ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
37. Anis Datang


__ADS_3

Baru saja aku keluar dari kamar anak-anak setelah mereka tertidur, dari luar terdengar suara pintu di ketuk. Semula ku kira ada pembeli yang datang sebab warung memang tidak kututup karena rencananya setelah Caca dan Cici tidur, aku masih berjualan sambil lanjut menulis.


"Anis?" kataku, saat melihat sosok orang yang mengantarkan aku ke sini.


"Di, apa kabar?" tanyanya. Sigap ia menjabat tangan dan memelukku.


"Alhamdulillah,"


"Maaf kalau kedatanganku mengganggu. Aku sudah menghubungi kamu tadi pagi tapi kamu nggak membalas. Padahal pesannya kamu baca. Apa kamu marah padaku, Di?" tanya Anis sembari masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kamu bilang pada Ben bahwa aku memintanya menikahi kamu?"


"Itu ... Aku kira aku nggak perlu menjelaskan lagi pada kamu, Di. Setelah pengakuan yang kubuat sebelum kamu pindah ke sini. Aku kira juga, kamu nggak akan keberatan membantu menyatukan aku dengan Ben."


"Maksudnya apa?"


"Diandra, aku sudah mengaku menyukai Ben. Lalu apa salahnya kamu menolongku? Apalagi setelah banyak bantuan yang aku berikan pada kamu dan anak-anak. Apakah itu kurang sebagai bentuk bahwa aku benar-benar ingin menjadi bagian dari hidup Ben."


"Tapi nggak pakai acara ngarang juga!"


"Aku nggak tahu lagi harus bagaimana caranya mendekati, Ben. Sementara Nasya selalu saja ngikutin Ben."


"Ben nggak akan pernah suka orang yang terlalu banyak kepura-puraan dalam hidupnya!"


Mungkin karena aku terlalu keras bicara, akhirnya membuat Anis menangis. Aku benar-benar merasa tidak enak, tetapi juga sulit menyanggupi permintaannya untuk menjodohkan Anis dengan Ben.


Bagaimana aku bisa merelakan Ben sementara di hatiku sendiri masih ada cinta untuknya. Ditambah kami punya anak-anak yang masih membutuhkan kehadiran ayahnya.


"Nis, maafkan aku, tapi aku nggak bisa membantu kamu." kataku, dengan suara pelan.

__ADS_1


"Ya ampun Di, kenapa kamu begitu tega padaku? Bertahun-tahun aku menanti Ben. Hatiku tertutup untuk yang lain. Hingga akhirnya kamu mengabari sudah bercerai dengannya. Aku berpikir bahwa inilah jawaban atas doa-doaku bahwa Ben adalah jodohku.


Tolonglah Di, hanya kamu yang bisa membantuku. Aku sudah mengabaikan harga diriku sendiri dengan berbohong agar mendapat simpati dari Ben, tapi ternyata usahaku tidak berhasil juga. Lalu aku harus bagaimana lagi, Di?


Atau kamu lebih suka jika Ben berjodoh dengan Nasya? Kamu tahu dia kan, Di? Gadis itu terlalu tinggi gaya hidupnya. Ben tak akan cocok dengannya. Ben akan semakin menderita. Memenuhi kebutuhan kamu saja dia nggak sanggup, apalagi Nasya yang standarnya di atas kamu."


Aku masih berusaha berpikir, bagaimana caranya menyampaikan pada Anis bahwa sebenarnya aku masih menyukai Ben dan berharap bisa rujuk dengannya, tapi ada perasaan tidak tega juga sebab melihat Anis yang begitu berharap bisa bersama dengan Ben.


"Di," panggilnya lagi.


"Aku nggak tahu, Nis." kataku, sembari melempar pandangan ke dalam sebab merasa tak nyaman dengan semua ini.


Tangis Anis yang semula mereda kembali pecah. Sehingga membuatku ikut terbawa suasana.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana.


"Tolonglah, Di." pintanya lagi. "Apa kamu lupa, ada pahala untuk orang yang membantu perjodohan hingga mereka menikah. Kalau kamu mau membantuku dan Ben hingga jadi menikah, maka kamu bisa mendapatkan rumah di surga. Kamu juga tak perlu khawatir atas anak-anak kamu Di, aku akan jadi ibu tiri yang baik untuk mereka, aku akan menyayangi Caca dan Cici layaknya anak kandung sendiri. Kamu nggak akan rugi sama sekali, Di." ungkap Anis.


