ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
60. Kesaksian Tante Maya


__ADS_3

"A ... apa yang terjadi? Kenapa Tante bisa disini kalau Tante tidak gila? Maaf, maksud saya ...." aku masih bicara terbata-bata, antara bingung, kaget dan bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seorang yang mengaku waras dimasukkan ke rumah sakit jiwa?


Perlahan, perempuan paruh baya itu mencoba bangkit, tapi terhalang sebab kedua tangannya terikat. Aku hendak mendekat, tapi Ben kembali mencegah dengan menarik pelan tanganku. Mungkin Ben belum percaya jika Tante Maya sebenarnya tidaklah sakit.


Tapi ... ahhh. Ini benar-benar membingungkan. Ulah siapa ini semua?


Perempuan itu tak jadi bangkit, ia kembali merebahkan badannya, mencoba bergeser, mungkin mencari posisi yang nyaman. Lalu kemudian menatapku.


"Wajahmu, mengingatkan saya pada suami saya. Oh tidak, maksud saya, mantan suami saya sebab sebenarnya saya sudah menggugatnya, tapi entah pengadilan mengabulkan atau tidak sebab saya cuma bisa hadir satu kali, setelah itu, saya berada di sini." kata Tante Maya.


"Tapi, kenapa Tante bisa ada di sini." tanyaku lagi, masih belum bisa menemukan jawaban dari cerita singkatnya tadi.


"Siapa tadi nama kamu, nak?" tanya perempuan itu padaku.


"Diandra, Tante." jawabku.


"Ya, nak Diandra. Kamu sudah kenal Nasya juga?" tanyanya lagi.


"Ya, Nasya seangkatan dengan suami saya. Dua tingkat di atas saya." aku kembali menceritakan bagaimana hubungan kami sekarang, tidak akur karena Nasya mengira ibu yang merusak rumah tangga orang tuanya.

__ADS_1


"Sudah lama kami tak bertemu, sudah begitu rindu pada anak itu. Dulu dia masih bocah, terakhir ketemu tahu-tahunya sudah menjelma jadi gadis dewasa. Tapi tak banyak yang bisa kami bicarakan sebab semua serba dibatasi.


Oh ya, kalian sendiri, bagaimana bisa masuk ke sini? Tidak semua orang bisa masuk. Tomo membuat penjagaan yang begitu ketat, bahkan aku tak bisa bicara dengan siapapun. Ia mengurungku di sini, kedua tangan juga terikat. Kejam sekali bukan." tanya Tante Maya.


"Entah ini hanya kebetulan saja atau bagaimana, tapi ini semua pasti sudah atas kehendak Allah." kataku. "Jadi, bisakah Tante ceritakan kenapa Tante bisa ada di sini kalau ternyata Tante tidak sakit."


"Waktu itu saya ketemu Rena, tak banyak yang kami bicarakan sebab sejujurnya saya masih terluka dengan apa yang dilakukan Tomo, lebih-lebih perbuatan bejatnya dilakukan pada seorang gadis yang masih lugu. Sejujurnya saya marah, sehingga memutuskan untuk menggugatnya ke pengadilan.


Waktu Tomo tahu, ia mencoba membujuk. Bahkan menjanjikan kalau bayi yang dikandung Rena akan digugurkan. Apapun akan dilakukannya asalkan saya tidak menggugat, ia juga mengingatkan saya akan anak kami Nasya yang pastinya akan terpukul jika tahu orang tuanya berpisah. Tapi keputusan saya sudah bulat, apa yang dilakukan Tomo sudah tidak bisa ditolerir lagi. Apalagi perbuatannya itu tidak sekali saja, tapi setelah saya selidiki, tak hanya Rena yang jadi korbannya. Ada banyak Rena Rena yang lainnya. Dan itu benar-benar seperti sebuah tamparan untuk saya yang tak bisa saya Maafkan.


Tomo masih berusaha membujuk. Saya tahu kenapa ia takut bercerai dari saya, bukan karena cinta apalagi memikirkan anak, tapi karena ia takut kehilangan semuanya. Ia takut kehilangan harta kekayaan ayah saya yang selama ini dinikmatinya karena menikah dengan saya.


