ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI
94. Apakah Kamu Mau Jadi Saudaraku?


__ADS_3

Aku baru saja mengantarkan Ben hingga pintu. Melepas kepergiannya. Ben akan bekerja di perusahaan yang sama dengan mas Hendri. Ia masuk atas arahan mas Hendri. Awalnya kami ingin menolak sebab tak ingin terlalu banyak merepotkan keluarga mbak Hana, tapi mas Hendri menyatakan bahwa mengajak Ben bukan semata-mata karena kasihan sebab hingga sekarang belum mendapatkan pekerjaan, tapi juga karena perusahaannya butun ahli IT dan mas Hendri menilai Ben adalah orang yang tepat untuk menduduki posisi sebagai manager di sana.


Aku agak keget, saat membalikkan badan, ternyata ada ibu berdiri tak jauh dariku. Tidak seperti biasanya, ia menungguiku seperti itu. Biasanya ibu sibuk di dapur atau bermain dengan Rizky.


"Ibu kenapa?" tanyaku.


Ibu tak langsung menjawab, tapi menundukkan kepalanya sembari meremas ujung bajunya.


"Bu?" panggilku. "Tumben diam seperti patung."


"Di, ayo duduk sebentar. Ada yang ingin ibu bicarakan." ibu mengajakku duduk di depan meja televisi, sudah ada dia cangkir teh terhidang di sana.


"Apa ini? Ibu membuatkan aku teh?"


"Ya, supaya ngobrolnya bisa santai. Kamu juga jawab ibu jangan jutek-jutek begitu. Bagaimanapun juga kan ibu itu ibumu."


"Siapa yang jutek. Ibu itu kenapa sih? Tiba-tiba jadi sensitif begini. Persis seperti seorang anak gadis yang pengen menikah."


"Kamu ini bicara apa?"


"Ya maaf. Aku hanya bercanda."


"Tqpi itu tidak bercanda, Di."


"Maksudnya?"


"Di, kamu kan tahu selama ini ibu selalu bekerja keras denganmu. Hidup ibu selalu ibu dedikasikan untuk kamu meski kenyataannya banyak waktu yang hilang antata kita. Ibu benar-benar menyesalinya itu. Ibu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Bahkan setelah kamu menikah, ibu belum seratus persen melepaskan kamu hingga kamu sering marah-marah sama ibu sebab menganggap ibu ikut campur urusan kamu padahal ibu melakukan itu semua untuk kamu, sebab ibu belum yakin bahwa kamu benar-benar sudah dewasa menyikapi hidup ini. Di mata ibu saat itu kamu masih Diandra anak ibu yang tidak mandiri, ceroboh dan egois."


"Astagfirullah ibu. Aku benar-benar minta maaf jika sudah membuat ibu khawatir, tapi kan aku berusaha memperbaikinya."


"Iya, ibu tahu. Tapi ibu belum selesai bicara kamu sudah memotong pembicaraan ibu." ibu mendengus kesal. "Sekarang, setelah kita melalui banyak cerita akhirnya ibu sadar bahwa kamu benar-benar sudah dewasa. Banyaknya masalah dan ujian hidup sepertinya berhasil menempa kamu menjadi seorang istri dan ibu yang baik.


Sekarang ibu benar-benar tidak khawatir lagi dan sudah tenang melepaskan kamu sebab ibu yakin kamu bisa bersikap dewasa dalan hdiup ini."


"Astagfirullah, ibu mau bicara apa? Aku benar-benar merinding."


"Ibu belum menyampaikan salam perpisahan!" ibu kembali mendengus kesal, sementara aku terkekeh. "Di, apakah egois jika ibu sekarang mulai memikirkan diri sendiri? Apakah berlebihan jika ibu juga ingin bahagia seperti orang lain?"

__ADS_1


"Ya tentu saja tidak. Ibu mau apa? Katakan, akan aku penuhi permintaan ibu."


Benarkah?"


"Ya Bu. Masak ibu nggak percaya dengan perkataan ku. Ibu mau apa? Katakanlah."


"Ibu ingin menikah Di."


"Astagfirullah ...." aku terkejut. Segelas teh yang baru kuseruput langsung terhambur. Untung saja tidak kena siapapun. "Maksudnya apa Bu? Menikah bagaimana? Aku benar-benar tidak paham!"


