ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
81. Perjuangan Ben


__ADS_3

"Aku pergi ya." Ia mencium lembut keningku. Lalu berpamitan pada ibu dan anak-anak.


Setekah itu kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ibu siqp-siap memasak, aku mengurus Rizky di kamat, sedangkan Caca dan Cici bermain di ruang tengah.


Sudah sepekan berlalu, rumah ibu tak juga laku. Calon pembeli yang sebelumnya menawar, tiba-tiba memberikan penawaran begitu rendah. Mungkin ia tahu kalau kami benar-benar butuh uang. Awalnya ibu akan melepas, tapi kularang, sebab terlalu gegabah menjual rumah dengan harga setengahnya saja dari harga penjualan normal. Jelas-jelas calon pembelinya mengambil kesempatan.


"Di ... mau masak lauk apa hari ini?" ibu nongol dari balik pintu.


Aku lupa belanja, lebih tepatnya memang belum bisa sebab uang kami benar-benar tipis. Tinggal selembar lima puluh ribu. Tadipun Ben hanya membawa dua puluh ribu untuk bensin. Sejak dua pekan lalu ia selalu menolak jika kubawakan uang makan.


"Aku ke pasar sebentar ya Bu. Mumpung Rizky sudah tertidur." Kataku.


"Beli di warung saja. Ke pasar terlalu jauh."


"Janganlah, harganya lebih mahal."


"Kalau begitu ibu saja yang beli. Kamu jaga anak-anak saja."


"Jangan bu, aku saja." kataku. Rasanya lebih hemat kalau aku yang belanja ke pasar karena aku bisa jalan kaki. Kalau ibu biasanya harus naik ojek. Ongkosnya bisa dipakai untuk beli lauk besok.


Kini aku sudah berada di pasar. Dengan sigap membeli sekilo telur, dua papan tempe, satu ikat bayam dan satu ons rawit untuk menambah selera makan. Meskipun biasanya kalau sedang tidak punya uang, makan apapun akan terasa nikmat.


Baru hendak pulang. Tiba-tiba mataku menatap ke arah seseorang yang sedang mengangkat karung. Kami hanya berjarak beberapa meter. Saling berhadap-hadapan. Aku berhenti, iapun begitu sebab kami sama-sama kaget.


"Ben!" panggilku. Suara yang pekan namun ku yakin terdengar jelas di telinganya.


Hiruk pikuk di pasar kini tak terdengar lagi. Dunia ini seperti sunyi. Ada rasa sakit di sini, di dadaku. Melihat lelaki yang kucintai tengah mengangkat karung. Pantas saja beberapa hari ini ia terlihat lelah.


Ya Allah .... Padahal ia adalah sarjana IT. Lulusan terbaik di kampus kala itu. Pernah diincar beberapa perusahaan asing karena kerjanya yang bagus. Tapi sekarang. Ahhh ....


"Di, tunggu di sana. Sebentar lagi aku ke sana." Ia melanjutkan pekerjaannya. Mengantarkan karung yang entah berisi apa ke pinggir pasar. Sementara aku masih diam mematung, tak perduli meski beberapa kali disenggol oleh pengunjung yang berlalu-lalang.


Entah berapa lama berlalu, tiba-tiba seseorang menarik tanganku ke pinggir.

__ADS_1


***


"Sejak kapan kamu melakukan ini?" Tanyaku padanya, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Ahhh, rasanya sakit sekali. Kenapa Ben tak bicara apapun padaku. Kenapa ia memilih pekerjaan ini? Setidaknya ia bisa berdiskusi dulu meski sudah bisa dipastikan aku tak akan mengizinkan.


"Aku tak punya pilihan lain, Di. Sudah beberapa perusahaan yang ku lamar, semuanya menolak. Kata temanku, hampir semua perusahaan rekanan mendapatkan memo dari pak Tomo. Sepertinya ia cukup punya kuasa dengan beberapa perusahaan IT.


Sementara hidup harus terus berjalan. Aku tahu, hari ini uang di dompet kamu hanya tersisa lima puluh ribu. Aku harus bergerak cepat. Setidaknya hari ini harus membawa pulang uang agar kamu nggak bimbang.


Aku paham, kamu pasti kecewa sebab pekerjaanku tak seperti harapanmu. Tapi ini sementara saja Di. Kalau pegangan kita sudah cukup dan ada kesempatan, aku akan kembali mencari pekerjaan baru. Jadi tolong jangan marah ya Di." pinta Ben.


