
Percuma rasanya ngadu pada ibu, sebab bagi ibu Ben adalah seorang menantu yang sempurna, sangat sempurna malahan. Segala keburukannya tak akan pernah dianggap nyata oleh ibu. Itulah yang membuatku ragu untuk mengadu ke sini. Alih-alih mendapatkan dukungan, yang ada malah dinyinyirun, bahkan sellau disalahkan oleh ibu.
"Lho, kamu mau kemana Di?" tanya ibu, saat aku hendak pergi.
"Ke warnet!" jawabku.
"Ngapain?"
"Ngetik. Di mau buktikan sama ibu, Ben dan seluruh orang di muka bumi ini kalau Di itu juga bisa jadi orang yang dibanggakan. Di akan mewujudkan mimpi-mimpi Di yaitu jadi seorang penulis terkenal. Nanti ibu akan menyesal karena sudah menyepelekan Di!" kataku.
"Terserah kamu sajalah. Asal jangan membuat masalah Diandra. Kamu itu sekarang bukan anak kecil lagi. Kamu sudah jadi istri dan ibu dari dua anak. Jangan macam-macam!"
Ibu selalu saja begitu. Tidak pernah menganggap aku istimewa. Selalu memandangku sebelah mata. Semua yang aku lakukan selalu dianggap salah. Langkah yang aku pilih pun diragukan oleh ibu.
Andai saja ibu bisa bersikap lebih mendukung, atau setidaknya tidak buru-buru mengecilkan aku, mungkin aku tidak akan seperti ini, tumbuh dengan emosi yang labuh dan juga tidak punya rasa percaya diri.
Tidak, tidak. Aku dulu Memnag tidak punya rasa percaya diri dan tujuan hidup. Satu-satunya yang aku lakukan dahulu hanyalah bergantung di bawah orang-orang yang melindungi aku. Berjalan sesuai arahan mereka. Diam ketika disuruhnya. Tapi sekarang tidak. Aku adalah Diandra yang baru. Aku adalah calon penulis besar yang punya rasa percaya diri serta bisa membanggakan siapapun. Aku pasti bisa!
Semangat itu mendadak turun drastis saat melihat warnet penuh dengan anak-anak berseragam.
Tidak, jangan menyerah apalagi langsung mundur Diandra. Kerjakan sekarang. Kamu harus bisa jadi penulis meski penuh dengan keterbatasan!
"Mas, yang kosong nomor berapa?" tanyaku pada mas-mas penjaga warnet.
"Nomor tujuh, mbak. Dipojok sana." ia memberikan nomor padaku. "Tapi di sana area merokok, bagaimana mbak?" karena aku menggeleng sebab tidak mempermasalahkan, maka nomor diberikan padaku, lalu aku menuju tempat yang ia maksud.
Bismillahirrahmanirrahim. Billing langsung ku hidupkan, lalu mulai berselancar di dunia maya. Mencari-cari informasi tentang kepenulisan. Ada banyak lomba ternyata. Mulai dari yang berhadiah ratusan juta sampai hadiah yang hanya berupa sertifikat. Tentu saja bagian itu langsung aku skip.
__ADS_1
Masa naskah hanya dihargai sertifikat saja? Padahal membuatnya itu butuh waktu, tenaga, dan otak yang harus berpikir.
Bruk. Baru saja mau menyimpan data, tiba-tiba dinding pembatas antara billingku dengan yang sebelah bergeser. Sepertinya di sebelah diisi oleh anak-anak kecil sebab suaranya seperti kumpulan lebah yang ngiung-ngiung membuat pekan saja.
Sekali, dua kali, hingga tiga kali. Aku mulai kesal, lalu menendang balik billing sebelah. Berhasil. Mereka diam, tidak lagi bergerak-gerak.
Baru mau memulai pekerjaan berikutnya, kini asap rokok mulai masuk ke billingku. Awalnya sih sedikit, tapi lama-lama asapnya ngebul semakin banyak, sudah seperti kebakaran hutan saja. Kesabaranmu benar-benar diuji oleh mereka karena anak-anak yang disebelah kembali berisik. Tidak hanya membuat guncangan, bahkan mereka tertawa-tawa, entah hak lucu apa yang mereka lihat di dunia Maya.
Ughhhh. Finis. Kesabaranku habis. Lalu segera berlalu ke meja kasir. Mengambil satu buah minuman dingin, lalu kembali ke billing tempatku, mengamati dari mana sumber asap rokok.
