?" aku ikutan terpancing emosi sebab Haris terus saja ingin menjelaskan tentang perasaannya.
Aku tak peduli dengan apa yang ia ungkapkan. Sekarang yang terpenting bagiku adalah mental anak-anak. Jangan sampai semua ini jadi ingatan yang menyakitkan untuk Caca dan Cici.
"Ris, sekarang mending kamu pulang dulu." kataku, sambil memegangi Caca yang masih meraung, menangis karena marah pada Haris.
"Tapi Di ...." kata Haris lagi.
"Nggak ada tapi-tapian. Udah pergi sana sebelum kesabaranmu habis dan aku ikutan kesal karena sikap kamu yang sudah di luar batas. Secara tidak langsung kamu sudah melukai anak-anakku. Dan itu sama saja kamu melukai aku."
"Tapi Di,"
"Sudha Ris, nggak ada tapi-tapian. Kamu pergi sekarang atau aku panggil pak RT."
"Lalu bagaimana dengan perasaanku, Di?"
"Aku nggak peduli. Bagiku yang terpenting adalah anak-anak. Paham kamu!"
Dengan langkah gontai Haris meninggalkan rumah kami. Sementara Caca masih menangis sesenggukan.
"Mama nggak boleh suka sama om jahat itu ya," Pintanya, di antara sedu sedannya. Sehingga membuatku ikut menangis.
"Iya, mama nggak suka kok sama om itu." jawabku, sambil membelai pelan rambutnya. Sesekali kupeluk erat Caca, agar ia tahu bahwa aku sangat menyayanginya. Kebahagiaannya lebih penting dari apapun di muka bumi ini. Aku pernah melakukan kesalahan dengan menghancurkan rumah tanggaku sendiri, tapi kali ini aku tak ingin lagi membuat kesalahan.
__ADS_1
Sementara masih duduk di tempat duduknya, Cici menangis tanpa mengeluarkan suara. Tangisan yang menurutku lebih menyayat hati sebab ia benar-benar memasukkan semuanya dalam hati.
Cici memang tak seceriwis Caca, tapi kalau ia sudah menangis seperti ini biasanya ia sedang memendam kesedihan yang mendalam.