
"Ben, doakan aku!" kataku, sambil melambaikan tangan dari atas tempat tidur yang terus didorong oleh dua orang perawat menuju kamar bersalin. Sementara Ben menunggu di luar, sebab kami belum terikat hubungan pernikahan.
Memasuki kamar, entah kenapa aku diliputi rasa haru, padahal sebelumnya semangat sekali karena sebentar lagi akan bertemu baby ketiga. Mungkin karena lahiran kali ini tak bisa didampingi secara langsung oleh Ben. Juga status kami. Dan kejadian selama hampir sembilan bulan ini, yang kuyakini pasti ada bayak hikmahnya. Setidaknya aku belajar bagaimana menghargai komitmen pernikahan dan menempatkan suami sebagai seorang iman, bukan hanya sebatas menuntut ini dan itu tapi lupa tugasku sebagai istri dan ibu.
Tes. Buliran itu terus mengalir. Syahdu sekali rasanya. Aku terpaksa menghapusnya, sebab malu karena kini bidan dan perawat yang akan menolong persalinan melihat ke arahku. Mungkin mereka bingung, kenapa Ben tak mendampingi, padahal ia terlihat baik-baik saja. Kami juga sangat rukun.
"Ibu nggak apa-apa?" tanya bidan senior, sambil tersenyum, sehingga aku jadi nyaman.
"Nggak apa-apa, Bu." kataku.
"Suaminya nggak nemanin?" Ia melirik ke arah pintu luar.
"Nggak Bu, biar di luar saja. Kami belum rujuk."
"Oh, maaf ya Bu, saya ngga bermaksud nyinggung. Ibu dan mantan suami terlihat dekat sekali soalnya.
Tapi enggak usah khawatir, nanti saya dan tim yang akan menemani ibu. Kami akan Atut semuanya sampai bayinya lahir. Ngomong-ngomong ini anak ke berapa?"
"Ketiga. Yang lertana dan kedua kembar."
"MasyaAllah." kata Bu bidan. "Pasti senang sekali punya anak kembar. Sekarang malah ditambah lagi. Sudah lengkap dan sempurna."
Perbincangan antara kami terus berlanjut, hanya sesekali berhenti saat aku mulai merasakan sakit akibat dorongan bayinya yang ingin keluar. Puncaknya, ketika ia benar-benar keluar dan tak lama tangisnya pecah. Bu bidan memang luar biasa sebab membuatku benar-benar nyaman
"Alhamdulillah!" kataku, sambil membuang nafas. Rasanya lega sekali ketika bayi ketiga berjenis kelamin laki-laki itu telah lahir. Bu bidan dengan cekatan membersihkannya. Bidan lainnya membantu membersihkan aku.
"Ini bayinya Bu." kembali Bu bidan membantuku IMD.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, barulah Ben dipersilahkan masuk, dengan sigap ia mengazani bayi tersebut. Setelah itu terdengar ocehan Ben, suaranya bergetar, mungkin haru sebab akhirnya bayi yang telah banyak berkorban untuk ayah dan ibunya itu lahir juga.
"Maafkan papa ya, nak. Kami berutang banyak padamu. Semoga papa punya waktu untuk menebus semua kekurangan sebab tak bisa membersamaimu saat dalam perut mama Di." kata Ben, kini air matanya sudah mengajak sungai. Akupun begitu.
Ya Tuhan, maafkan aku. Sungguh terlalu selama hampir sembilan bulan ini. Zhalim pada orang-orang yang sebenarnya paling menyayangiku dengan tulis.
***
Menjelang sore, aku dan bayi ketiga yang kami beri nama Syahrizky pulang. Sebenarnya mbak Hana sudah mengabari akan datang bersama Caca, Cici dan ibu. Tapi aku menolak sebab sudah mau pulang. Rasanya sudah tak sabar memperlihatkan bayi dengan berat tiga koma sembilan kilogram ini pada kakak-kakaknya. Mereka sendiri juga sudah menunjukkan ketidak sabarannya sebab dari tadi terus menelepon dari nomor ibu ke tempatku dan Ben bergantian.