"Baiklah sumber polusi, akan kuhabisi kau!" kataku. Entah setan apa yang merasuki, aku naik ke atas meja, dari pembatas yang hanya setinggi kepala aku menyiram sumber asap rokok hingga terdengar suara teriakan dari billing sebelah.
Setengah air mineral sudah kutumpahkan ke kepala sumber asap rokok. Setengah lagi jusiramkan pada bocah-bocah yang tadi ribut. Sialnya ternyata aku salah. Itu bukan anak-anak, tapi sepasang muda-mudi mesum yang sedang pacaran di warnet. Sekalinya saja kuhabisi mereka.
"Heh, emak-emak gila. Kenapa nyiram saya?" tanya pemuda yang merokok.
"Eh, siapa yang nyiram?" tanya sepasang muda-mudi.
"Saya? Masalah buat kalian?" tanyaku balik.
"Ya ampun, ini emak-emak aneh sekali. Banyak masalah hidup ya, makanya ane begitu? Rese!" ungkap sepasang muda-mudi tersebut.
"Kalian yang rese. Masih pada kecil sudah mesum." kataku lagi.
"Siapa yang mesum?" mereka balik tanya.
"Kalian kira saya tidak tahu, orang yang berdua-duaan di dalam bilik kecil kayak begitu. Yang laki-laki enggak modal, perempuannya mau saja digituin. Punya harga diri dong!" aku masih nyolot.
__ADS_1
"Eh jangan asal ngomong ya Mak!" kata anak perempuan itu padaku.
"Siapa yang asal ngomong? Saya bisa buktikan kalau kalian itu pasangan mesum!" baru aku hendak masuk dalam bilik mereka, anak perempuan itu menahanku. "Kenapa? Kamu takut dik? Ckckck, kamu enggak kasihan sama bapak ibu kamu? Mau jadi apa nantinya? Masih kecil sudah mau saja di mesumin. Punya harga diri dong!"
"Ada apa ini?" mas-mas penjaga warnet datang menghampiri kami yang sedang ribut-ribut.
"Nih, ada emak-emak stres, masa kami disiram." kata sepasang muda-mudi tersebut.
"Gue juga disiram!" pemuda yang merokok juga ikut mengadu.
"Masalahnya apa, mbak?" tanya penjaga warnet padaku.
"Ini orang berdua mesum. Yang satunya lagi asap rokoknya kemana-mana. Dia kira paru-paru saya tidak berharga sampai mau diracuni sama asap rokoknya dia!" kataku, membeberkan alasan menyiram ketiga pemuda dan pemudi ini.
"Mbak, mereka mau mesum atau enggak itu bukan urusan mbak!" kata penjaga warnet. "Terus, tadi kan saya sudah bilang, di sini area merokok, jadi pasti banyak asap rokoknya, mbak juga enggak masalah kan? Lalu kenapa sekarang cari gara-gara?"
"Lho kok malah marahin saya?" aku tidak terima disalahkan oleh mereka berempat. Apa yang ku lakukan adalah sebab dari perbuatan mereka. Tidak ada asap kalau enggak ada api. Mereka duluan yang nyari gara-gara, jadi wajar kan.
"Mbak, mending cabut deh dari sini sebelum saya panggil pihak keamanan." kata penjaga warnet. "Udah tua malah nyari gara-gara terus. Kebanyakan maslahat hidup ya?"
"Apa kamu bilang? Heh, aku enggak punya masalah. Kamu itu yang bermasalah. Lantas hidup kamu seperti ini, cuma jaga warnet saja. Enggak bakalan maju-maju, soalnya hidupnya enggak berkah. Sudah kelas ada yang melakukan perbuatan amoral, bukannya dilarang malah difasilitasi. Dasar enggak ada akhlak dan moral.
Kalau kelakuan anak bangsa seperti kalian, bisa hancur negara ini. Enggak bakal maju-maju sebab otaknya mesum, nggak bermoral!
Lihat saja nanti, kalau kalian berempat enggak tobat, dijamin kalian enggak akan jadi apa-apa. Kamu juga mbak, jangan sampai hamil di luar nikah baru sadar. Baru nangis, nyesal. Nasi kalau sudah jadi bubur udah enggak ada gunanya!"
Aku mengomel panjang lebar sampai depan pintu warnet. Sebelum berlalu, tidak lupa kutinggalkan uang seratus ribu untuk bayaran warnetku.
__ADS_1
"Nih, lebihnya ambil saja. Anggap saja buat sumbangan perbaikan akhlak!" kataku, lalu berlalu begitu saja.