"Tapi apa Di?" tampak sekali Anis tak sabar menanti agar aku mengemukakan alasan.


"Nis, maaf, tapi aku harus jujur. Aku masih mencintai Ben."


"Apa?".


"Iya Nis, aku masih mencintai Ben dan berharap bisa rujuk dengannya."


"Kamu nggak lagi bercanda kan Di?"


"Nggak Nis, aku benar-benar masih mencintai Ben."

__ADS_1


"Nggak, itu nggak mungkin. Di, kamu masih ingat kan apa yang aku nasihatkan padamu dulu. Seberat apapun kehidupan kamu setelah berpisah, jangan pernah berpikir untuk kembali jika kamu tidak bahagia dengannya!"


"Aku justru merasa tidak bahagia dengan perceraian ini."


"Nggak Di, itu nggak benar!" tiba-tiba saja ia berteriak agak histeris. "Di, maksut aku, bukankah kamu dan Ben sudah berpisah dan kamu sendiri kan yang menggugatnya? Lalu sekarang kenapa kamu malah berpikir sebaliknya? Aku nggak yakin kalau itu cinta. Bisa saja karena kamu sedang tertekan atau merasa kesulitan, apalagi sekarang kamu sedang hamil. Iya kan Di?" Anis makin tidak terkendali.


Ini pertama kalinya aku melihat Anis bersikap beda. Ternyata ia punya sisi tempramental juga sehingga membuat aku agak kewalahan menghadapinya yang terus saja menyerang ku dengan kata-kata.


"Aku sudah sangat sabar dan banyak ngebantuin kamu. Lalu saat aku benar-benar berharap kamu mau bantuin aku, tapi malah ini yang aku dapatkan, kamu mau mempermainkan aku? Kamu kira aku akan diam saja dengan sikap kamu itu?


Sadar Diandra, kalau aku nggak memberi kamu pekerjaan, dengan apa kamu melanjutkan kehidupan? Aku juga yang nampung kamu dan anak-anak kamu. Lalu tempat ini, aku yang Carikan, aku juga yang bayarkan sewanya selama dua tahun. Dua tahun Diandra, itu uangnya nggak sedikit!


Lalu apa yang kamu berikan padaku? Saat aku berharap kamu balas kebaikanku dengan membantuku, tapi kamu malah mainin aku. Jahat sekali kamu Diandra!" tuduh Anis dengan suara keras.


Ya Allah ... malu sekali rasanya mendengar semua yang dituturkan Anis. Memang benar ialah yang membantuku saat aku kesusahan, aku berhutang Budi padanya.


"Aku minta maaf Nis," Kataku.


"Maaf? Kamu kira ia sewa rumah ini gratis? Gaji kamu selama kerja di cafeku nggak bernilai? Tempat tinggal gratis di mes? Juga perasaan aku yang kamu mainkan, Di. Lagipula kenapa kamu labil banget sih Di, kan kamu yang gugat Ben, kenapa sekarang malah nyesal?"


"Itulah bodohnya aku, Nis."


"Ya, kamu memang benar-benar bodoh, Di. Kamu itu nggak pantas untuk Ben!"


"Lalu siapa yang pantas?"


"Aku! Ben butuh perempuan tangguh dan pekerja keras di sisinya. Perempuan mapan seperti aku. Sementara kamu hanya perempuan lemah yang cengeng dan manja. Nggak bisa apa-apa selain nuntut suaminya."


"Astagfirullah Nis, aku menghargai kebaikan yang kamu berikan, tapi apa perlu kamu menyombongkan diri dan merendahkan aku seperti itu?"

__ADS_1


"Memang seperti itu kenyataannya. Aku mengatakan semuanya supaya kamu sadar, Di. Kamu nggak pantas sama Ben, jadi jangan berharap kembali padanya!"


Keributan antara kami sudah tidak bisa dielakkan. Suara Anis yang keras berhasil membangunkan Caca dan Cici. Mereka dibuat ketakutan hingga menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2