"Caca dan Cici pasti senang karena akan bertemu Rizky." kataku.
"Iya." Ben mengangguk sambil terus menimang Rizky. sebuah momen yang membuatku haru, bagaimana tidak, seorang ayah yang sangat merindukan anaknya.
Bidan juga tidak melarang jika aku pulang sekarang karena kondisiku dan bayi Rizky sehat. Apalagi aku tak harus dijahit, sehingga tidak ada masalah kalau harus pulang cepat.
"Di, sepertinya aku harus pulang dulu. Supaya bisa menyiapkan akikah Rizky. Aku harus mencari tukang kambingnya juga." kata Ben. Dengan berat hati ia berpamitan pada ketiga anak-anak.
Kami memang sudah berbagi tugas bahwa Ben yang akan mengurus semua hal yang berhubungan dengan urusan luar karena bayiku masih kecil jadi belum memungkinkan untuk aku mondar-mandir. Termasuk persiapan pernikahan kami yang meskipun akan dilaksanakan secara sederhana, tapi tetap butuh persiapan. Ben yang bertugas mengurus surat izin dan pendaftaran surat-surat.
Setelah Ben pergi, ibu mulai sibuk ke dapur untuk mempersiapkan makananku. Sebagai ibu menyusui, memang harus banyak makan agar ASI-nya tidak kurang. Sementara Caca dan Cici kembali sibuk bermain. Hanya tertinggal aku dan mbak Hana yang sibuk memperhatikan Rizky yang masih lelap.
"Rizky menggemaskan sekali. Ia mirip ibunya." Komentar mbak Hana. "Kamu beruntung sekali, Di." cetus mbak Hana.
"Hah? Kenapa mbak?" kataku, mengarahkan pandangan yang semula tertuju pada Rizky, kini beralih ke mbak Hana.
"Punya anak-anak seperti Caca dan Cici, lalu sekarang ada baby Rizky. Di, ayo ceritakan padaku bagaimana rasanya punya anak? Pasti senang kan?" mbak Hana begitu antusias.
__ADS_1
"Mbak," aku tak tega melihat sepasang mata Mbah Hana yang berkaca-kaca. Wajar ia mellow sebab sudah hampir sebelas tahun menikah namun belum juga dikaruniai momongan, padahal kata mbak Hana dulu ia sengaja menikah di usia muda, yaitu sembikan bekas tahun, agar segera punya keturunan, tapi ternyata Allah punya rencana lain, ia tak kunjung mendapatkan amanah itu.
Aku dan mbak Hana berpelukan. Ia menagis, pasti sedih sekali. "Maaf ya Di, jika aku iri." kata mbak Hana, setelah kami melepaskan pelukan.
"Ibuku hingga akhir hayatnya selalu berandai-andai akan segera memiliki cucu dariku, putri tunggal mereka. Tapi hingga ibu meninggal, harapan ibu yak kunjung bisa kupenuhi.
"Sabar mbak, Allah tahu kapan waktu yang terbaik bagi mbak untuk mendapatkan keturunan."
Mbak Hana hanya mengangguk. ia kembali mengeluhkan kerinduannya. Apalagi jika sudah bertemu orang-orang rese yang mempertanyakan kapan ia punya keturunan.
"Mbak, kalau mbak mau, silakan anggap Rizky seperti anak kandung mbak sendiri. aku rela." Kataku.
"Ya Allah Di, aku sudah sangat senang bisa bertemu kamu dan anak-anak. Aku tak bermaksud seperti itu, mungkin aku terlalu Melo saja.".
"Apa terjadi sesuatu, mbak?"
mbak Hana menggelengkan kepalanya, tapi aku yakin ada sesuatu yang membuat ia begitu sedih.
"Mbah, apa mas Hendri baik-baik saja?" Pertandingan itu terlontar begitu saja.
"Entah lah Di, ia ingin segera punya anak. Aku bingung."
"Ya Allah."
Lagi-lagi kami berpelukan.
"Nggak, nggak akan terjadi apa-apa. Kamu pasti bisa segera punya anak!" tiba-tiba ibu datang.
__ADS_1