
Aku mengerjapkan mata, terasa sekali kepala begitu berat. Efek terlalu lama menangis. Sejak Ben pulang, aku langsung mengurung diri di kamar, tak ingin bertemu ibu dulu sebab rasanya masih kecewa dengan kondisiku sendiri. Bahwa aku adalah anak haram.
Sementara itu, dari luar terdengar suara celotehan Caca dan Cici. Sepertinya mereka berdua sedang asyik bermain.
"Sekarang harus bagaimana?" perlahan aku duduk di pinggir tempat tidur, berpikir, kira-kira apa yang harus kulakukan.
Keluar dari kamar nanti, mau tidak mau pasti akan ketemu ibu sebab kami tinggal satu rumah. Tidak mungkin juga aku terus mengurung diri di kamar atau menghindari ibu.
Ughhh, kenapa rasanya benar-benar menyiksa. Sebenarnya sosok ayah adalah asing untukku, sebab ibu tak pernah mau buka mulut tentang keberadaan bahkan sekedar identitas ayahku. Itulah sebabnya aku menyimpulkan bahwa ayahku sudah meninggal dunia, saking tak pernah ya ibu menyebut siapa dirinya.
Tetapi, dua kali di hidupku pernah berharap bertemu kembali atau sekedar tahu siapa ayah sebenarnya. Yaitu saat usiaku sepuluh tahun dan ketika menginjak usia remaja. Kala itu aku benar-benar merasa haus kasih sayang seorang ayah. Sosoknya benar-benar membuatku penasaran, tapi jawaban ibu yang dingin dan cenderung menutup-nutupi, sehingga akhirnya akupun melupakan keinginanku tersebut.
Padahal sempat muncul rasa iri kala melihat teman-teman sepantaran bersama dengan ayah mereka. Tapi, kukuatkan diri sendiri, janganlah ayah yang asing untukku, ibu saja jarang membersamai, tapi aku baik-baik saja. Senyum pun muncul di bibir, sebuah senyuman kekecewaan, pada nasib sendiri yang ku rasa begitu menyedihkan.
Azan Zuhur berkumandang, kini aku benar-benar tak bisa lagi mengurung diri di sini sebab aku harus ke kamar mandi untuk berwudhu. Juga keinginan untuk segera ke kamar mandi. Layaknya ibu hamil kebanyakan yang kebiasaan ke kamar mandinya meningkat sebab tekanan bayi pada perut. Apalagi ini sudah trimester ketiga.
Pelan, aku membuka pintu. Mengintip, tak ada siapapun. Baru saja hendak keluar, tiba-tiba Caca dan Cici mengagetkan dari belakang.
"Mama ... Mama sudah bangun? Dari tadi kami tungguin, nenek masak enak lho, ma. Makan siang bareng yuk." kata Caca, entah ia paham atau tidak jika aku sedang tidak baik-baik saja, tetapi aku tahu, ini adalah trik Caca untuk membujukku.
__ADS_1
"Iya, sebentar ya." Kataku.
"Mama mau kemana? Lihat dulu apa yang dimasak nenek, enak bangey. Iya kan Ci." Kata Caca pada adik kembarnya.
"Iya ma, enak. Ada telor balado kesukaan mama juga!" Sambut Cici.
Sejak dahulu, kembar sulungku ini paling bisa membujuk ibunya. Ia tak pernah kehabisan akal agar aku mau buka suara atas inisiatifnya sendiri. Kadang hidup memang begitu, jika orang tua kekanakan, maka Allah berikan anak-anak yang pikirannya cepat dewasa. Begitu juga sebaliknya. Itulah tandanya betapa adilnya Allah.
Tapi ... bagaimana dengan takdir hidupku? Menjadi anak haram, kekurangan kasih sayang orang tua, tidak kenal ayah kandungnya. Karakter yang buruk, hingga menggugat cerai suaminya yang berakhir pada penyesalan. Sungguh berantakan sekali jalan hidupku.
Hufff, aku menggeleng, mencoba mengusir semua pikiran buruk. Mbak Hana sudah mengingatkan tadi, apapun yang terjadi, aku harus terus berprasangka baik pada Allah. Semua terjadi atas kehendak-Nya, dan berlaku adil untuk semua makhluk-Nya. Pasti ada hikmahnya!
