
Sampai di kontrakan kami yang baru, aku memaksa Caca dan Cici masuk hingga mereka menangis dan mengundang perhatian orang-orang di sekitar. Apalagi Ben keburu datang dan meminta waktu bicara.
Tentu saja aku menolaknya, bahkan tak segan mengusir Ben sebab aku sudah benar-benar lelah. Mengendalikan dua anak kembar ini ternyata tidaklah mudah. Ditambah lagi Ben yang mengikuti kami, serta tatapan-tatapan ingin tahu tetangga kiri kanan.
Entah paham bahwa aku sedang tak ingin diganggu atau karena pertimbangan apa, Ben akhirnya pergi. Tak lupa ia berpesan agar aku segera menghubunginya jika aku siap bicara. Tapi kuabaikan. Aku begini karena ingin lepas darinya, bagaimana mungkin aku mau menghubunginya lagi.
"Mama ... Caca mau sama papa!" teriak Caca.
"Cici juga!" tambah Cici.
"Ma ... Mama dengar kita nggak?" Caca mengguncang lenganku sebab tak ada jawaban sebelumnya.
"Caca, Cici. Sudah. Jangan banyak bicara. Biarkan mama sendiri dulu!" pintaku, dengan nada tinggi karena terlalu kesal dengan ulah mereka. Aku ingat mereka masih anak-anak dan Ben selalu mengingatkan agar aku bersabar menghadapi Caca dan Cici, tetapi saat ini aku tak ingin mengerti tentang siapapun. Justru aku ingin dimengerti!
"Tapi kita di mana? Kok nggak pulang ke rumah atau ke tempat nenek?" tanya Caca.
"Nggak ada rumah papa ataupun rumah nenek. Mulai sekarang kita tinggal di sini. Bertiga saja. Mengerti!" kataku dengan tegas.
"Kenapa begitu?" Caca menatap tak mengerti. Ia memang lebih banyak bicara ketimbang Cici. "Ini memangnya rumah siap? Kok kecil."
"Astagfirullah, kamu itu ya, masih kecil sudah bisa bicara seperti itu. Meskipun tempatnya sempit ya harus tetap disyukuri. Jangan mengeluh terus. Kalau kebanyakan ngeluh makanya semuanya jadi terasa kurang. Paham nggak?" kataku.
Tetapi untuk sesaat aku terdiam memikirkan kata-kata tersebut. Nggak, aku nggak boleh kebawa perasaan, aku harus buktikan bahwa berpisah adalah jalan terbaik untuk pernikahan kami.
Aku dan Ben itu tidak cocok. Aku tak ingin lagi berada di bawah bayang-bayangnya. Aku ingin bebas, sebab itulah caranya untuk mendapatkan kebahagiaan!
"Mama," panggil Caca.
"Apalagi Caca? Kamu itu ngomong terus. Sana, tidur sama Cici." Perintahku.
"Caca lapar. Bagaimana bisa tidur kalau perutnya kriuk-kriuk begini " ia memegang perutnya yang kempes.
__ADS_1
"Uuhhhh, ini anak benar-benar deh," aku kembali ngomel. Tetapi sambil mengajak mereka berdua ke warung terdekat mencari makan siang. Tentu saja kedua anak tersebut tersenyum sumringah meskipun sesekali kembali mengingatkanku agar segera kembali ke rumah Ben ataupun rumah nenek mereka.
***
Kontrakan dua ruangan ini memang sangat tidak nyaman. Selain sempit, agak kumuh, juga panas dan banyak nyamuknya. Padahal aku belum mempersiapkan apapun untuk memberantas nyamuk-nyamuk tersebut sehingga membuatku harus terjaga semalaman agar bisa memastikan Caca dan Cici tertidur pulas tanpa digigit nyamuk sedikitpun.
Hasilnya, pagi-pagi, saat Caca dan Cici sudah bangun, aku benar-benar diserang kantuk yang amat sangat sehingga tak bisa mengurus Caca dan Cici yang harusnya bersiap berangkat ke sekolah.
"Mama, ayo antar kami." kata Caca dan Cici bersamaan, setelah rapi dengan seragamnya.
