
Entah sudah berapa lama Caca berada di dalam kamar, disusul oleh Cici. Hingga sekarang belum ada tanda-tanda mereka akan keluar kamar, sementara aku masih berbenah pakaian dan sedikit peralatan yang sempat kubeli semenjak tinggal di kontrakan.
Lama-lama sibuk sendiri ternyata rasanya aneh juga, sebab anak-anak ada di dalam rumah yang sama denganku.
"Caca ... Cici!" panggilku, sambil menyusun pakaian terakhir dalam rak rakitan. Karena tidak ada respon, kuulangi memanggil, hasilnya sama saja. Akhirnya kuputuskan untuk menyusul ke dalam kamar. Di sana kudapati Caca sedang berbaring di atas kasur menghadap ke arah tembok, sementara Cici duduk termenung di pojok lainnya.
"Ca, Cici. Mama panggil kok diam saja." kucoba bersikap seperti biasanya, tapi tetap tak ada jawaban, bahkan Cici menundukkan wajahnya, setelah memperlihatkan raut wajah sedih. Kalau Caca, entah dia bagaimana karena sejak tadi masih menghadap ke arah dinding. "Ca," aku menarik pelan lengannya agar ia berbalik. "Caca nangis?" tanyaku, sembari mencoba menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya.
Aku mencoba merangkulnya, tapi ia menolak. Masih menunjukkan sikap tidak bersahabat denganku. Sikap yang baru pertama kali semenjak ia lahir ditunjukkan padaku.
"Caca masih marah sama mama?" tanyaku, sembari memegang kedua tangannya. Ia tak menjawab, hanya membuang wajah.
"Jangan lagi mama bilang seperti itu!" katanya, meski dengan nada pekan, tapi terasa begitu tegas.
"Itu kenyataannya, Ca!" ungkapku, yang tersinggung dengan penolakan yang dilakukan anak ini.
"Mama bohong!"
"Nggak bohong. Papa kamu memang sukanya sama Tante Nasya!"
"Mama jahat!" tangis Caca yang sempat reda kembali pecah.
Aku kembali menyadari, bahwa orang yang tengah menjadi lawan debatku kali ini adalah putriku sendiri, dan usianya masih sangat dini. Lima tahun. Setelah melihatnya menangis, aku semakin yakin bahwa ia begitu terluka.
Memang tak seharusnya kukatakan hal yang mereka rasa buruk tentang ayahnya, meski kenyataannya demikian. Tetapi aku benar-benar terpancing dengan sikap Caca barusan sehingga kembali kutegaskan padanya tentang Ben yang akan menikahi perempuan lain.
"Baiklah, mama minta maaf." Kataku, setelah mencoba menenangkan diri sendiri.
"Caca mau ke tempat papa!" pintanya dengan tegas.
"Kan mama sudah bilang, di sini kita hanya tinggal bertiga hingga adik kamu lahir. Tidak ada papa atau siapapun. Tolong jangan pancing emosi mama, Ca."
"Kenapa enggak boleh ketemu papa? Caca mau sama papa!" ia mulai merengek, menunjukkan sikap yang membangkitkan emosiku.
"Nggak Ca, enggak! Astagfirullah, kamu itu sudah dikatakan baik-baik tetap saja memaksakan kehendak. Mama capek bicara sama kamu!" aku kembali mengomel. "Kalau kamu nggak mau diatur, kamu boleh tinggal sama papa. Tapi nggak boleh ketemu mama lagi. Mau kamu?"
Ancamanku sepertinya cukup manjur untuk Caca, buktinya ia buru-buru menghapus sisa air matanya dan mencoba meraih tanganku.
"Mama," panggilnya. "Maafin Caca, Caca sayang mama. Maunya tinggal sama mama juga." pintanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kalau mau tinggal sama mama harus nurut sama mama. Ngerti!"
"Iya,"
__ADS_1
"Nggak boleh sebut-sebut papa lagi."
"Iya."
"Cici juga. Mengerti?" aku menatap Cici yang menunduk. Begitu mendengar namanya disebut, ia langsung mengangkat wajah dan menganggukkan kepalanya.
***
Malam telah larut, kedua anak-anak sudah tertidur dengan mata yang bengkak akibat menangis seharian. Mereka sudah begitu banyak menumpahkan air matanya. Melihat kondisi seperti itu membuatku tak sampai hati, hingga akhirnya kini aku yang menangis.
