ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
85. Diremehkan


__ADS_3

Tin tin tin. Sebuah mobil Eropa berwarna hitam berhenti tepat di hadapan kami sehingga membuat kami berhenti berdebat,secara spontan Ben menarik pelan tanganku agar minggir dari jalan. Awalnya kami mengira mobil itu mau masuk ke parkiran, tapi ternyata terap berdiri di hadapan kami, padahal tempat parkir masih kosong banyak.


Jangan-jangan itu mobil ....


Seorang ajudan membukakan pintu belakang. Pak Tomo keluar sambil tersenyum ke arah kami. Ia datang mendekat. Ahhh, dugaanku tepat!


Ya Tuhan ... untuk apa ia ke sini? Aku hanya bisa berdiri mendekat ke arah Ben, seperti mencari perlindungan. Dalam kondisi seperti ini aku benar-benar tak ingin bertemu dengan salah satu orang yang pasti akan membuatku kesal


"Halo Di, apa yang kamu lakukan di sini? Oh, biar papa tebak. Kamu sedang berjualan? Ckckck, ternyata kamu tidak mudah menyerah juga. Papa suka dengan sikap kamu yang tahan banting tersebut. Tapi papa katakan, Di, kamu itu anak seorang direktur rumah sakit dan pemilik saham yang cukup besar di beberapa perusahaan besar, tidak pantas melakukan semua ini. Lihatlah, apa ini? Jualan buku? Ckckck, tidak elit sekali ini, nak!


Ayolah Di, terima saja tawaran papa agar kamu tak perlu hidup susah. Apa kamu nggak kasihan sama anak kamu? Masih bayi sudah diajak jualan kaki lima seperti ini. Kamu juga masih punya dua anak kembar lagi, kan? Kerja seperti ini ngga bakalan bisa membuat hidup kalian lebih baik. Percayalah, Di!


Kamu juga anak muda, masa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk istrimu? Pantas saja kamu digugat cerai waktu itu. Harusnya kamu berusaha lebih kuat lagi.


Oh ya, saya dengar kamu itu salah satu pegawai terbaik, tapi baik saja bukan jaminan akan dipertahankan, apalagi kalau tidak ada koneksi.


Itulah sebabnya saya ada di sini, untuk memberikan koneksi pada kalian berdua. Sudah waktunya kalian merubah nasib. Hanya sebulan saja Di, tinggallah bersama papa maka akan papa berikan semua yang kamu dan keluarga kamu inginkan. Bagaimana?" tanya pak Tomo dengan pongahnya.


"Tidak terimakasih, pak. Meskipun saya bukan orang kaya dan suami saya hanya laki-laki biasa, tapi saya bangga padanya sebab mencari nafkah dengan cara jujur. Kami akan tetap bersabar meski anda terus menzalimi kami!" kataku dengan penuh percaya diri.


"Jangan keras kepala Diandra! Kamu kira suami kamu bisa mendapatkan pekerjaan? Tidak akan pernah. Saya sudah memblokirnya dari seluruh perusahaan besar. Kamu juga harus tahu, setiap langkah kalian sudah saya awasi. Kamu tak punya pilihan lain selain menyerah atau hidup kalian akan benar-benar hancur.

__ADS_1


Lagipula jangan terlalu keras kepala. Jangan tiru sikap ibumu itu. Toh pada akhirnya ia juga yang menderita. Menanggung malu dan beban hidup seumur hidupnya." ucap pak Tomo.


"Beban? Jadi anda menganggap saya adalah beban hidup? Kalau memang benar, untuk apa anda terus mengikuti saya? Sikap anda ini semakin membuat saya curiga kalau ada sesuatu yang anda sembunyikan!" aku menatap tajam pak Tomo, lelaki itu memperlihatkan sikap gelisah. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari saya? Jangan bilang karena saya putri anda. Sungguh saya tak akan pernah percaya itu!"


"Hahaha, nak, jangan tersinggung dulu. Yang namanya anak haram, pasti adalah beban. Untuk itulah aku datang, menawarkan sesuatu hal yang baik untukmu. Apa kamu tak ingin mengubah aktemu yang tidak jelas itu? Kau juga ingin diakui oleh semua orang kan?" Pak Tomo membalasku.


