ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
93. Cerita Nasya


__ADS_3

Pak Tomo dan Melani sudah dibawa ke kantor polisi meski mereka berusaha menolak, bahkan sempat mengancam balik aku dan pengacara serta stafnya. Mereka menuduh kami sudah melakukan penipuan tentang wasiat hibah Tante Maya. Tapi ancaman itu tidak kami pedulikan. Aku juga tidak terlalu khawatir sebab ada pengacara yang akan menolongku. Mereka tahu hukum, pasti tak akan sembarang bertindak.


Pak pengacara, Ben dan polisi yang masih berjaga di rumah kembali membincangkan tentang kasus yang baru saja terjadi. Aku memutuskan untuk menemui Nasya di kamarnya. Pelayan yang membantunya bebersih sudah menyelesaikan tugas mereka. Dokter keluarga Nasya juga sudah memberikan beberapa pertolongan padanya sehingga kondisinya sudah agak membaik meski masih terbaring di atas tempat tidur dengan selang infus di tangannya.


"Assalamualaikum," kataku, ragu-ragu. Khawatir jika mengganggu atau membuatnya tak nyaman. Aku yakin, apa yang dialami Nasya tadi pasti membuat ia dalam kondisi tidak baik-baik saja. Ia terlihat trauma dan sangat tertekan. Bayangkan saja, dalam waktu yang cukup lama berada di ruangan tertutup yang tak ada sinar mataharinya. Kedua tangan terikat, makan dan minum terbatas, juga kebersihan yang tidak terjamin. Benar-benar keterlaluan sekali. Perbuatan yang kadar kejahatannya sudah sangat tinggi.


"Di," panggilnya, sembari memberi isyarat agar aku masuk. "Kemarilah, bicaralah denganku."


Aku duduk di kursi yang berada persis di hadapan Nasya. Untuk beberapa saat kami saling diam.


"Di ... terima kasih sudah menolongku." kata Nasya dengan suara amat pelan, menandakan kondisinya belum membaik.


"Tidak apa-apa, Nas. Kuharap kondisi kamu semakin membaik." aku tersenyum sambil memegang tangannya.


"Tidak ku sangka, kamu berani melakukan ini semua, padahal hubungan kita awalnya tidak baik-baik saja. Ternyata benar yang ibuku katakan bahwa ibumu adalah perempuan yang baik, buktinya, ia punya anak yang pemberani dan berhati baik seperti kamu. Kamu mau menolong aku setelah apa yang aku lakukan padamu dan keluargamu."


"Kamu terlalu memuji, Nas. Kami memang sempat kesal dengan ulahmu dulu, tapi sekarang sudah paham kenapa kamu begitu. Jadi tidak masalah. Semua sudah baik-baik saja. Bahkan aku tak memendam dendam padamu."


"Aku serius, Di. Pastilah tidak mudah untuk bisa mengalahkan papaku."


"Ya, ia sangat jahat sekali. Aku tak habis pikir, kenapa ia bisa mengurung istrinya di rumah sakit jiwa dan putrinya sendiri di ruangan rahasia. Ia juga nekat dan sepertinya tidak takut hukum atau mengira bisa membeli semuanya, termasuk aparat hukum. Entahlah, aku juga tak paham cara berpikirnya."


"Dan ia adalah ayah kita." Nasya tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.


"Apa ia tidak takut kehilangan penerusnya, secara kamu adalah satu-satunya anak sahnya."


"Kata siapa?"

__ADS_1


"Maksudku, kalau aku kan hanya anak biologis yang secara agama dan hukum sebenarnya tidak ada ikatan dengan pak Tomo. Orang-orang juga tahunya hanya kamu anak pak Tomo."


"Di, ia punya seorang putra lagi yang mau tidak mau kelak kita harus menghadapinya."


"Apa?"


"Ya, Teo namanya. Anak dari papa dan Melani, ia sekarang ada di Amerika. Satu-satunya anaknya yang aku yakini dikasihi papa sebab ia anak lelaki dan kelak akan jadi penerus papa. Sekarang usianya masih sepuluh tahunan, masih mudalah. Sementara aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya anak perempuan yang sebenarnya tidak diharapkan kehadirannya. Aku ada hanya untuk jalan bagi papa mendapatkan harta mama. Tapi mama rupanya sudah bertindak cepat dengan memindahkan semua hartanya padamu. Sehingga mau tidak mau papa juga harus berurusan dengan kamu. Di sini aku sudah tidak dibutuhkan lagi, makanya papa memutuskan untuk mengurungku di ruang rahasia agar tidak diketahui siapapun sampai ia punya cara untuk menyingkirkan aku."