Semua benar-benar semakin rumit. Tapi aku berharap ini hanya sementara, semoga esok kehidupan kami jauh lebih baik, tanpa air mata, hanya ada senyuman kebahagiaan.
Bayangan wajah Ben kembali muncul di benakku. Sedang apa ia di sana? Ben pasti begitu bahagia sebab sebentar lagi akan mempersunting Nasya.
Pelan kubuka laptop, mencoba merangkai kata-kata. Hanya dapat beberapa lembar, aku tak mampu meneruskan. Padahal mata belum mengantuk sama sekali. Makanya kuputuskan untuk salat.
Ya, kini aku berdiri di atas sajadah, lengkap dengan mukenah putih yang dibelikan Ben sebagai hadiah untukku.
*Aku di sini Tuhan. Entah Engkau akan menerima ibadahku atau tidak. Tapi aku ingin jadi baik. Setidaknya untuk anak-anak ini, mereka tak berdosa. Mereka berhak mendapatkan ibu yang baik, setelah kehilangan kasih sayang seorang ayah akibat ulahku sendiri.
Tuhan, Jika saja aku boleh meminta, tidak untuk diriku saja, tapi lebih utama lagi untuk anak-anakku, bisakah kami mendapatkan bahagia kembali*?
Perlahan kuucapkan takbir, sesaat tak ada satu ayat pun yang kubawa sebab bibirku masih Kelu. Bingung mau membaca apa. Sebelumnya, kalaupun salat asal-asalan. Tak ada yang kubawa, hanya melepas agar Ben tak marah saja.
Rasanya ingin menertawakan diri sendiri. Pantas saja Tuhan memberiku jalan hidup begitu rumit. Aku tak pandai bersyukur pada-Nya. Bahkan untuk sekedar sujud saja aku lupa bacaannya.
Bagaimana aku bisa sesombong ini? Ada banyak hal yang ingin aku dapatkan tapi aku lupa pada penciptaku.
Dasar manusia tidak tahu diri! Aku hanya bisa mengumpat diri sendiri.
Baiklah, sudahi main-mainnya. Aku benar-benar ingin jadi baik. Aku tak mau terus-menerus jauh dari-Nya.
Orang bilang, kadang kita harus merasakan ujian yang banyak baru terpanggil hati untuk kembali. Kini aku ingin berubah, aku tak mau melewati takdir hidup yang lebih buruk lagi dari hari-hari sebelumnya.
"Mama salat?" selesai berdoa, tiba-tiba saja Caca sudah berada di sampingku. Entah kapan ia datang, aku tak menyadari.
"Caca bangun?" tanyaku, sambil mengusap sisa air mata.
"Iya. Mama salat?"
"Iya."
"Mama, maafin Caca."
__ADS_1
"Ya, mama juga minta maaf."
"Apa ...." Caca tak melanjutkan perkataannya, tetapi aku bisa menebak apa yang ingin dikatakannya.
"Papa?"
"Ma,"
"Bicaralah, sudah nggak apa-apa."
"Caca rindu papa. Apa papa rindu Caca?"
"Pasti. Papa sangat sayang sama kamu dan Cici."
"Sama mama juga."
"Enggak lagi, Ca."
"Kenapa?"
"Karena mama sudah bukan suami istri lagi."
"Seperti papa dan mamanya Gladis?" ia menyebutkan salah satu teman sekelasnya.
"Hm,"
"O, begitu."
"Caca marah?"
"Nggak. Cuma sedih aja."
"Maafin mama."
"Tapi kan Caca mau punya adik. Apa papa nggak mau kumpul sama adik?"
"Entahlah. Semua salah mama."
"Mama, papa sayang mama, kan?"
"Entah."
"Sayang kok, Caca tahu. Papa sayang mama, kayak papa sayang Caca." Ia mengungkapkan dengan emosi tertahan.
__ADS_1
Aku memeluknya. Berbisik agar ia mendoakan kebahagiaan untuk papanya. Aku tak ingin anak-anak salah paham. Ini bukan salah Ben, meski ia menikah dengan Nasya. Ini semua salahku, yang sudah menghancurkan pernikahanku sendiri.
Kukira kebebasan dari Ben itu jauh lebih membahagiakan, ternyata itulah awal kesengsaraan dalam hidupku.