"Diandra ... seumur hidup ibu kan belum pernah menikah. Sekarang, setelah ibu yakin kamu baik-baik saja, ibu ingin menikah. Memulai kehidupan baru tanpa khawatir lagi dengan hidup kamu dan keluarga kecilmu."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Memang ibu mau menikah dengan siapa?" kepalaku mendadak pusing memikirkan perkataan ibu barusan. Kenapa baru menyatakan ingin menikah di usia yang sudah tidak muda, kenapa tidak sejak dahulu saat aku masih kecil. Bukankah dulu juga sudah banyak pria-pria yang mengajak ibu menikah. Tapi kenapa sekarang?


"Di, ibu ingin menikah dengan ayahnya Hana!"


"Apa?" keningku makin pusing, rasanya cenut-cenut. Kenapa harus dengan ayahnya mbak Hana?


"Kamu mengizinkan ibu kan Di?" ibu menatapku penuh harap. Sementara aku tak tahu harus bicara apa. Bagaimana tidak pusing kalau ibu ingin menikah dengan ayah mbak Hana, kira-kira bagaimana tanggapan mbak Hana. Apakah ia bisa menerima mengingat mbak Hana begitu menyayangi almarhum ibunya.


"Tapi kenapa harus dengan ayahnya mbak Hana? Sejak kapan ibu dan ayahnya mbak Hana menjalin hubungan?" aku mulai mengintrogasi. Khawatir kalau-kalau ada hubungan terlarang ketika dahulu ayahnya mbak Hana menolong ibu. Jujur aku takut, tapi juga ragu sebab aku tahu ibu adalah tipe perempuan yang menjaga diri meski banyak orang-orang di luaran sana merendahkan dirinya sebab statusnya yang tidak memiliki suami.


"Ibu sendiri kapan suka sama pak Rudi?"


"Ya sepekan lalu. Tapi kalau kagum sudah lama. Tapi benar-benar kagum biasa saja bukan sampai berpikir lebih. Bener deh, kamu percaya ibu kan?"


"Tapi bagaimana dengan mbak Hana? Apa mbak Hana sudah tahu?"


"Belum.. sekarang ayahnya sedang bicara dengan Hana."


"Astagfirullah. Ibu dan pak Rudi sedang mengatur siasat? Ada persekongkolan antara ibu dan pak Rudi."


"Di, apa salahnya. Ibu juga ingin merasakan kebahagiaan."


"Berarti selama ini ibu nggak bahagia?"


"Ya bahagia, tapi ...."

__ADS_1


"Terserah mbak Hana saja."


"Maksudnya?"


"Ya kalau mbak Hana setuju, aku ikut saja."


"Kalau begitu sana kamu tanyakan Hana."


"Kok ibu malah nyuruh aku?"


"Kamu kan anak ibu, apa salahnya jika ibu menyuruh kamu." persis seperti gadis ABG, ibu mendorong punggungku pelan agar segera ke rumah sebelah. Tapi aku harus bicara apa?


Langkah ini rasanya berat sekali. Apalagi saat melihat mbak Hana keluar rumah. Ia melambaikan tangannya ke arahku, sambil berjalan pelan dengan senyum terkembang.


Apa ayahnya sudah berbicara dengan mbak Hana? Lalu apakah mbak Hana setuju? Kira-kira senyum itu akan awet tidak ya jika aku memberi tahu mbak Hana tentang rencana ibu dan ayahnya.


Ahh, kenapa semua jadi ribet sekali?


Kepalaku makin berdenyut, membayangkan jawaban mbak Hana.


"Diandra!" Mbak Hana menepuk pelan pundakku. "Apa kamu mau jadi saudariku?"


"Hah?" aku melongo, tak percaya dengan pendengaran sendiri.


"Iya. Kamu dan aku akan jadi saudari!"


"Jadi mbak Hana setuju?"


"Iyalah. Kamu setuju juga, kan?"


"O, pasti!" Aku terkekeh, sementara mbak Hana tertawaan kecil sambil memegang perutnya.


"Lucu ya Di."


"Apanya yang lucu, mbak?"


"Ya kita. Pertemuan kita ternyata banyak hikmahnya. Akhirnya aku dan kamu benar-benar akan jadi saudara. Senang sekali aku Di!" Mbak Hana tersenyum sambil memelukku.

__ADS_1


Alhamdulillah. Aku ikut tersenyum. Bersyukur, ada kebahagiaan yang pelan-pelan kudapat setelah proses ujian yang sempat menguras emosi.


__ADS_2