"Bagaimana aku bisa marah. Semua ini karena ayah kandungku." aku menatap Ben. "Kamu pasti lelah sekali. Maafin aku Ben, hanya bisa jadi beban di hidupmu."


"Astagfirullah, enggak begitu Di. Kamu dan anak-anak adalah anugerah untukku. Kalau aku menganggap kamu beban, nggak akan aku berjuang untuk kamu."


"Ben ...."


"Di, please jangan peluk aku di sini. Ini pasar. Orang-orang bisa ngelihatin kita."


"Biarin!" aku memeluk Ben erat tanpa peduli tatapan orang-orang. "Ben, cepatlah pulang. Akan kubuatkan sambel rawit yang pedas tanpa tomat untukmu hari ini."


Aku berbalik arah, meninggalkan Ben dan hiruk pikuk pasar sebab ia harus melanjutkan pekerjaannya. Masih banyak karung-karung berisi beras dan kentang yang harus diangkatnya.


Ces. Lagi-lagi air mata itu mengalir. Ben, terimakasih sudah berjuang untukku dan anak-anak.


Langit kota Depok sebenarnya sangat cerah pagi ini. Tapi di hati ini, mendung. Aku benar-benar merasa sangat terpukul.


***


Pukul lima belas lewat tiga puluh menit. Ibu sedang salat bersama Caca dan Cici. Sementara aku sibuk mengurusi Rizky. Ia sedang rewel. Tidak ada yang bisa membantu sebab Ben juga masih pergi.


Hp milikku berbunyi. Aku sebenarnya tak berminat mengangkat karena benar-benar sibuk mendiamkan Rizky. Tapi terpancing karena kukira itu adalah panggilan dari Ben.


[Halo Di.] suara yang pernah ku dengar sebelumnya. Nasya. Ya, benar. Itu adalah dia.

__ADS_1


[Nasya?] aku memastikan.


[Ya Di. Apa kabar? Papa bilang kau ingin bicara denganku. Ada apa? Aku sedang benar-benar sibuk dengan kuliahku.]


[Duh, Nasya, aku ingin bicara banyak denganmu. Termasuk tentang ibumu, Tante Maya. Tapi sekarang putraku sedang rewel, jadi bisakah kau menelepon lagi sekitar lima belas menit.]


[Sayang sekali tidak bisa sebab aku sibuk dengan kuliah dan bisnis baruku. Di, bisakah kau gantikan aku sebentar saja. Tinggallah dengan papa agar ia bisa menebus kesalahannya. Papa


....] Klik. Panggilan terputus sebab aku tak sengaja memencetnya. Aku terlalu bingung karena saat bersamaan Rizky terus saja menangis sebab selain haus kini popoknya juga basah. Ahhh bayi.


"Yah .... Bagaimana ini? Bayi sayang, kenapa tiba-tiba rewel lagi? Mama mau bicara penting dengan Tante Nasya." aku menggumam, sambil mengangkat Rizky. "Diamlah nak. Mama pasti perhatikan Rizky."


"Di, tadi siapa yang telepon?" ibu menyusul ke kamar. Mungkin mendengar suara telepon dan tangisan Rizky.


"Nasya Bu. Tadi Naysa yang telepon.. seperti yang dikatakan pak Tomo, ia kuliah di luar negeri."


"Artinya?"


"Ya yang dikatakan pak Tomo benar."


"Berarti kamu percaya semua yang dikatakannya?"


"Ya nggak begitu juga Bu."


"Di, berhati-hatilah. Bisa saja ini jebakan."


"Tapi Nasya membenarkan apa yang dikatakan ayahnya. Kecuali ibu juga mau bilang Nasya berkomplot dengan ayahnya. Tapi untuk apa Bu? Apa yang mereka incar dariku? Aku ini bukan siapa-siapa, kecuali aku punya banyak uang atau jabatan. Tapi kan kenyataannya enggak."


"Di!" ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Lalu berlalu pergi ke kamarnya.


Ibu ngambek lagi!


Kenapa semuanya jadi runyam begini. Bukan maksudku mengatakan kalau ibu berbohong. Sekarang aku mulai percaya pak Tomo juga percaya pada ibu. Apa itu salah?

__ADS_1


Entahlah.


Rasanya ingin menghilang saja. Sampai keaadaan mulai reda.


__ADS_2