"Aku mau ke kamar mandi dulu, Bu." kataku, dengan nada suara pelan, lalu berlalu menuju kamar mandi.
Kata mbak Hana juga, meskipun aku begitu kecewa, atau marah pada ibu, tetap harus menjaga adab. Tidak boleh bicara sembarangan lagi, toh aku sudah memilih jalan hijrah, tak ingin mengulangi kesalahan yang lalu. Lagipula ada dua pasang mata yang selalu melihatku, aku tak mau memberikan contoh buruk lagi pada mereka.
Selesai dari kamar mandi, aku langsung salat.
Bisa kurasakan kalau ibu terus mengawasi, mungkin iapun tidak nyaman sebab masih ada hal yang mengganjal antara kami.
__ADS_1
Benar saja, selesai salat ibu langsung menunggu, aku kembali mengajak ibu dan anak-anak makan siang. Seperti yang dikatakan Caca, ibu memasak cukup banyak menu siang ini, ada ayam goreng, telur balado kesukaan aku, empal daging dan gudeg lengkap dengan kreceknya. Tetapi makanan tersebut tak bisa menarik seleraku yang sedang resah.
Usai makan, Caca dan Cici membantu membereskan meja makan, aku langsung mencuci piring. Sementara ibu menyapu rumah.
Kini, tak ada lagi alasan untukku mengelak, apalagi Caca dan Cici sudah bersiap tidur siang. Tinggal kami berfua, duduk berhadapan, hanya berjarak beberapa meter.
"Kamu nggak mau bicara sama ibu, Di?" tanya ibu, membuka pembicaraan kami.
"Ibu, tidak ingin menceritakan atau menjelaskan apapun padaku?" tanyaku lagi, sambil menatap ibu. "Bu, kalau ibu belum nyaman untuk membicarakan semuanya, aku mengerti. Aku nggak akan maksa ibu." ungkapku. Memang, sudah kuputuskan untuk tidak memaksa ibu bicara apapun, meski sebenarnya akupun berat, aku akan mencoba menghormati semua keputusan ibu, aku tak ingin niat berubah jadi setengah-setengah sebab kisah masa lalu ibu.
"Kamu berhak tahu semuanya, Di." kata ibu. "Dulu, usia ibu masih dua puluh satu tahun, baru lulus D3 keperawatan. Kamu tahu kan, ibu anak yatim piatu yang tinggal dan besar di panti asuhan. Ibu berjuang keras agar bisa menjadi seorang perawat, untuk merubah nasib ibu. Tidak ada yang bisa ibu andalkan selain diri ibu sendiri.
Hingga suatu hari, setelah lulus, ibu ikut ujian pegawai negeri. Ibu lulus, Di. Bahagia sekali rasanya, setidaknya ibu merasa sudah ada jaminan untuk masa tua ibu nantinya.
Entah itu bencana atau apa, suatu hari ibu bertemu seorang dokter paruh baya yang sangat baik pada ibu. Ia ayahnya Nasya. Doker Tomo namanya. Lelaki itu menawarkan pada ibu bantuan agar bisa melanjutkan pendidikan ibu. Siapa yang tak tergiur, menjadi kepala perawat, pasti akan merubah nasib ibu. Sejak itu kami semakin dekat.
Tetapi ternyata janji-janji itu tak dipenuhi oleh dokter Tomo. Ia malah memanfaatkan kebodohan ibu hingga suatu hari ia merebut paksa sesuatu hal yang tak boleh diambilnya. Ia memperkosa ibu, Di." cerita ibu terhenti, berganti dengan suara helaan nafas panjang. Bisa kurasakan betapa sesaknya ibu dengan kisah masa lalunya.
Tanpa permisi, aku memeluk ibu, untuk pertama kalinya aku mempersilahkan perempuan yang entah berapa banyak beban di pundaknya itu menumpahkan air matanya di pundakku.
__ADS_1
"Menangis lah, Bu. Menangis lah. Keluarkan semua beban hidup ibu." ojntaku, sambil mengusap pekan punggung ibu.