Kedua anak itu, meskipun baru berusia lima tahun tapi sudah cukup mandiri. Untuk urusan mandi dan berpakaian mereka memang sudah biasa melakukannya atas ajaran Ben.
"Hari ini kalian libur saja ya, mama masih ngantuk." pintaku.
"Yah mama, hari ini ada pelajaran menggambar, jangan libur dong." pinta Caca.
"Tapi mama ngantuk Ca," kataku, bersiap untuk membaringkan diri, rasanya mata ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
Tetapi aku tak menggubris mereka. Tetap berbaring. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah tak sadarkan diri sebab mata ini benar-benar mengantuk.
***
Sepi. Tak ada suara siapa-siapa. Aku memandang sekeliling yang terasa asing. Lalu menguap. Kemudian cepat-cepat bangkit saat sadar bahwa kini aku berada di kontrakan kecil bersama dua anak kembar ku. Caca dan Cici. Tapi dimana mereka?
Ya Tuhan, aku buru-buru bangkit dari tempat tidur. Menyambar kerudung sekenanya, lalu ke depan, mencari ke kanan dan kiri. Tapi tak juga kudapati mereka berdua.
Kemana Caca dan Cici?
Tidak bisa kupungkiri kalau sekarang aku benar-benar panik. Anak-anak itu adalah tipikal anak yang tidak suka keluyuran tanpa didampingi orang yang mereka kenal. Tetapi di sini, tempat ini sangat asing untuk mereka berdua. Lalu kemana perginya Caca dan Cici?
Lagi-lagi aku menggelengkan kepala, tidak bisa membayangkan mereka berdua pergi tanpa siapapun. Lalu siapa yang membawanya?
__ADS_1
Mengingat tempat ini asing dan juga agak kumuh sebab diisi oleh orang-orang ekonomi menengah ke bawah, tiba-tiba aku terpikir. Apakah mereka diculik?
Astagfirullah. Aku buru-buru berjalan menelusuri yang sempit yang menjadi satu-satunya jalan ke kontrakan kami. Sayangnya tidak ada siapapun yang bisa aku temui di jalan.
Sampai di ujung gang, rasanya air mataku sudah mau tumpah sebab tidak juga menemui sosok anak kembar ku.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Aku benar-benar menyesali sikap kakiku tadi. Sambil mengingat bagaimana Caca dan Cici sebelum kutinggal tidur. Mereka mau sekolah dan makan. Apa jangan-jangan mereka berangkat ke sekolah berdua saja, mengingat jarak sekolahnya tidak terlalu jauh dari sini.
Aku langsung berlari kencang menuju sekolah anak-anak. Sampai di depan kelas, aku langsung mencari sosok Caca dan Cici, tetapi mereka tidak ada di sana. Masih dengan nafas ngos-ngosan, aku langsung masuk tanpa izin terlebih dahulu.
"Bu, apa Caca dan Cici ke sini?" tanyaku pada guru kelas mereka.
"Eh Bu Diandra. Saya malah berniat mau menghubungi ibu pasca mengajar untuk menanyakan keberadaan Caca dan Cici sebab tidak biasanya mereka libur tanpa ada berita seperti sekarang." kata wali kelas.
"Jadi mereka nggak ke sini?"
"Enggak Bu,"
"Ya Allah ...."
"Bu, ada apa ya? Apa terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anak?"
"Hah?" tanpa sempat menjawab pertanyaan guru Caca dan Cici, aku segera berlalu meninggalkan kelas tersebut diikuti tatapan penuh tanda tanya oleh guru dan teman-teman sekelas anak-anakku.
"Ya Allah ... Caca, Cici, kalian kemana? Jangan tinggalkan mama sendirian!" aku terduduk lemas di pinggir trotoar. Entah harus kemana kucari mereka.
Tiba-tiba aku teringat Ben. Apa aku harus memberitahunya tentang hilangnya Caca dan Cici? Tapi bagaimana kalau dia marah dan menuduhku lalai mengasuh anak, kemudian berujung pada dengan diambilnya Caca dan Cici dari sisiku?
Tidak. Aku nggak akan memberitahu Ben atau siapapun. Aku akan mencari anak-anak sendiri sampai ketemu!
__ADS_1