Setiap hari saya disuntik berkali-kali. Entah apa yang mereka masukkan dalam tubuh saya, hingga membuat saya kehilangan kesadaran, kadang sampai ngelantur. Sehingga keluarga besar menganggap saya benar-benar gila.


Tomo semakin menguasai kehidupan saya. Ia bahkan melarang siapapun bertemu dengan saya dengan alasan kejiwaan saya terguncang cukup parah sehingga saya bisa membahayakan siapapun. Ia memang pintar bicara sehingga semua orang percaya padanya.


Bukan saya tak pernah mencoba melawan, beberapa kali saya mencoba bicara pada siapapun yang datang berkunjung, tapi pada akhirnya selau gagal dan berujung pada penyiksa secara fisik. Hingga saya benar-benar lelah, bahkan sudah putus asa, hanya bisa pasrah, jika ini akhir semuanya, saya sudah rela. Hanya satu harapan saya agar Nasya tahu siapa ayahnya sebenarnya. Saya ingin Nasya tahu kalau saya tidak gila." Tante Maya menangis, menceritakan beban yang ia rasa selama tiga puluh tahun lebih. Ya Allah.


"Tante jangan khawatir, saya akan mengatakan semuanya pada Nasya. Saya janji, akan membawa Nasya ke sini. Saya akan pertemukan Tante dengannya dan Tante akan segera keluar dari sini. Tomo akan mendapatkan balasan atas perbuatannya. Saya janji, Tante." kataku.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Di. Tante juga yakin, pertemuan kita bukanlah sebuah ketidak sengajaan belaka. Pasti sudah ada hikmahnya. Terima kasih banyak. Tapi Tante ingatkan agar kamu berhati-hati, Tomo itu jahat." Tante Maya menganggukkan kepalanya.


"Tante sabar ya. Kami pergi dulu, saya akan kembali secepat mungkin." ungkapku, sambil menggenggam erat tangannya.


"Di, maafkan Tante." tiba-tiba Tante Maya menggoreskan sesuatu ke tanganku.


Ciss. Darah langsung mengalir. Terasa pedih sekali, ketika sebuah luka sayatan mengenai punggung tanganku.


"Apa-apaan ini Tante?" Ben langsung siaga, menarik tanganku dari genggaman Tante Maya.


Sikap spontan Tante Maya benar-benar membuat kami kaget, tapi Tante Maya meyakinkan kami bahwa ini akan berguna nantinya.


"Maafkan Tante, Di. Tapi orang-orang di depan akan mempertanyakan pertemuan kita ini. Luka itu akan menghilangkan kecurigaan mereka. Juga Nasya, kalau ia tak percaya dengan apa yang kalian ceritakan, tunjukkan saja luka itu. Nasya akan tahu semuanya." kata Tante Maya lagi. "Nanti jangan lupa minta obat di depan ya." tambahnya.


Aku, Ben dan mbak Hana segera meninggalkan ruangan tempat Tante Maya dirawat. Benar sjaa kata Tante Maya, luka yang ada di tanganku membuat kami cepat berlalu dari para penjaga tersebut. Tidak lupa sebelum pergi kami mengambik tas dan Hp yang tadi sempat dititipkan karena masuk ke sini tidak diperkenankan membawa gadget.


"Kamu lihat kan, Ben. Apa yang dikatakan Tante Maya itu benar, gara-gara luka ini kita bisa cepat pulang tanpa ditanya panjang lebar." kataku, pada Ben yang konsentrasi menyetir.


"Tapi nggak harus melukai kamu juga. Lihat apa yang dia lakukan, tangan kamu sampai berdarah begini. Mana lukanya pakai benda tajam bermotif pula, bagaimana kalau lukanya bikin kamu infeksi atau malah tetanus, kan bahaya. Kalau mau melukai, aku saja, bisa lebih aku terima." kata Ben yang masih belum rela dengan apa yang dilakukan oleh Tante Maya tadi.

__ADS_1


__ADS_2