"Hahahaha," aku balik menertawainya. "Saya memang lahir di luar nikah, tapi saya bukan anak haram, pak. Yang haram itu adalah perbuatan anda pada ibu saya. Bahkan ibu saya adalah wanita suci yang mulia. Sedang anda adalah lelaki tua yang hina. Apakah anda tidak ingin bertaubat?"


"Kau!" Pak Tomo tampak begitu kesal.


"Kenapa? Anda kesal? Sama, saya juga selalu kesal pada anda. Jadi pergilah dan jangan pernah mengikuti saya dan keluarga saya lagi. Semua hanya akan sia-sia saja. Paham!"


"Kau, lancang sekali. Apa kau tak diajarkan attitude?"


"Kau akan menyesal nantinya!" ia berlalu dari kami, masuk ke dalam mobilnya, lalu melaju kencang, hilang dari pandangan kami.


"Kenapa harus bicara seperti itu?" kata Ben.


"Lalu aku harus bagaimana? Diam saja saat dia menghina? Aku manusia biasa, Ben. Aku juga punya hati dan perasaan. Dia enak sekali mengatakan aku anak haram. Dikiranya aku mau jadi anak yang terlahir di luar nikah? Nggak sama sekali. Aku juga ingin punya orang tua lengkap yang menyayangiku. Kamu kira aku nggak pernah iri bahkan berharap punya ayah seperti ayahnya teman-temanku? Aku juga punya perasaan seperti itu, Ben. Tapi apa yang kuharapkan tak terwujud.


Bukan berarti aku tak terima dengan takdir, Ben. Aku berusaha terima. Bahkan tak marah-marah saat ibu menceritakan semuanya. Aku berusaha legowo meskipun hatiku sebenarnya terluka.

__ADS_1


Tapi bukan berarti dia boleh terus menerus menghinaku hanya karena aku tak menuruti apa yang diinginkannya. Aku sangat yakin ia tak benar-benar tulus. Pasti ada maksud terselubung. Kau tahu tidak, kalau ia benar-benar ingin memperbaiki semuanya, tak akan pernah dari mulutnya keluar kata-kata seperti tadi." kataku, dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya manusia biasa, jangan paksa aku bisa sebaik malaikat."


"Di," Ben mengusap lenganku. "Aku paham. Maafkan aku, lain kali kamu boleh mengatainya lagi. Aku tak akan melarang."


"Benar?"


"Hm, tadi juga kau sudah keren!"


"Kalau begitu sekarang kita pulang!"


"Baiklah!"


Ben membantuku naik ke atas motor. Kaca-kaca di mata ini mulai pecah, air mata itupun tumpah. Aku memeluk Ben dari belakang, berharap bisa menenangkan hati. Tapi tak bisa lama kulakukan karena Rizky segera meronta. Pasti ia tak nyaman terjepit oleh ayah dan ibunya.


Motor Ben memasuki area parkir sebuah mall yang letaknya tak terlalu jauh dari kampus tempat kami mangkal tadi.


"Untuk apa kita ke sini?" Tanyaku.


Ben tak menjawab, ia hanya tersenyum, lalu membimbing langkahku menuju salah satu outlet tempat kami biasanya membeli es krim. Dengan sigap Ben membeli satu es krim coklat, lalu memberikan padaku.


"Apa ini?" tanyaku.

__ADS_1


"Makanlah, aku tahu perasaan kamu sedang tidak baik-baik saja. Semoga dengan makan es krim ini kamu bisa lebih baik." ucap Ben, sambil mengusap pelan kepalaku.


"Ben! Kamu tahu ... aku sempat kecewa tak punya sosok ayah di hidupku, tapi sekarang kekecewaan itu terbayar sebab Allah memberikan aku suami terbaik. Terimakasih Ben!" aku menggenggam erat tangannya. Rasanya, seberat apapun ujian, kalau ada kamu, aku akan kuat!


__ADS_2