"Lalu kenapa kamu membenciku?"


"Di, aku terlalu naif. Mengira semua perubahan sikap papa dan kehancuran keluarga kami adalah karena ibumu. Sebelumnya aku tak tahu tentang Melani dan putranya. Setelah ada pembacaan surat warisan dari pengacara bahwa kamu menjadi penerima hibah mama, disitulah aku menyadari bahwa kamu dan ibumu tidak bersalah. Tapi sudha terlambat, papa keburu mengurungku. Beruntung ada pelayan yang sempat melihat dan mencoba membantuku untuk menghubungi kamu, tapi sayangnya kami gagal karena keburu ketahuan Melani."


"Semua sudah berlalu. Sekarang ayahmu dan Melani sudah di penjara."


"Ayahmu juga! Jangan lupakan lagi itu!"


"Apa?"


Aku memeluk tubuh Nasya yang benar-benar kurus. Entah kenapa, perlahan air mata itu menganak sungai. Antara kami sempat ada cerita yang tidak menyenangkan. Bagaimana ia memandangku dengan sinis, lalu ia mendekati Ben, mencoba merebutnya dariku, hingga teror yang ia lakukan pada ibu. Tapi kini semua berakhir manis. Aku dan ia adalah saudara!


"Aku akan mengurus semua hibah dari Tante Maya agar dibalik namakan padamu." kataku pada Nasya.


"Tidak perlu. Itu hak kamu." jawab Nasya.


"Nggak Nas, kamu yang berhak. Aku nggak setamak itu memakan harta orang lain apalagi Tante Maya melakukannya karena terdesak."


"Kalau begitu kita bagi dua saja. Supaya adil."

__ADS_1


"Adil bagaimana?"


"Kamu itu saudaraku, Di. Aku nggak mau papa akhirnya orang-orang tahu dan ternyata perekonomian kamu buruk."


"Hei, apa maksudmu Nas?"


"Aku itu konglomerat, sementara perekonomian kamu mengkhawatirkan. Kalau orang-orang menyadari bahwa kita adalah saudara maka mereka akan melihatku sebagai orang pelit. Sudah tahu saudaranya miskin masa tidak ditolong."


"Sombong sekali kamu! Ingat ya Nas, sekarang itu yang kaya adalah aku. Kamu hanya punya satu rumah tipe empat lima. Itupun dibagi dua dengan ayahmu!"


"Hahahaha, kau mau menyombongkan harta hibah? Itu juga pemberian ibuku!"


Kami berdua kembali tergelak.


"Hemmm," Ben berdehem di depan pintu.


"Ben, masuklah!" Panggil Nasya.


Ben masuk bersama Rizky. Meski masih lemah, Nasya mencoba bangkit, ia meminta Rizky agar diberikan ke pangkuannya. Ben memberikannya. Nasya langsung riang mencandai Rizky hingga bayi itu tersenyum-senyum.


"Di luar sudah ada ibu, mbak Hana dan mas Hendri." kata Ben. "Caca dan Cici juga bersama mereka."


"Kalau begitu kita pulang sekarang." kataku.


"Di ...." panggil Nasya lagi. "Terimakasih ya!"


"Ya Nas. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku ya. InsyaAllah kamu sekarang sudah aman karena ada polisi yang jagain juga." kataku.

__ADS_1


Langit menjelang siang begitu cerah. Satu masalah yang semula kukira rumit akhirnya terselesaikan juga. Pak Tomo dan Melani sudah di penjara, kini tinggal menjalani proses hukum agar ia mendapatkan balasan atas perbuatan jahatnya. Sementara hubunganku dengan Nasya berangsur membaik, kami sudah sama-sama bisa menerima bahwa kami terikat hubungan persaudaraan. Ia dan aku, sama-sama punya ayah yang sama.


__ADS_2